“Pak, jadi pulang kan kita Lebaran nanti?”

Ming termenung. Dia sudah lama berhenti menghitung, dia tak lagi bisa ingat kapan terakhir kali dia pulang ke kampung. Bertahun lalu, dia tak bisa ikut menguburkan jasad Bapak saat lelaki itu tewas tertimbun tanah longsor. Meski kini sering sakit-sakitan, Ibunya masih hidup, entah sampai kapan. Dan Ming tak ingin menyesal jika dia juga tak bisa menemui perempuan yang mengantarkannya ke semesta itu.

“Mumpung Ibu masih ada, Pak.” Suara istrinya kembali terdengar. Dia bisa mengerti mengapa Sur –istrinya itu—seperti mendesak Ming untuk pulang, karena Sur tak lagi memiliki orang tua. Maka hal itu membuat Ming semakin geming, karena itu jugalah yang sangat diinginkannya: pulang. Tapi bagaimana caranya?

“Iya, Bu. Bapak usahakan.”

“Jualan kolak Ibu lumayan kok, si Amir juga kan libur sekolah jadi bisa bantu kerja di bengkel tambal ban depan.”

“Iya, Bu.”

“Bisalah kalau cuma buat beli tiket bus ke Jawa, Pak.”

“Iya, Bu.”

“Nggak perlu beli macam-macam, Ibumu pasti mengerti, kita di Jakarta cuma jadi rakyat jelata, pasti Ibu senang kita pulang, si Amir bahkan belum pernah sekali pun ketemu neneknya, kan?”

“Iya, Bu.”

“Lagipula kenapa Bapak nggak ikutan jadi ojek yang pake helm ijo itu lho, Pak? Katanya gajinya gede lho. Sehari bisa 900 ribu. Lah Bapak ngojek sebulan kadang nggak sampe 500 ribu.”

Ming diam.

“Hapenya dikasih kok Pak sama perusahaannya. Nanti Bapak tinggal nyicil.”

Ming masih sunyi.

“Kalo tidak bisa nanti kan diajari, Pak. Sekarang nih memang semuanya serba canggih, kita harus bisa ngikutin.”

Ming hanya setia mendengarkan.

“Kalau pake helm ijo itu kan Bapak tinggal menunggu orderan, nggak rebutan calon penumpang di pasar atau terminal seperti sekarang.”

Kali ini Ming mengangguk-angguk.

“Memang harus berubah, Pak, baru hidup kita juga ikut berubah nantinya. Lah Ibu jualan kolak juga pake gelas kok sekarang, walaupun sama-sama plastik.”

Ming sedikit tersenyum. Sur memang pintar memasak. Masakan buatannya enak, sering dipesan ibu-ibu komplek perumahan sebelah untuk arisan atau pengajian. Tidak heran kolak pisang dan penganan takjil buatannya selalu habis terjual selama bulan puasa ini.

“Kalau Bapak jadi tukang ojek modern gituh, mungkin kita bisa lho pulang kampung setiap tahun, Pak.”

“Iya, Bu.”

“Tapi ya nggak apa-apa, Pak. Setidaknya kita udah punya motor sendiri walaupun bekas. Bapak juga nggak perlu bayar iuran preman di tempat mangkal karena sudah lama, kan? Rezeki memang nggak pernah tertukar, Pak. Disyukuri sajalah ya.”

“Iya, Bu.”

“Meskipun ya tetep usahanya harus lebih, Pak, baru hasilnya juga bisa lebih. Iya toh?”

“Iya, Bu.”

“Ah Bapak ini kok iya-iya terus dari tadi. Ya sudah ngojek dulu sana, mumpung masih pagi. Jangan sampai batal lho puasanya, Pak.”

Ming tertawa, tapi kemudian menjawab, “Iya, Bu,” sebelum akhirnya mengucap salam dan pergi dengan motornya.

Kadang-kadang Ming heran, kenapa dia bisa mempersunting Sur. Bukan, bukannya dia menyesal, justru dia merasa sangat beruntung, sekaligus merasa bersalah di saat yang sama. Ming belum bisa menjadi suami terbaik bagi Sur. Rumah petak mereka yang sempit, pakaian mereka yang sekadarnya, kehidupan mereka yang terlampau menyedihkan, bukanlah sesuatu yang bisa Ming banggakan sebagai lelaki. Mungkin, jika Sur menikahi lelaki lain, hidupnya tidak sepahit ini.

Tapi sudahlah, seperti Sur bilang tadi, disyukuri saja, dinikmati saja. Dan sepertinya Ming akan menerima masukan Sur, untuk menjadi tukang ojek berhelm hijau demi perbaikan kehidupan mereka. Walaupun dia sedikit ragu, bagaimana nanti reaksi teman-teman ojek di pangkalan jika dia berpindah ke hati lain seperti itu?

Tak sempat berpikir lebih jauh, seorang lelaki kurus berkacamata melambaikan tangan memanggilnya. Dia baru saja turun dari sebuah angkot yang sampai sekarang masih betah ngetem menunggu penumpang lain. Ming menghampirinya dengan suka cita. Rezeki pertamanya hari ini, mungkin bisa menambah tabungannya untuk membeli tiket bus pulang Lebaran.

