Bagi sebagian emak, berkeluarga dengan pembantu rumah tangga itu tidak mudah. Saya pun demikian bukan berarti tidak bisa dikompromikan. Setiap siang, di rumah saya ada pemandangan yang sering jadi pertanyaan banyak orang. Yaitu, balita saya dan pengasuhnya (sekaligus pembantu rumah tangga), tidur siang bersama di kasur yang sama. Pertanyaan beragam, dari mulai kok bisa pembantu rumah tangga punya jadwal tidur siang, sampai kok bisa anak dan pembantu tidur satu ranjang. Jawaban saya selalu sama, karena pembantu rumah tangga juga berhak atas hidup berkualitas.

Berkeluarga Dengan Pembantu Rumah Tangga

Saya sering sekali meninggalkan anak saya keluar kota, untuk berbagai urusan. Paling sering, tugas kantor yang mengharuskan saya meeting di kantor pusat di Jakarta. Beberapa kali, liburan karena menang lomba. Ehehe. Setiap orang yang tanya soal anak, saya pasti jawab “Aman, sama mbahnya..”. Orang-orang mengira ‘mbah’ di sini adalah nenek atau kakek beneran. Orang tua saya, atau orang tua suami saya. Bukan, anak saya selalu aman bersama mbah nya, pengasuhnya. Kok nekat ninggalin anak sama pengasuh, sementara di berita banyak pengasuh tega mbanting bayi asuhannya?

Pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh anak saya itu, sudah bekerja bersama kami selama 2 tahun. Tidak pernah satu kalipun kami memiliki masalah dengannya. Malahan, saya percaya dengannya seperti saya percaya ke ibu sendiri. Saya baru bisa pergi keluar kota dengan perasaan tenang, kalau anak saya sudah ada di gendongannya. Buat saya, dialah tempat paling aman dan nyaman untuk si kecil, selain para nenek dan kakeknya.

Dua tahun bekerja di rumah kami, kami memang tidak pernah menuntutnya mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Saya cuma meminta agar anak saya ada yang mengajak bermain selama saya bekerja siang hari. Saya memang bekerja di rumah, di komputer rumah, tapi kalau sudah waktunya kerja, saya betul-betul harus kerja. Urusan cuci pakaian, cuci piring, bahkan beberes rumah, bisa beliau kerjakan dengan santai. Seikhlasnya. Dikerjakan syukur, enggak ya gak apa-apa. Karena saya masih bisa mengerjakannya setelah selesai bekerja. Jadi, tugasnya di rumah kami hanyalah memastikan si kecil memiliki teman untuk bermain mobil-mobilan, atau mengajak ke warung, beli nyamnyam.

Tapi nyatanya, sikap kami yang gak pernah menuntut, malah membuatnya sangat rajin bekerja. Rumah kami selalu bersih (kalau siang), pakaian selalu ada yang menyetrika, dan kadang-kadang, kalau saya sedang rempong sampai ubun-ubun, dia dengan sukarela memasak untuk kami sekeluarga. Setiap siang, saya memintanya tidur siang bersama anak kami. Satu kasur. Sekalian istirahat, sekalian jasa puk-puk kalau si kecil terbangun karena mimpi atau kepanasan. Makan dengan piring, nasi dan lauk yang sama dengan kami. Bahkan kadang pinjam daster saya kalau bajunya diompolin. Berarti, (kadang) satu baju juga 😀

Suami saya selalu mengajarkan (dengan paksa), bahwa pengasuh anak kami, harus diperlakukan sangat keluarga. Karena padanya, kami menitipkan harta paling berharga. Jadi jangan pernah membuatnya sekalipun sakit hati, karena anak kita taruhannya. Membahagiakan pengasuh atau pembantu rumah tangga, sebetulnya kita sedang membahagiakan diri sendiri. Memberinya hidup yang cukup dan berkualitas, sebenarnya kita sedang memberikan kualitas pada hidup anak sendiri.

Suatu siang, saya pergi ke kampus dijemput seorang teman. Sudah menjadi kebiasaan, sebelum keluar rumah, saya mencari pengasuh anak saya dan mencium tangannya. Minta restu, biar kemanapun saya diluar rumah, sehat selamat dan berkah. Teman saya memperhatikan dan nyeletuk “Lu ngapain salim sama pembantu sendiri? Gak kebalik?”. Saya Cuma bisa jawab sambil melengos “Salim itu, yang bikin gue bisa liburan keluar kota sendirian dengan lega dan bahagia”.

Teman saya geleng-geleng, saya nyengir, dengan sangat mempesona. Tsah!

Pungky Prayitno