Penulis: Cholida Rizkina

 

@Farah_cute: uang $500 ku hilang *sigh* #IhateMonday.

1 hour via Twitter from iPhone

Farah memandang hand phone yang digenggamnya dengan tatapan tajam. Seolah-olah benda ini penyebab uangnya hilang. Kebiasaan buruk Farah dalam kondisi emosi adalah mengetuk-ngetuk, melempar ke kasur hand phone-nya. Kali ini ia ingin membanting benda yang dibeli dengan mencicil selama 1 tahun. Farah juga heran kenapa ia harus membeli hand phone yang super mahal ini. Ia merasa harus membelinya karena hampir semua teman di kantor memilikinya. Timeline di Twitter penuh dengan komentar teman-teman terhadap tweets yang baru saja ia tulis. Ada yang berkomentar; ‘wah banyak banget duitnya’, ‘kecil lah duit segitu’, ‘kurang amal tuh’. Semua komentar-komentar itu tentu saja tidak berhasil menghibur dirinya.

 

Layar handphone menampilkan nama: ‘Freaking Nut’. Duh ….

“Good morning Sean.”

“Where are you?, kita sudah menunggu kamu. Meeting 5 menit lagi dimulai,” jawab Sean Farris.

“Maaf, saya terjebak macet, saya masih di bis,” kata Farah gugup.

“Ok, meeting kita undur. Saya tunggu 1 jam lagi,” sahut Sean Farris tegas.

Belum sempat Farah mengucapkan terima kasih, hubungan telepon sudah terputus. Farah merasa perutnya mulas, lambungnya terasa mendesak ke atas siap untuk meledak.

 

Sudah dua jam perjalanan yang ia tempuh dari rumahnya di daerah Serpong menuju kantornya di daerah Sudirman. Dua jam pula ia mendengar supir yang terus menerus mengomel, karena pengemudi motor dan metro mini yang tidak becus. Dua jam pula Farah mendengar gerutuan penumpang bis di bangku belakang mengkritisi program pemerintah. Belum lagi penumpang di bangku samping dua orang wanita berusia sekitar 30-an tahun membahas gosip vocalis laki-laki yang namanya dan prestasinya tak pernah sedikitpun Farah dengar. Penderitaan Farah bertambah, karena penumpang pria dibangku sebelah tertidur dan kepalanya berulang kali menyentuh bahu bagian kanan. Berulang kali pula, Farah terpaksa mendorong bahunya, berharap kepala pria di sampingnya kembali tegak. Walaupun bis yang ditumpanginya dilengkapi dengan pendingin, Farah merasa naik metro mini, bahkan lebih parah tanpa angin di dalam bis.

 

Setiap pagi, Farah selalu melihat Ekspresi orang-orang di sekitar yang sama. Seperti bermain di film yang sama, hanya tokohnya berganti-ganti. Siapa yang ingin ambil bagian dalam film yang itu-itu saja dan melakukannya berulang kali? Tak seorang aktor atau aktris pun yang mau. Dan Farah merasa melakukannya.

 

Sesampai di kantor, teman-teman di brand team sudah hadir semua tetapi suasana sepi yang terdengar hanya ketukan di keyboard komputer. Bahkan teman dekatnya Intan dan Cika sedang sibuk menghadap ke layar komputer. Mereka sedikitpun tidak menoleh, walaupun Farah melewati cubicle mereka. Sedikit suara tawa dan beberapa orang sibuk berbincang terdengar dari arah cubicle Anjani, management trainee yang baru 6 bulan bergabung dengan perusahaan minuman ringan ini. Cubiclenya selalu dikunjungi rekan-rekan dari department lain bahkan office boy sering terlihat berkunjung ke cubiclenya. Walaupun Anjani tidak ada di tempat, Ada saja orang yang hanya duduk-duduk saja membaca majalah atau hanya berbincang ringan.

 

“Pagi Kak Farah,” kata Anjani tersenyum sambil mendekati Farah.

“Hmmm…” jawab Farah merasa terganggu dengan kehadiran Anjani.

“Aku baca di Twitter, uang Kak Farah hilang? Tanya Anjani.

“iya, padahal itu uang untuk trip ke Singapore 2 hari lagi.” Tiba-tiba Farah merasa membutuhkan teman curhat.

“Wuih, anak trainee follow senior nih yee…”Tiba-tiba Intan nimbrung dan mendekati cubicle Farah.

“Biar exist tuh…”Cika senyum-senyum usil.

