Akhir-akhir ini berita tentang pelecehan seksual marak diberitakan di surat kabar ataupun televisi. Setelah kejadian di JIS, mulai bermunculan juga berita pemerkosaan dan pelecehan seksual serupa. Ada guru yang melecehkan muridnya bahkan ayah kandung tega melakukan perkosaan kepada anak kandungnya.  Sungguh miris dan ngeri sekali melihat dan membaca berita-berita seperti itu.  Apalagi yang dilecehkan adalah anak-anak yang masih kecil dan berusia balita, yang masih belum mengerti apa-apa. Membayangkan trauma yang dihadapi sang anak membuatku ikut menangis.

Anakku saja pernah mengalami kejadian terkunci sendirian di kamar mandi saat belum berumur 3 tahun. Kejadian kedua, saat di rumah neneknya dia terkunci lagi (tapi berdua denganku ) di kamar tidur karena entah kenapa, pintu tiba-tiba saja rusak dan tidak bisa dibuka. Sejak kejadian itu, saat mau tidur dia selalu meminta pintu kamar untuk dibuka dan lampu harus selalu menyala. Butuh waktu setahun lebih untuk membuatnya normal kembali.

Kejadian seperti ini saja sudah bisa membuat ketakutan di hati anak, apalagi kasus pelecehan seksual, pasti trauma yang ditimbulkannya lebih berat lagi. Sebagai orangtua tentu cemas melihat situasi yang rasanya serba tidak aman sekarang ini. Di rumah, anak mungkin bisa diawasi, tetapi jika sudah berada di luar seperti sekolah, orang tua tentu tidak bisa selalu berada di dekat anak.

Anak terkadang menyembunyikan kejadian yang dialaminya, tidak mau dan takut untuk menceritakannya pada orang tua.  Orang tua lah yang harus jeli mengamati sekecil apapun perubahan yang terjadi pada anaknya.

Dalam tabloid Nakita edisi khusus yang kubeli th 2004, kubaca ada beberapa point untuk mendeteksi adanya PSS ( Perlakuan Salah Secara Seksual ).  Dibawah ini adalah kutipan langsung dari sumber yang kubaca : Nakita, edisi khusus “Mendidik Anak Lelaki dan Perempuan” di hal. 43 artikel : Dampak & Penanganan Korban PSS

Mendeteksi Adanya PSS

Inilah beberapa gejala yang penting dicermati!

1. Gejala Regresi

Amati, apakah anak memperlihatkan gejala regresi dalam kehidupannya sehari-hari. Regresi merupakan suatu bentuk kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya. Biasanya, kondisi ini muncul karena anak mengalami pengalaman kurang menyenangkan bahkan traumatis. Misal, anak yang tadinya gampang disuruh tidur, kini malah selalu menangis menjerit-jerit sambil meronta-ronta saat lampu kamarnya diredupkan/dimatikan. Usut punya usut ternyata si pelaku pernah “melecehkan” anak di kamar yang gelap.

2. Takut Berlebihan

Muncul ketakutan berlebihan pada benda-benda tertentu atau orang asing/orang yang baru dikenalnya. Kekerasan yang pernah dialaminya membuat si anak takut menghadapi benda atau orang tersebut. Anak-anak yang mendapat perlakuan seks tak senonoh dengan benda tertentu, akan ketakutan bila melihat benda tersebut.

Waspadai pula bila anak berubah takut pada orang yang sudah dikenalnya dan intensitas penolakan anak terhadap orang itu cukup sering. Misal, setiap kali melihat orang tersebut, si Upik merasa tak senang, merasa takut, selalu harus berlindung pada orang tua. Nah, orang tua harus cukup peka dengan sinyal-sinyal yang diberikan anak ini. Jangan lupa, orang-orang yang sering melakukan PSS berasal dari lingkungan terdekat.

3. Bukti Fisik

Bukti Fisik yang bisa terlihat seperti luka memar, luka gores, bengkak atau lebam di daerah kemaluan. Perhatikan apakah anak mengeluh seperti merasa sakit di daerah kemaluan dan sebagainya atau anak mengeluh saat buang air kecil / besar.

Nah, itulah beberapa gejala yang penting untuk dicermati, semoga share ini bisa bermanfaat. Doa kita semua untuk anak-anak kita, smoga tidak akan pernah mengalami kejadian seperti ini. Amin.