Sepupu saya, Nina (bukan nama sebenarnya), ditanya sama guru bimbelnya…

Guru bimbel : “Nina, cita-cita kamu setelah lulus kuliah mau jadi apa?”
Nina : “Saya mau kerja di bank, Bu.”
Guru bimbel : “Itu aja?”
Nina : “Enggak, kalau udah kerja di bank trus saya mau menikah kalau udah ada jodohnya. Kalau udah menikah, saya mau brenti kerja. Jadi ibu rumah tangga aja.”
Guru bimbel : “Gimana sih kamu! Buat apa sekolah tinggi kalau cuma jadi ibu rumah tangga?”Nina : “Gak apa-apa juga kali, Bu. Kalau sekolah saya tinggi kan ilmunya bisa dipake untuk ngajarin anak-anak saya. Biar mereka lebih pintar dari saya.”

Waktu denger cerita itu dari sepupu, saya cuma tertawa tanpa tersinggung sama sekali. Ngapain juga tersinggung? Cap-cap seperti itu kayaknya sampai kapan pun akan tetap ada. Ibu rumah tangga gak perlu sekolah tinggi, Anak ASI lebih pintar daripada anak yang diberi susu formula, Ibu yang sebenarnya adalah yang melahirkan normal, dan lain sebagainya. Kalau kita terus terbawa emosi karena cap-cap tersebut, yang ada capek hati, Maaaaaakkkk! Hehehe.

Jadi, saya biarin aja. Yang tau kan diri sendiri. Dan menurut saya juga gak ada sesuatu yang sia-sia. Saya walaupun sarjana, gak merasa sia-sia kalau akhirnya menjadi ibu rumah tangga. Tetep ada ilmu yang kepake. Paling gak cara berpikir saya mungkin akan berbeda kalau aja dulu saya sekolah cuma sampai SMA misalnya.

Ya, pokoknya jangan pernah meremehkan pilihan orang lain karena kita kan gak tau kehidupan orang lain itu seperti apa.Β  Jadi, gak apa=apa juga kalau ada ibu rumah tangga yang sekolah tinggi πŸ™‚