 

Farah memperhatikan wajah Anjani memerah. Cika dan Intan tidak pernah berhenti menggoda dan mengerjai Anjani. Anjani seharusnya diberikan pekerjaan membuat brief, ikut meeting dengan EO, agency, ditugaskan mengerjakan design material promosi. Itu adalah diskripsi pekerjaan yang diberikan Sean Farris untuk Anjani di bawah pengawasan Intan, Cika Dan Farah sebagai brand manager. Tetapi mereka bertiga malah tidak pernah melibatkan Anjani dalam setiap projek penting. Anjani hanya diberi tugas untuk file dokumen, mengatur meeting dan kadang-kadang memesankan makan siang untuk mereka bertiga. Anehnya Anjani hanya tersenyum dan tetap melakukannya dengan semangat.

 

“Kecillah uang US$ 500 buat elu Far,” kata Intan ringan.

“Iya ganti aja pakai uang pribadi, jangan seperti orang susah.” Cika menimpali sambil tertawa, seolah baru saja menonton film terlucu di dunia.

“Iya sih….”kata Farah pelan, sambil berpikir bagaimana mengganti uang perusahaan sedangkan sisa uang di rekeningnya tinggal Rp 1,500,000. Gaji belasan juta yang didapatkannya tiap bulan cepat menipis karena kebiasaan shopping dan hang out di cafe bersama-sama Intan dan Cika. Padahal tanggal gajian masih 15 hari lagi.

 

Mereka berempat kembali ke cubicle masing-masing, setelah Sean Farris, bosnya yang keturunan Italia – Australia, mendekati meja Farah dengan langkah lebar dan segera memborbardir dengan tugas merevisi materi presentasi. Presentasi yang akan berlangsung 45 menit lagi.

 

“Jangan lupa ditambah data sales year to date 2 bulan ke belakang,” perintas Sean tanpa senyum sedikitpun.

“Saya rasa tidak perlu Sean, karena promo yang akan dilakukan masih 3 bulan lagi,” kata Farah berusaha menghindar dari tugas.

“Sudah kerjakan saja, dan kurangi kebiasaan terlambat kamu,” Sean, bos bule yang sangat mahir berbahasa Indonesia berbicara dengan sangat keras sehingga seluruh brand team memandang ke arah Farah.

 

Farah merasa pijakan di bumi hancur, wajahnya memerah, perutnya mulas.Yang lebih parah tak seorang teman dekatnya menghampiri atau menanyakan keadaannya. Dunia seperti tanpa penghuni. Farah seolah-olah hanya ditemani meja, kursi dan cubicle. Farah benar-benar ingin membanting handphonenya berulangkali, tapi ia tak memiliki kekuatan. Matanya berair. Tiba-tiba Farah merasakan ada orang yang mendekatinya, ia berharap itu Intan atau Cika. Ternyata Anjani mendekat dan mengulurkan tissue.

 

“Ini Kak, aku akan bantu mendapatkan data sales dari pak Budi, Kak Farah duduk aja.” Kata Intan.

Farah seperti mendapatkan hembusan angin sejuk di hari yang lembab dan gerah. Ia hanya bisa mengangguk.

“Terima kasih Anjani,” Farah takjub dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya. Tidak pernah sekalipun Farah mengucapkan kata terima kasih pada Anjani. Padahal gadis berusia 5 tahun lebih muda darinya ini selalu ramah dan banyak membantu.

 

Meeting dimulai, Farah mempresentasikan rencana consumer event yang berhubungan dengan sepak bola dan melibatkan anak SMA. Event berskala nasional ini baru pertama kali dilakukan. Tidak heran pertanyaan kritis muncul dari berbagai pihak. Banyak pertanyaan diajukan dari department lain dan juga dari General Manager.

 

Jam swatch di tangan Farah menunjukkan pukul 5 sore.

“Farah, besok kita meeting membahas semua input dari hasil meeting tadi,”kata Sean meningkatkan.

“Ok Sean, saya perbaiki dulu presentasi tadi.”Jawab Sarah gugup.

“Hmmm… Saya meeting dulu, kalau ada perlu apa-apa feel free untuk mendiskusikannya. Saya ada di ruang meeting tehnical department. Kita harus menyelesaikannya sebelum Kamu berangkat ke Singapore,” tambah Sean.

 

Setelah kepergian bosnya, rasanya otak Farah tidak bisa bekerja. Ia ingin segera pulang, mandi, lalu tidur dan melupakan peristiwa hari ini. Tapi tampaknya keinginan pulangpun tidak mudah untuk diwujudkan. Jalanan tampak macet total karena tadi hujan deras. Di Twitter ia membaca tol BSD ditutup karena banjir parah.

“Kak, kenapa bengong? Pulang aja,”tanya Anjani.

“Iya, tapi macet,” jawab Farah sambil menunjuk ke jendela di dekat ruang meeting yang Kosong.

