rainPenulis: mak Dewi Rahandiani

Paras bergegas menutup laptopnya,dia tidak boleh terlambat datang ke Kafe Chocolate. Kafe itu tidak seberapa jauh, 15 menit berjalan dari kantornya dan jam masih 17.00, masih setengah jam dari janjinya dengan Rupa.

Sambil berjalan, Paras mendesah, “Rupa… kenapa harus datang lagi”..

Rupa yang sudah pergi bertahun tahun, hilang tanpa kabar ketika hubungan mereka berakhir. Lenyap…

Rupa terdiam, dia merasa perutnya mulas. Sengaja dipilihnya meja yang agak tersembunyi, dekat jendela agar dia bisa melihat ketika Paras datang. Paras orang yang dia sayangi dan masih dia sayangi selama bertahun-tahun, bahkan ketika Paras memilih menyerah dan memutuskan berpisah.

Kini mereka duduk berhadapan, terdiam, beku, sedingin udara di luar kafe yang tersiram hujan.

Dibuka dengan percakapan tentang kabar, kesibukan, akhirnya Rupa memulai berbicara..

“Kamu tahu Ras, cinta seperti air hujan, datang kemudian hilang dan apabila sudah waktunya dia datang lagi”

“Iya hujan di musim kemarau, datang lagi setelah sekian lama hilang, waktu itu kamu berjanji tetap mendampingi aku di titik nadir aku, ketika kita berpisah.” Paras menjawab, datar dan dingin.

“Maafkan aku, terlalu berat buatku berpisah denganmu. Aku kehilangan matahari hidupku, aku mencoba mencari matahari lain, tetapi ternyata tidak bisa.” Rupa berkata berat.

“Aku sendirian menghadapi perpisahan waktu itu, duniaku serasa kiamat…kamu kemana?” Paras mendesah tidak sabar

“Aku tahu, maafkan aku.. Tapi kamu masih percaya kan cintaku seperti hujan, dia akan kembali padamu..selalu bermuara padamu.”

“Iya, cintamu seperti hujan, datang…hilang…kemarau,,dan datang lagi. Tapi ada satu yang kamu lupa. Ada pelangi yang setia menunggu hujan reda

Tepat ketika Paras selesai berbicara, pintu kafe terbuka, ada seorang laki-laki masuk menoleh ke kanan dan kiri.Paras bangkit… “Kalau kamu hujan, dia pelangi… “ Paras bergegas menyimpan uang di atas meja dan berlari menghampiri lelaki itu, kemudian keluar dari kafe.

Tinggal Rupa duduk diam… menghabiskan kopi pahitnya…sendiri…

Terinspirasi dari Lagu “Hujan di Bulan Desember” oleh Efek Rumah Kaca