Kami sekeluarga hobi jalan-jalan. Dari semenjak anak-anak masih pitik, saya dan suami sudah geret-geret mereka untuk traveling. Dimulai dengan mengunjungi tempat yang bisa ditempuh pulang-pergi dalam satu hari, hingga akhirnya ke destinasi yang lebih jauh. Walau menyenangkan, bukan tanpa resiko lho ngajak anak-anak bepergian jauh. Terutama yang terkait dengan kesehatannya.

Dimulai dari perjalanan panjang yang menguras daya tahan tubuh. Jangankan anak-anak, kita aja orang tuanya, bisa kelelahan juga, ‘kan ? Belum lagi rasa bosan yang ditimbulkan karena duduk lama dalam kendaraan, ternyata juga memberikan kontirbusi pada rasa lelah. Untuk sebagian orang, duduk diam dalam kendaraan malah bikin sakit kepala.

Selain kelelahan, perbedaan suhu udara ekstrem baik di tempat tujuan atau selama perjalanan, juga berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh. Yang ini, saya banget, Mak. Ga usah jalan jauh. Dalam aktivitas sehari-hari pun jika mengharuskan saya bolak-balik outdoor-indoor, bisa dipastikan kepala bakalan cenat-cenut. Terkena semburan hawa dingin dari AC lalu sesudahnya terpapar panas terik matahari, sukses bikin kepala saya pusing gak karuan. Sama kasusnya kalau traveling; disemprot AC mobil padahal temperatur di luar kendaraan, hot to the max !

Perubahan biological clock selama liburan juga perlu diperhatikan. Seperti anak saya yang bungsu, paling ga bisa kalo telat makan. Lewat sedikit dari jam makan normalnya, dia udah rewel kelaparan. Padahal jika dalam perjalanan, kondisinya ‘kan relatif tidak ideal. Sudah tiba waktu makan kadang kita masih di jalan. Jenis makanan yang tidak sesuai selera juga bisa jadi pemicu. Alhasil perut kosong atau tidak maksimal terisi, sedangkan energi yang dikeluarkan banyak. Kalau udah gitu, alamat masuk angin; badan terasa tak nyaman. Efeknya bisa pusing sampai panas dingin.

Itu baru cerita selama perjalanan. Ketika sudah tiba di tempat tujuan, ceritanya beda lagi. Dari pengalaman yang lalu-lalu nih, jika sudah sampai di lokasi, energi anak-anak langsung mencapai titik tertinggi, Mak ! Saking semangatnya, mereka ga merasa kalau badannya lelah. Bawaannya mau jalan-jalan terus, ga berhenti bergerak, lebih-lebih jika di tempat penginapan ada fasilitas kolam berenang. Secara anak-anak senengnya berenang, bawaannya mau berendam terus, ngga perduli kalo jari tangan sudah keriput dan memucat karena kedinginan.

Suka ajaib lihat stamina mereka bergerak seperti itu tanpa kenal lelah. Hal-hal seperti ini ujung-ujungnya bisa bikin suhu tubuh jadi ga stabil, naik-turun alias demam. Ga enak banget ‘kan liburan tapi badan tidak terasa sehat. Macem-macem keluhannya; mulai dari pusing hingga demam.

Mengantisipasi hal-hal itu, selain menyediakan air mineral berikut makanan atau cemilan sebagai teman perjalanan, dan merancang itinerary yang aktivitasnya tidak terlalu heboh untuk kami sekeluarga, maka yang tidak boleh ketinggalan adalah obat-obatan. Mulai dari minyak kayu putih, minyak tawon, obat anti mabok perjalanan, obat turun panas, aspirin, obat pusing dewasa, obat flu, pembalut luka, sampai obat sakit perut. Untuk obat berupa tablet, saya cukupkan masing-masing bawa satu strip. Untuk obat cair, bawa versi botol kecilnya.

Saya pisahkan tablet dan obat cair. Untuk obat cair, saya masukkan dulu dalam kantong plastik kecil, pencegahan jika tutupnya longgar dan isinya tumpah. Tak lupa, saya bawa juga krim tegang otot. Kalau yang ini khusus untuk supir tercinta alias bapaknya anak-anak ^_^. Maklum, bapak supir suka mengeluh pegal-pegal sehabis bawa kendaraan jarak jauh. Setelah semua terbungkus rapi, baru dimasukkan dalam kantong khusus. Rempong ? Pastinya. Biarpun sudah diakalin bawa seperlunya tapi tetep aja, variannya banyak.

Namun kelihatannya liburan yang akan datang, kerempongan saya dengan obat-obat bisa ditanggulangi oleh yang satu ini deh; Rohto Fever Patch, yaitu plester kompres pertolongan pertama untuk demam yang praktis dan cepat menurunkan panas si kecil. Walaupun sudah disenjatai oleh berbagai jenis obat, tapi saya merasa perlu punya plester kompres ini sebagai teman baru dalam traveling kami.

Rohto Fever Patch

Tidak sengaja saya lihat kotak birunya di salah satu rak swalayan bagian obat-obatan. Waktu baca di bagian depan kemasan bahwa Rohto Fever Patch adalah plester kompres, saya agak kaget juga. Lho, ada ya ? Karena yang saya tahu, merek ini terkenal dengan obat tetes matanya. Udah exist dari jaman saya kecil dulu.

Plester demam yang cepat mendinginkan ini aman digunakan bersama obat dan tidak mengakibatkan efek samping. Walaupun memiliki daya lekat kuat namun Rohto Fever Patch lembut di kulit. Jadi aman digunakan tidak hanya untuk si kecil, juga untuk seluruh anggota keluarga.

Menariknya lagi, selain bekerja cepat menurunkan panas tinggi pada si kecil, rasa dingin si fever patch yang tahan hingga 10 jam ini bisa dipakai juga untuk mengatasi sakit gigi, pusing serta tegang otot. Ouww, cucok banget masuk dalam medicine list bepergian kami, bisa jadi solusi praktis, nih ! Ekonomis lagi, karena dalam 1 sachetnya berisi 2 plester demam. Udah pasti saya beli dong !

Rohto Fever Patch