***

Dul menyebutkan alamat rumahnya. Si tukang ojek mengangguk mengerti, sepertinya dia sudah hapal daerah itu dan tak perlu dijelaskan panjang lebar. Dul pun naik, mendekap tas kerjanya yang menyimpan sebuah amplop putih berisi uang yang tak seberapa banyak.

“Maaf, Dul. Kinerjamu baik-baik saja, tapi tidak lebih baik daripada teman-temanmu sesama tim marketing. Jadi dengan amat sangat terpaksa, kamu diberhentikan.” Ibu kepala HRD yang menjelma nenek sihir di mata Dul, mengatakan kalimat panjang itu dengan satu embusan napas. Lantas menyodorkan si amplop putih yang tak seberapa tebal itu ke arahnya.

Dul terlalu kaget untuk bisa marah, lagipula dia terlanjur kecewa, jika kinerjanya dianggap baik-baik saja, kenapa dia harus dipecat segala?

“Perusahaan sedang lesu, Dul. Tidak hanya kamu seorang yang terpaksa diberhentikan. Dari tiap divisi satu-dua karyawan harus dirumahkan.” Penjelasan si Ibu HRD terdengar begitu manipulatif di telinga Dul. Serupa algojo yang berkata bahwa dia akan mencabut nyawa dengan cepat sehingga Dul tidak akan sempat merasakan sakit.

Dul telah terpilih menjadi korban. Sepagi ini dia sudah harus pulang seperti pejuang kalah perang. Setelah mengabdi bertahun-tahun dengan setia, perusahaan menendang Dul pergi begitu saja dengan mudah. Sialan!

Mungkin, Dul tidak akan semarah ini jika pemecatan dilakukan sebulan lalu, atau sebulan yang akan datang. Pokoknya jangan sekarang, beberapa hari lagi Lebaran datang, masa sih dia silaturahim ke rumah mertuanya sebagai seorang pengangguran? Blah.

Lagipula istrinya Marni tengah hamil tua, tidak kurang dari dua bulan lagi anaknya akan menyapa semesta. Apa kata dunia jika dia menjadi Ayah tanpa pekerjaan? Semua itu membuat kepala Dul hampir meledak.

“Mas, kata bidan bayi kita sungsang.” Terngiang di kepala Dul obrolan dengan Marni semalam.

“Oh?”

“Jadi kemungkinan besar aku harus melahirkan di rumah sakit, Mas. Malah bisa jadi mesti operasi cesar.”

“Hah? Operasi?”

“Iya, Mas. Ya pasti memang mahal, tapi kan demi anak kita, Mas.”

“Iya.”

“Ibu bidan nggak berani soalnya, khawatir kenapa-kenapa katanya, Mas nggak mau kan aku atau bayi kita tidak tertolong?”

Dul menggelengkan kepala cepat.

“Itulah Mas, kita harus punya dana cadangan, kalau-kalau si jabang bayi tetap sungsang nanti.”

“Iya.”

“Jadi kalau bisa sih, kamu dipromosiin atau naik jabatan gitu, Mas.”

“Mudah-mudahan ya.”

“Atau paling nggak, kamu bisa beli motorlah, Mas. Masa kita nanti ngangkot terus?”

“Iya ya.”

“Sebentar lagi Lebaran lho, Mas. Aku nggak mau Bapakku terus-terusan nyindir kamu jadi menantu gagal karena beli motor bekas pun belum mampu.”

“Iya, maaf ya, Dik.”

“Aku sih nggak apa-apa, Mas. Tapi ya nggak enaklah sama Bapak. Lagian kalau punya motor kan lebih gampang mau kemana-mana.”

“Maaf, Mas.” Ucapan si Tokeng Ojek mengembalikan Dul ke detik ini. Motor baru saja sedikit tergelincir melintasi sebuah lubang yang cukup besar.

“Iya, nggak apa-apa, Bang,” ujar Dul cepat. Saat itulah sebuah ide melintas di benaknya. “Bang, sebentar, Bang. Berhenti dulu.”

“Oh? Ada apa, Mas?”

Gemetar, Dul mengambil pulpen dari sakunya, menempelkan ujung runcingnya ke leher si Abang tukang ojek yang terpekik kaget. “Serahkan kunci motor, Bang, kalau mau selamat,” ancam Dul dingin, seiring keringat dingin yang meluncur turun dari balik kemejanya.

“Ja-jangan, Mas,” gagap si Tukang Ojek turun dari motor dan mengangkat tangannya. Jalanan di sekeliling mereka sepi, Dul tahu si Tokeng Ojek tahu tidak ada gunanya berteriak minta tolong. Jika Dul bersegera kabur, mungkin dia bisa selamat.

Dul memutar kunci, melempar pulpen yang dipegangnya dan gegas memacu motor seraya berseru penuh penyesalan, “maafkan saya ya, Bang!”

Dan di sana, Ming hanya bisa berdiri geming, menatap nanar motornya yang kini menghilang di belokan.

 ***

Rinrin Indrianie |www.rindrianie.com | @rindrianie