“Lebaran kali ini berbeda,” desah Parti kepada Parto, suaminya.

“Berbeda bagaimana, tokh, Bu?” Parto membalik helai koran yang sedang dibaca. “Karena kita nggak mudik, lantas segalanya berbeda, gitu?”

“Mungkin juga, Pakne. Saking sibuknya mikirin kesibukan akibat nggak mudik, sekarang terasa deh, ada banyak hikmah melimpah.”

“Syukurlah, kalo kamu punya perspektif seperti itu, Bu,” Parto tersenyum mengaminkan.

Lebaran 1436 H tahun ini, Parto dan Parti sepakat untuk tidak mudik. Selain Parto terlambat membeli tiket kereta online, keuangan mereka terdesak dengan kebutuhan membayar uang masuk sekolah SMU swasta si kakak Kinanti dan uang daftar ulang kedua adiknya, Kalvin dan Kayla.

Mulanya, Parti merasa kesal dengan keadaan.

Mosok, mudik yang setahun sekali saja mereka tak bisa? Tadinya, Parto memang mengajak keluarga untuk pulang dengan naik kendaraan, namun menilik kondisi kendaraan yang sudah tua, rasanya kok riskan sekali. Akhirnya, setelah serangkaian telepon, diputuskan tahun ini mereka tidak jadi mudik. Uangnya akan dibelikan tiket pesawat untuk kedua orangtua Parti datang ke Jakarta sebelum Idul Adha. Syukurlah, Parti akhirnya bisa melihat keadaan dengan perspektif berbeda.

Perspektif adalah konteks sistem dan persepsi visual, tentang bagaimana objek terlihat pada mata manusia berdasarkan sifat spasial, atau dimensinya. Perspektif berkaitan erat dengan posisi mata relatif terhadap objek.

Perspektif kognitif adalah sudut pandang manusia terhadap satu masalah, terhadap satu situasi dan kondisi. Cara kita memahami makna dan mengolah rasa.

Dalam perspektif pertama (gambar sebelah kiri), si gadis kecil terlihat seperti raksasa. Padahal, jika dilihat dari perspektif yang berbeda, rupanya dia sedang difoto, dia bukan gadis raksasa, dan si sapi pun normal-normal saja bukan sapi yang kerdil.

Dalam perspektif pertama (gambar sebelah kiri), si gadis kecil terlihat seperti raksasa. Padahal, jika dilihat dari perspektif yang berbeda, rupanya dia sedang difoto, dia bukan gadis raksasa, dan si sapi pun normal-normal saja bukan sapi yang kerdil.

Sama seperti saat kita memandang sebuah masalah. Seolah masalah itu super besar. Padahal setelah melihat dari perspektif (atau sudut pandang) yang berbeda, ternyata sebetulnya si masalah tidak sebesar itu, bahkan mungkin saja bukan masalah sama sekali. Seperti itulah Parti.

Ya, sejak Parti sadar lebaran kali ini keluarganya tak dapat mudik ke kampung halaman, ia menyibukkan diri dengan tartil Al Quran. Ia tenggelam dalam keindahan ayat-ayat suci sehingga tak terasa, memasuki hari ke -10 ia telah khatam.

Ia juga punya waktu banyak untuk menyampul buku anak-anak lebih awal, dan mendapat hadiah kecup mesra Kayla dan Kalvin, mengecat dan merapihkan gudang sehingga dapat dipakai untuk menyimpan sebagian perkakas dan perabot dapur, bahkan mengganti pot-pot bunga di sisi kiri teras, sehingga indah dipandang. Tak hanya itu, Parti jadi rajin memasak setelah dapurnya terasa bersih dan menyenangkan!

Kekesalannya juga ia tumpahkan di blog miliknya, mula-mula dalam serangkaian fiksi mini. Namun setelah ia melihat blog milik sahabat dunia mayanya, seorang trainer yang akrab disapa dengan sebutan Om mengisi blog harian dengan ayat-ayat suci, Parti merasa perlu mengisi blognya juga dengan cerita berbalut tafsir.

Alih-alih berkeluh kesah, isi blog Parti malah berisi cerita tentang kesadaran salah satu sahabatnya atas kebesaran dan keagungan Allah SWT (takbir) yang akhirnya ia kirimkan ke sebuah majalah wanita muslim. Ia juga memperdalam cara memotret makro objek di sekitar dengan hape miliknya. Spot metering, super fine resolution, shutter fast yang tadinya asing, sekarang akrab di telinganya.

Ia jadi bisa ikutan Wordless Wednesday yang diprakarsai sahabat dumay-nya, seorang diplomat muda cantik yang berdomisili di New York. Dengan cara itu, Parti merasa ikut ber-tasbih dan ber-tahmid atas ciptaan Yang Maha Kuasa.

Parti tersenyum lega.

Ia berhasil melewati sebulan penuh Ramadhan dengan puasa full karena kebetulan haidnya hadir tepat sebelum dan sesudah puasa. Ia berhasil mengkhatamkan Al Quran, padahal sebelumnya tak pernah mampu menyelesaikan bacaan wajib tersebut. Ia bahkan banyak membaca tafsir sehingga kata Id yang berakar dari kata aada- yaudu tak hanya berarti ‘mudik’ namun benar-benar ‘kembali’ pada akarnya. Kesadaran kembali pada fitrahnya, sebagai ibu rumah tangga dan blogger, sekaligus penulis. Menulis bisa ia lakukan kapan saja, di mana saja.

Parti tersenyum mengingat itu semua. Banyak sekali hikmah di balik kesedihan yang ia rasakan. Ia tak menyangka, kedua orangtuanya justru berterimakasih karena bisa berkunjung ke Jakarta. Ia juga tak menyangka, fiksi yang ia kirimkan dimuat di majalah, sehingga pundi-pundinya bertambah. Ia juga bahagia, karena blog, twitter dan instagram yang dikelolanya bertambah followers.

Sekarang Parti paham. Kata fitri yang berarti suci, bersih dan berakar dari kata fathoro-yafthiru (hadits Rasulullah SAW) bukan hanya bersih dari dosa, namun juga dari segala keburukan atau kesalahan. Ia malu, menyadari Ramadhan selama ini berlalu dengan ketergesaan. Sibuk memikirkan mudik lebaran!

Hikmah lain menyusul. Setelah mendengar jalan-jalan tak lagi selengang dulu, dan jalur mudik H-7 dan H+7 dipadati jutaan kendaraan, Parti bersyukur. Si bungsu, Kalvin yang sering mabuk darat tak harus melewatinya. Aah.. Insha Allah aku mudik tahun depan, pikirnya riang.

Salah langkah dan kata adalah sekeranjang ilmu pengetahuan berharga, jika kita menilainya dari perspektif berbeda. Di hari yang fitri, bukan hanya kue nastar yang tersedia, namun juga cinta.

Met lebaran kawan.

***

Tanti N. Amelia | tantiamelia.com