“Gimana kalo nunggu di rumahku?, aku naik motor jadi lumayan tidak terlalu macet. Dari situ kakak naik taksi saja.”Kata Anjani menawarkan bantuan.

 

Setelah dipikir-pikir tawaran Anjani adalah satu-satunya ide yang lebih menyenangkan. Daripada berlama-lama di jalan menghadapi kemacetan. Dan ia sudah tidak memiliki energi untuk bekerja di kantor. Farah tadi menolak ajakan Intan dan Cika untuk hang out di Pacific Place. Melihat kondisi rekeningnya yang tidak bersahabat, ajakan kedua temannya itu bisa membuat dirinya semakin bangkrut.

 

“Ok deh Anjani, let’s go,” kata Farah semangat.

“Nah gitu dong kak, senyum …”kata Anjani tertawa sambil menyodorkan jas hujan Dan helm ke Farah.

 

Bagi Farah, Anjani tidak pernah berhenti memberi kejutan. Sesampai di depan gerbang Rumah Anjani, Farah terbengong-bengong melihat luasnya halaman rumah Anjani. Dari luar terlihat sederhana. Tetapi di bagian dalam terbentang halaman yang luas. Rumah berwarna Serba putih, layaknya rumah klasik jaman Belanda. Terlihat 3 mobil SUV parkir di garasi.

 

“Assalaamu’alaikum kak,”sapa 5 orang berusia sekitar 5 – 7 tahun.

“Walaikumus salam,” balas Farah dan Anjani bersamaan.

Setelah anak-anak itu berlarian ke halaman bagian dalam, Farah bertanya.

“Siapa mereka?”

“Mereka anak-anak panti asuhan milik mamaku, panti asuhannya ada di bagian belakang rumah kami.”Kata Anjani sambil menunjuk rumah berwarna hijau yang terpisah dari rumah tinggal Anjani.

 

Anjani mempersilakan Farah masuk, dan memperkenalkan kepada mama dan adiknya. Kemudian Anjani membawa Farah ke ruang tamu. Mereka menikmati kolak pisang buatan mama Anjani.

 

“Terima kasih Anjani, kamu telah banyak membantu di meeting tadi,” kata Farah sambil menikmati kehangatan kolak pisang.

“Aku tadi takut Kak Farah marah, karena menjawab pertanyaan tentang sales. Itukan project Kak Farah, harusnya aku tidak ikut campur,” kata Anjani masih dengan tersenyum.

“Jangan merasa begitu Anjani. Kamu berhak terlibat dengan projek ini. Seharusnya aku yang minta maaf tidak pernah melibatkanmu dalam projek apapun juga perlakuanku dan teman-temanku tidak pernah ramah.”Kata Farah menyesal.

“Ah lupakan saja, aku mengerti kerjaan di kantor penuh dengan tekanan.”

“Tapi tidak seharusnya aku, Intan dan Cika mem-bullying kamu.”

“Iya sih, aku juga suka heran apa salahku ya? Tapi aku pikir ini proses belajar aku sih kak. Bahwa kerja kantoran tidak semudah yang kita pikirkan,”kata Anjani.

“Memang,” Farah mengangguk setuju.

“Yang penting aku tidak boleh mudah menyerah,”tambah Anjani.

“Iya, by the way, kenapa kamu selalu positif dan ceria sih?” tanya Farah kagum.

“Nggak tahu ya… Tapi aku selalu ingat nasihat mama. Dalam kondisi sesulit apapun kita harus bersyukur dan menghargai hal-hal kecil yang kita terima. Seperti anak panti asuhan yang selalu tersenyum di pagi hari dan menyambutku sehabis pulang kantor seperti tadi. Menurutku mereka lebih tidak beruntung dariku, tapi mereka selalu memberikan senyum seolah-olah tidak ada masalah di dunia ini.

 

Di dalam taksi menuju ke rumah, Farah merenungkan semua pembicaraannya dengan Anjani. Kedua mata Farah, berkaca-kaca. Kapan terakhir kali ia mengucapkan terima kasih pada Allah? Atas semua pemberianNya berupa karir yang bagus di usia 28 tahun? Bekerja di perusahaan multinational? Kesehatan? Bisa membeli barang apapun yang ia mau? Bisa membeli makanan yang ia suka?

 

Alih-alih bersyukur, Farah malah sering ngomel di Twitter. Menggerutu tentang kemacetan, mengkritik iklan di jalan raya yang aneh. Marah sama office boy yang salah membelikan makan siang. Mengomentari semua keputusan bos. Tidak pernah puas dengan hand phone mahal yang dimilikinya. Kebiasaan ini harus dihentikan. Mulai detik ini.

 

@Farah_Cute: alhamdulilah, dalam kondisi macet masih dapat taksi juga.#ILoveMonday

1 second via Twitter for iPhone