“Siapa yang mengurung kucing ini?!” Selidikku pada dua keponakan.  Dua-duanya diam.  Sebenarnya aku hapal  karakter mereka. Beberapa kali kedapatan  mengurung kucing di gudang.

“Bukan aku yang mengurungnya, tapi si Bibik,” tuduhnya pada pembantu. Sebuah jawaban yang berarti dia tidak bersedia mengeluarkan kucing itu.

Aku segera mengambil kunci gudang. Para keponakan mengikutiku di belakang. Ternyata kucing kecil itu sudah ada di jendela kaca. Aku melihat bentuk penderitaan pada ekspresi wajahnya.

Ketika pintu dibuka, kucing itu tidak bereaksi segera. Keponakanku kemudian mengusiknya dengan lidi. Akhirnya kucing itu turun keluar.

Besoknya keponakanku bercerita dengan antusias.  Katanya kucing itu sakit dan buta. Ia ditinggalkan begitu saja oleh ibunya.  Tapi  aku tak peduli. Aku kurang suka kucing  dan itu juga bukan kucingku.

Di rumah anakku menyambutku dengan ceritanya. Tentang seekor kucing sakit yang datang. Terlihat lapar. Mengeong-ngeong terus. Tapi ia tak punya sedikitpun lauk untuk memberinya makan. Anakku terpaksa mengorek-ngorek tong sampah untuk mencari tulang ayam yang tersisa. Tentu saja ia tak menemukannya. Sampah kemarin sudah kubuang semuanya.

“Kenapa mama tidak masak ayam hari ini?” Ia malah mempertanyakan menu harianku.

“Bosan, untuk satu minggu ini kita harus makan sayuran. Gusi mama mulai sariawan!” Jawabku.

“Besok masak ayam  lagi ya. Manatahu kucing itu kembali,” pinta anakku.

“Iya,” jawabku asal saja.

Di perjalanan menuju tempat kerja, rasa kasihanku berkepanjangan. Kutekadkan besok akan ke pasar dan membeli ikan untuknya. Aku tidak mau menjadi bagian dari daftar orang kejam yang tega membiarkan binatang mati kelaparan.

Besoknya, aku lihat ia tidur di depan halaman rumah adikku. Tubuhnya demikian lemah. Luka-lukanya terlihat bertambah. Suaranya sangat jarang kedengaran. Gerakannya juga tak banyak dilakukan.

Aku mengamatinya dalam diam. Ada terbersit perasaan berdosa. Sampai detik aku melihatnya, aku belum juga memberikan makanan. Besok saja, pikirku. Hari ini aku malas ke pasar. Keburu panas. Beberapa alasan kubuat untuk diriku sendiri.

“Mana ikannya, katanya mama mau ke pasar?” Tanya anakku setengah protes.

Aku diam.

“Kasihan, kupingnya luka parah. Aneh, kok bisa sekering itu ya, Ma.”

“Mama sudah lihat,” gumamku. Kemudian asyik membaca novel di rumah. Lupa akan kucing itu. Lupa akan janji pada diri sendiri.

Sorenya ada yang berteriak.

“Ada kucing mati! Ada kucing mati!”

Ternyata mamaku yang berteriak.

Aku menghempaskan novelku. Berlari ke halaman rumah adikku. Masya Allah, kucing itu benar sudah mati!

Perasaan bersalah mengejarku setiap hari. Dimulai setelah kucing itu dikuburkan.

Segera aku meminta maaf kepada Rab-ku.

“Maafkan aku ya Allah, aku  lalai, dengan  tidak mencintainya sepenuh hati.”