Dear Emak(s), libur Lebaran kemarin sempat baca buku apa kah?

Berikut adalah sedikit catatan saya untuk novel berjudul ‘Sabtu Bersama Bapak’. Novel ini sudah lama saya sekali baca, tapi baru tergerak untuk menuliskan reviewnya karena libur Lebaran kemarin bisa bertemu kembali dengan Bapak saya yang sudah berusia 68 tahun, yang entah kenapa jadi teringat kembali pada tokoh Pak Gunawan Garnida dalam novel tersebut he he.

Berikut reviewnya.

***

Sabtu Bersama Bapak adalah novel bertema parenting yang sangat tidak biasa dari Aditya Mulya. Seperti novel Aditya Mulya lainnya, novel bertema berat ini pun dikemas santai bahkan cenderung komedik, sehingga tetap nyaman dibaca tanpa harus mengerutkan kening, tetapi banyak makna dan manfaat yang bisa pembaca ambil.

Kisah berawal dari Gunawan Garnida yang menderita kanker. Mengetahui hidupnya mungkin tak lama lagi, dia ingin meninggalkan warisan bagi Itje-istrinya, dan kedua anak lelakinya, Satya dan Cakra. Bukan harta melimpah atau setumpuk uang, Bapak yang satu ini mulai merekam pesan-pesannya untuk Satya dan Cakra sebagai warisan, dia meminta rekaman video ini diputar setiap hari Sabtu untuk ditonton kedua anaknya setelah dia meninggal dunia nanti.

Bagi Satya dan Cakra, ini adalah waktu terbaik mereka setiap minggu.

Sabtu bersama Bapak. (halaman 6)

Satya Si Sulung, tumbuh menjadi lelaki tangguh dan keras, merasa dituntut menjadi pelindung keluarga pengganti ayah mereka yang sudah tidak ada. Menjelma menjadi seorang suami yang doyan marah-marah, juga bapak yang cukup temperamental. Hal ini membuat Rissa istrinya, meminta Satya yang bekerja di lepas pantai tidak perlu pulang dalam jatah libur berikutnya, karena kehadirannya hanya akan membuat istri dan anak-anaknya tegang.

“Kami berempat selalu menyambut orang yang sering marah-marah. Kami kangen sama Kakang, tapi setiap Kakang pulang, selalu ada yang salah.” (halaman 26).

Tapi masalah yang dihadapi Satya satu persatu terbantu saat dia kembali menonton video-video rekaman Bapak. Misalnya saja saat sikap Ryan –anak sulung Satya- yang selalu takut mengecewakan orang tua dan adik-adiknya.

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung –kepada adik-adiknya.

Menjadi panutan adalah tugas orang tua –untuk semua anak.”(halaman 106).

Sementara si bungsu Cakra, adalah deputy director di sebuah bank yang sangat sukses. Memang tidak seberapa tampan, tapi memiliki jabatan dan rumah sendiri, sehingga dia menjadi seorang jomblo yang kadang menjadi bahan bully dari bawahannya.

Desakan Ibu Itje untuk memintanya segera menikah, membuat Cakra mencoba mendekati Ayu, salah satu temannya di kantor. Tapi saat Salman –temannya yang lain- juga mengincar Ayu dan sepertinya Ayu juga menyukai Salman, Cakra teringat salah satu pesan Bapak untuk mencari pasangan yang menjadi perhiasan dunia dan akhirat. Dan di sebuah kencan, Cakra mengatakan langsung nasihat Bapak pada Ayu.

“Ayu….” Dia menatap mata Ayu dalam-dalam. “Terima saya, jika kamu lihat bahwa saya adalah perhiasan dunia dan akhirat yang baik untuk kamu.”

“…”

“Karena…

kamu adalah perhiasan dunia dan akhirat untuk saya.” (halaman 174)

Pak Gunawan tidak saja meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya bagi Satya dan Cakra. Istrinya, Ibu Itje, juga menjadi janda karena kepergiannya, tak luput dari perhatian. Keluarganya adalah tanggung jawabnya, di alam mana pun dia berada, Gunawan tidak ingin, istrinya itu menjadi beban anak-anak apalagi orang lain.

“Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orang tua.

Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak.” (halaman 88).

Novel ini berpesan bahwa seorang Bapak (dan suami) yang bertanggung jawab, tidak akan pernah ‘meninggalkan’ keluarganya, dan selalu bersama mereka meskipun tak lagi kasat mata.

***

Nah, bagaimana? Tertarik membaca novel ini tidak, Mak? 🙂

Rinrin Indrianie | rindrianie.com