Prompt 39

Foto oleh Rinrin Indrianie

Siang itu terik sekali, matahari seakan membakar bumi . Dua orang anak berjalan dengan langkah gontai.  Keringat sudah berlelehan di dahi mereka.

“Kak, tidak ada yang mau memberi kita uang hari ini.”

“Iya, Dik. Mungkin karena suara Kakak jelek karena batuk ini.”

“Enggak, masih bagus kok. “

“Ah, mungkin orang-orang itu takut memberi kita uang. Kita dianggap pengemis, Dik.”

“Kita bukan pengemis, kita ngamen, Kak.”

“Iya. Tapi mungkin menurut mereka, pengemis dan pengamen itu sama.”

Keduanya terdiam sambil tetap melangkah dengan pikiran masing-masing. Di ujung jalan, mereka berhenti. Menatap ke sebuah warung bakso yang ramai pengunjung.

“Kak, warung bakso itu rame banget. Pasti baksonya enak.”

“Kau lapar, Dik?”

Si adik mengangguk pelan, sudah sedari tadi dia memang kelaparan. Sampai siang ini tak ada sedikitpun makanan yang mengisi perutnya. Demikian juga kakaknya.

Mereka menatap orang-orang yang menyantap bakso dengan lahap. Menahan air liur yang hampir menetes.  Akhirnya si kakak memberanikan diri menyapa Pak Salim, penjual bakso itu.

“Pak, boleh kita minta baksonya?”

“Berapa uang yang kalian punya?”

“Tidak ada, Pak.”

“Tidak ada uang, tidak ada bakso.”

“Kami lapar, Pak. Mulai pagi belum makan. Kami bisa bantu-bantu di sini, nggak usah dibayar, asal dapat semangkok bakso.”

Pak Salim menatap kedua bocah di depannya, terbersit sedikit rasa iba di hatinya.

“Ini semangkok bakso buat kalian. Makan di belakang saja, biar tidak mengganggu pengunjung lain. Setelah makan, kalian bisa bantu-bantu di sini sejam dua jam. Bapak memang lagi kerepotan kalau jam makan siang rame seperti ini. Nanti sebelum pulang kalian akan Bapak beri semangkok bakso lagi.”

“Terima kasih banyak, Pak.”

Kedua bocah itu berteriak girang, sedetik kemudian mereka mulai menikmati semangkok bakso yang diberikan oleh Pak Salim. Memakannya bersama-sama.

“Enak ya, Kak.”

“Iya, Dik. Kita harus bersyukur bisa mendapat rejeki siang ini.”

“Pak Salim bilang, kita akan mendapat semangkok bakso lagi setelah bantu-bantu di sini.”

“Iya. Kita bungkus saja nanti baksonya, buat Ibu di rumah.”

“Pasti Ibu senang. Siapa tau setelah makan bakso nanti, Ibu akan sembuh dari sakit.”

“Semoga saja, Dik. Kalau Ibu sembuh, kita nggak usah ngamen lagi.”

“Iya, kita bisa jualan pisang goreng buatan Ibu.”

Keduanya saling pandang dan tersenyum, lalu meneruskan memakan bakso dengan lahap dan hati gembira. Sambil berharap, semoga dengan bakso yang nanti akan mereka bawa pulang, sang Ibu akan sembuh. Sebuah harapan yang sederhana di hati sang anak untuk ibu tercinta.

***