Penulis: Binta Almamba

Fenomena jejaring sosial yang pada masa sekarang sudah mewabah ke segala lapisan masyarakat. Terkadang menghadirkan cerita-cerita mengejutkan tentang pertemuan dengan orang-orang dari masa lalu.

Katakanlah di area Facebook. Banyak sekali cerita dari teman-teman bahwa mereka baru saja ketemu mantan pacar, mantan ta’arufan atau yang sekedar mantan orang yang dulu pernah ditaksir saat remaja. Selanjutnya apa? Bisa jadi dengan alasan ingin tahu kabar mereka sekarang bagaimana, maka jadilah saling sapa chating, YM dan lain-lain fasilitias internet yang semakin canggih dan mudah. Sehingga pertemuan maya menjadi semakin intens dalam bincang dan obrolan yang terkadang berbelok-belok ke topik masa lalu.

“Panas dingin rasa hati ini..” curhat seorang teman Facebook pada sebuah grup ibu-ibu yang belajar menulis. Ketika dia bertemu dengan mantan yang dulu pernah ada rasa sayang. Dan tanpa disangka juga memancing curhat colongan banyak ibu-ibu tentang fenomena CLBK dunia maya itu. Sebagian ada yang berhasil menetralisir perasaan dan berpikir jernih tentang keluarga. Namun ada juga yang mengaku selalu teringat-ingat disiksa perasaan pada mantannya.

Belum lagi jika bertemu dengan gebetan, dalam arti seseorang yang pernah disayang namun tak pernah tahu apakah orang tersebut juga mempunyai rasa yang sama. Terkadang ingin sekali mencari informasi tentang orang tersebut. Bagaimana kehidupan dia sekarang? Dan seterusnya dan lain sebagainya.

Memangnya mau apa jika sudah tahu perasaan dia di masa lalu. Toh sekarang keadaannya masing-masing sudah berkeluarga dan beranak pinak. Apa berharap waktu bisa diputar ulang dan takdir diganti begitu?

Dan, bukan tidak mungkin jika berawal dari sekedar pertemuan di layar maya bisa menggelorakan lagi rasa yang dulu pernah ada. Kemudian mulai membandingkan dengan pasangan nyata yang ada disamping kita. Bukan mustahil juga jika ada yang nekat melanjutkan hubungan dalam wilayah offlen. Dengan tukar nomor hape, janji ketemu dan berlanjut dengan keretakan rumah tangga yang jika diumpamakan seperti bom yang tinggal menunggu waktu saja untuk meledak dan hancur.

Sesungguhnya gelora rasa yang terbangun itu pastinya mempunyai garis awal. Sebuah start yang bisa dihindari jika kita mau berusaha. Api yang besar seyogyanya juga berawal dari percikan kecil. Jiwa venus perempuan terkadang memang lemah karena kata-kata manis dan suasana roamantis. Ketika pertemuan saling sapa dan bincang di dunia maya sudah berbelok-belok ke masa lalu, sesungguhnya itu sudah menjadi peringatan dini untuk menjaga hati, untuk segera mengantisipasi munculnya benih-benih yang tak patut bersemi. Sesungguhnya Allah lah yang berkuasa untuk membolak-balik perasaan namun jika kita membiarkan diri tenggelam dalam perasaan cinta yang haram tanpa perjuangan untuk kembali ke koridor yang lurus, maka bisa jadi kita menjadi orang yang rugi. Rugi dunia dan akhirat. Astaghfirullah…

Akhirul kalam. Bagi saya facebook sudah membuka jalan saya untuk hoby menulis dan berkarya pena. Menemukan teman-teman yang menyemangati dan juga info-info lomba dan peluang tentang menulis. Namun tak dapat dipungkiri bahwa jejaring sosial itu tetap saja menjadi pisau bermata dua yang jika tidak disikiapi secara bijak maka akan menjebak kita pada jalan yang abu-abu bahkan juga hitam. Na’udzubillah min dzalik.

***