Mendengar itu menyembuhkan. Yah, itu saya dapatkan dalam sebuah buku berjudul “Menciptakan Anak-Anak Bahagia, Petunjuk Bagi Orang Tua”, karya Steve Biddulph seorang terapis keluarga. Kebanyakan manusia senang didengarkan, tapi sedikit yang mengerti bagaimana menjadi pendengar yang baik. Padahal Allah menciptakan sepasang telinga sebagai simbol bahwa kita harus dua kali lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. Sedang anak hadir di dunia dengan permasalahan mereka sendiri yang membutuhkan orang yang lebih dewasa untuk memahami mereka.

Menjadi Orang tua memang tak mudah, terkadang kita ingin jadi pendengar yang baik untuk anak, namun cara kita seperti seorang penyidik menginterogasi penjahat. Kurang ilmu, tanpa pengalaman, over protected, jangan heran di usia remaja mereka lebih senang curhat dengan sahabat yang belum tentu memberi solusi yang baik untuk hidup mereka daripada kita orangtuanya. Berdasarkan pengalaman Steve Biddulph ketika menghadapi beberapa orangtua yang berkonsultasi padanya, ada tiga cara yang dilakukan orangtua dalam menanggapi permasalahan anak yang tidak menyelesaikan masalah..

 

  1. Melindungi. Yah, namanya juga orangtua, naluri melindunginya pasti besar untuk anaknya. Jangankan manusia, seekor induk ayam jika mendapati anaknya diganggu, pasti akan marah dan mengejar kita (hehehe..yang ini pengalaman pribadi..duh, keseriusan saya mulai terusik..*peace). Apalagi kita, ketika sang anak datang mengadukan kelakuan buruk temannya, alih-alih orangtua membantunya menyelesaikan masalah kecilnya, malah ada yang langsung turun gunung menjewer teman sepermainan sang anak, hingga menyebabkan permasalahan meluas bahkan hingga tingkat RW…(tuh, kan saya mulai lebay…–,–‘)
  2.  Mengkuliahi. Kalau ini sudah jatuh tertimpa tangga pula…Kasian ya sang anak, ketika pulang sekolah, sudah dibully eh, malah dikuliahi orangtuanya..”makanya lawan,dong. Kamu ini gimana,sih..bla..bla..bla…” Atau mereka pulang sekolah dengan sedih karena nilai jeblok, orangtua malah ngomel, “Makanya, belajar yang rajin, kamu main melulu, sih…bla..bla…bla…”
  3. Mengalihkan perhatian. Dulu, sebelum saya mengenal parenting, ketika batita kecil saya jatuh,lalu nangis, atau nangis minta sesuatu yang sebenarnya tak boleh untuknya, saya akan mengalihkan perhatiannya dengan membawanya melihat cicak…Tangis mereka kadang tak berhenti, tapi minimal mereka lupa tadi itu nangis karena apa, yah…hehehehe…JANGAN DITIRU!

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orangtua pendengar yang baik??? Saya simpulkan dari bukunya Steve aja,yah…sekalian sambil belajar dari apa yang saya tulis, nih..ditambah sedikit pengalaman mengikuti sekolah parenting Auladi Parenting School milik Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, dan sedikiiit pengalaman menjadi teman curhat Faris.anak pertama kami..Mari tarik nafas yang panjang dulu bersama saya…..lalu tanamkan pada diri kita bahwa kita akan menjadi teman curhat yang baik untuk anak-anak kita…sudah???..Yuuuk…

