Judul di atas bukan judul cerpen. Bukan cerita rekaan yang akan mendorong pembacanya mikir, siapa yang masih menghabiskan sore di taman kota?

Ini benar-benar terjadi, pada suatu hari Minggu yang kosong, kami memilih menghabiskan sore di sebuah taman di tengah jalan yang ramai. Kami pasangan yang sudah nyaris khatam dengan taman-taman terkenal di ibukota, terutama di pagi hari. Namun, untuk bercengkrama di taman pada waktu sore, hari Minggu yang kosong itu adalah yang pertama.

Rupanya, taman kota yang tadinya tersembunyi itu sedang berbenah. Wajahnya yang rimbun kini dapat terlihat jelas dari jalan raya. Saya nyaris nggak mengenali muka barunya. Ubin keramik memenuhi sebagian dari taman, menghasilkan sebuah plaza yang nyaman untuk diduduki sembari mengobrol, membaca, menggambar, atau makan.

Suara tertawa dan teriakan bahagia terdengar dari salah satu sudut. Anak-anak mengerubungi area bermain kecil yang berisi beberapa ayunan, panjat-panjat, balok keseimbangan, dan palang bergantung. Ini juga pemandangan baru, salah satu hasil pembenahan Pemerintah Provinsi yang berniat serius menyediakan taman untuk warganya. Area bermain anak memang dijanjikan dibangun di taman-taman yang besar.

Saya tersenyum. Senang sekali melihat taman yang dulu angker dan tertutup kini terbuka, mudah diakses dan disukai penduduk. Semangat anak-anak yang bermain menandakan mereka masih menyukai kegiatan di luar ruangan, tidak melulu di dalam ruang ber-AC sambil menenteng gadget. Banyaknya mobil yang parkir juga menunjukkan kelas warga yang berkunjung: mereka bukan orang miskin yang nggak punya duit untuk berakhir pekan di mall.

Percakapan para anak yang antusias itu juga menarik perhatian saya. Mereka asyik mengobrol dalam Bahasa Inggris, khas anak-anak sekolah internasional yang sering nongkrong di restoran. Tanpa ragu mereka melepas sendal, menginjak pasir, mengantri, memanjat dan membaur bersama anak-anak lain. Orangtuanya pun nggak kalah heboh, bergantian mereka memotret para anak yang sampai di puncak tertinggi palang panjat.

Seorang anak kecil menyentuh tangan saya, “Ibu!” katanya. Saya melirik ke bawah, menghentikan pandangan dari sekitar. Anak itu menggiring saya ke palang panjat, tampaknya ia tertarik untuk mencoba naik, tetapi sedikit takut.

Saya memberi motivasi, sambil mengangkat sedikit badannya dan menguatkan tangannya. Perlahan ia menggerakkan satu per satu kakinya, menjejak palang besi horisontal yang dipasang bertahap, makin lama makin tinggi. Ketika akhirnya si anak berhasil mencapai puncak, saya melakukan apa yang dilakukan para orang tua yang tadi: klik! Kamera ponsel segera mengambil gambar.

Dari pemandangan sore di taman itu, saya yakin Jakarta masih punya harapan menjadi kota yang ramah dan nyaman. Tersedianya hiburan yang murah dan terbuka seperti taman adalah penanda. Terlibatnya warga dalam memanfaatkan taman dan menjaganya adalah penentu. Karena ya, buat apa punya taman cantik tetapi nggak digunakan?

Wajah Jakarta akan berubah, seiring dengan berubahnya taman-taman penghiasnya. Perilaku warga pun akan menjadi lebih baik, seiring dengan berubahnya mental para pemimpinnya. Ya, semoga.