  1.  Identifikasi Masalah alias kenali masalah sang anak, Ada masalah yang bisa anak sendiri yang menyelesaikannya setelah bertukar pikiran dengan orangtua, ada juga masalah yang harus orangtua yang turun tangan. Misalnya, seperti anak saya Faris yang ketika ikutan ekskul gambar di sekolahnya, gambarnya malah dilecehkan guru gambarnya dan langsung dibilangi jelek..akhirnya Faris bercerita pada saya dengan sedih, padahal menurut dia sang guru meminta semua murid cepat-cepat meyelesaikan gambarnya..jadi gambar Faris jadi jelek, deh karena buru-buru cepat selesai… Setelah membesarkan hati Faris yang menciut, saya sampaikan kelakuan sang guru pada ibu kepsek…meski akhirnya tak begitu memuaskan saya, sang guru tak diganti…dengan alasan terikat kontrak dan meminta kami memaklumi…Grrrrrrrgh..!!!! (Eh, kok ini jadi curcol…hehehe)
  2. Bahasa Tubuh. Hentikan semua aktivitas ketika diajak curhat anak, jangan sambil menyetrika, memasak, online di internet, baca buku, ngulek sambel…dsb. Posisi tubuh berhadapan dan sejajar dengan mereka, kontak mata, dan sesekali merespon dengan respon yang wajar..dibumbui ekspresi terkejut juga gak apa, tergantung tentang apa curhatnya…
  3.  Jangan buru-buru menghakimi. “Kamu,sih..”, “Kan, sudah mama bilang…”, “Dasar kamu memang anaknya begitu!”…Tanpa sadar orangtua membuat anak menjadi menyesal, mengapa tadi curhatnya sama mama, yaa..kalau ujung-ujungnya tetap disalahkan juga. Menangkap basah anak berbohong misalnya, tentu bisa diselesaikan dengan bijak…Rasulullah pernah dibohongi seorang anak muda,ketika sang pemuda ditanyai mengapa meninggalkan Majelis Rasulullah, ia berbohong dengan mengatakan sedang mencari untanya yang lepas. Padahal pemuda ini tertarik melihat kumpulan wanita cantik, hingga ia beranjak meninggalkan majelis Rasulullah untuk melihat mereka. Rasulullah tahu beliau sedang dibohongi, tapi Rasulullah, tidak menghakimi, beliau hanya tersenyum dan selalu bertanya disetiap kesempatan bertemu dengan pemuda itu, “Bagaimana, sudah ketemu untanya?” Sang pemuda semakin merasa bersalah, hingga pada akhirnya mengakui bahwa ia membohongi Rasulullah. Apa reaksi Rasulullah setelah mendapatkan pengakuan, ia tersenyum, memaafkan, dan tidak memperpanjang masalah lagi. Aaah..saya akan selalu belajar dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam…
  4. Pancing ia bercerita dengan bijak, dari ikutan sekolah parenting tiga tahun lalu kami mendapatkan bahwa hindari menginterogasi, anak kita bukan koruptor bukan? Kita pun, bukan penyidik KPK….”Anak ummi kok kelihatan sedih…” “Eh, tadi ummi dengar teman kamu punya pacar, ya? (*dengan mata berbinar-binar)..” Be creative, lah..tuk membuat mereka mau bercerita…akhiri dengan cinta…”menurut kamu pacaran itu, baik nggak?” Atau “Ummi, ikut sedih kamu diperlakukan seperti itu, teman kamu tak tahu bahwa kamu tidak bodoh, bahkan lebih cerdas darinya?”…Dijamin anak akan merasa nyaman curhat pada kita, bukan pada yang lain 
  5. Sediakan waktu untuk mereka. Saya kutip di status facebook Yuk, Jadi Orangtua Shalih, “Remaja juga butuh waktu kita, orangtuanya. Menyaksikan pentas mereka, menemani mereka nonton di stadion, camping bareng, mancing bareng, dinner/lunch bareng, curhat di kasur sebelum/sesudah tidur, cooking time untuk melatih keterampilan rumah tangga mereka, dan lainnya adalah berharga yg akan jd kenangan indah mereka ketika kita meninggalkan dunia. Remaja yg dekat emosi dengan orangtuanya, akan malu dan kecewa jika mereka berperilaku buruk karena mereka membuat kecewa orangtuanya. “ (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari)

Sekian dulu….Bahwa mendengar itu anugerah..bukan hanya menjadi pendengar yang baik, tapi bagaimana dengan mendengarkan “menyembuhkan” masalah sang anak..Semoga manfaat, bukan untuk pembaca saja, terpenting untuk saya pribadi sebagai orangtua…karena berteori kemudian berpraktek lalu beristoqomah dalam keadaan apapun itu tidak mudah, tapi juga tidak sulit jika kita mau selalu memperbaiki diri..Right??? 🙂 salam.

Sumber tulisan :
– “Menciptakan Anak-anak Bahagia”, Steve Biddulph, Penerbit Mitra Utama, 2001, Jakarta.
FB Yuk, Jadi Orangtua Shalih