Waktu pertama kali baca review buku ini di blog seorang teman, saya langsung iseng komentar,”Trus  gimana dong, Lebaran nanti pake baju apa?”  Hahaha….  masih musim ya, pake baju baru di hari Lebaran? Ya, saya  emang beli buku ini di bulan puasa. Setelah acara buka bersama, saya segera meluncur ke toko buku yang lokasinya dekat, lalu buku setebal 400 halaman kurang sedikit dengan sampul hitam ini pun segera saya boyong ke rumah.

Judul Buku: Ayah

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit:  Bentang  –  Mei 2015

Genre:  Komedi

Jumlah  Halaman:  396  halaman

ISBN: 978-602-291-102-9

Ayah adalah novel Andrea Hirata berikutnya yang saya baca setelah Laskar Pelangi dan Maryamah Karpov. Masih  mengambil seting Pulau Belitong sebagai latar cerita dengan karakter khas penduduknya yang senang mendengarkan radio, senang dengan sastra dan punya musikalitas tinggi meski  kualitas suara pas-pasan  :).

Novel Ayah mengisahkan 4 sahabat, yang masing-masing dijuluki Raskal 1, Raskal 2, Raskal 3 dan Raskal 4 oleh Bu Norma guru bahasa Indonesia mereka. Tengil, tapi percaya diri tingkat tinggi. Bodoh tapi setia kawannya  mengalahkan koalisi negara yang bersekutu.

Tokoh utamanya adalah Sabari, seorang pemuda yang kesengsem berat dengan Marlena, gadis cantik kelas sebelah  yang sayangnya abai, mengacuhkan segala perhatiannya. Mati-matian Ukun, Tamat dan Toharun meminta Sabari untuk melupakan Marlena dan mengalihkan cinta pada deretan gadis yang dipuja oleh Ukun dan Tamat. Nahasnya, para gadis  itu pun sama saja dengan Marlena, masa bodoh.

Rasa cinta Sabari semakin buncah saat ia menjumpai surat cinta tak bernama di mading yang ditujukan pada dirinya. Dengan berbagai asumsi dan perhitungan yang cermat, Sabari yakin surat itu dari Marlena, bukan siapa-siapa dan juga bukan untuk orang lain. Pokoknya Marlena cinta matinya Sabari, titik.

Marlena pun begitu, setengah mati bencinya pada Sabari. Tapi nasib baik berpihak pada lelaki lugu dan lebih dari  kurang untuk ukuran tampan. Akhirnya Sabari juga bisa menyanding Marlena di pelaminan. Sayangnya usia pernikahan mereka hanya seumur jagung. Sabari ikhlas menerima gugatan cerai. Sabari tidak peduli Marlena pergi, asal jangan membawa  Zorro, putra yang sangat ia sayangi. Bagi Sabari, Zorro adalah segalanya, separuh  nyawanya. Lalu, Marlena datang merenggut Zorro dan menghempaskan Sabari dalam kehampaan. Meski usil dan suka saling mengumpat, tak urung Ukun dan Tamat berusaha menolong Sabari.

“Karena itu Boi, tolong jangan gila dulu. Biarlah kami mencari Lena dan Zorro dulu. Kalau kami gagal, silahkan nanti kalau mau jadi gila, tak ada keberatan dariku dan Tamat sebagai kawan-kawanmu. Untuk sementara ini, tahan dulu”

Ucapan Ukun kepada  Sabari – Halaman   299.

Percayalah, membaca novel ini akan sukses membuat kita berlinang air mata. Digelitiki dialog yang gokil dan jail  khas Andrea Hirata. Kadang juga membuat tercenung dan tersihir, atau mengusap mata karena ada potongan drama yang mengharukan, membuat kita menarik napas panjang. Di tengah kesan kampungan dan bodoh Sabari cs, terselip  pesan yang dalam. Tentang persahabatan, tentang pengorbanan, dan penantian cinta tak bersyarat.

Daaan…  siapkan  saja stick note karena banyak puisi yang puitis (uhuk) sebagai penanda dalam buku ini,  tentu saja  khas sekali dengan diksi Melayu. Please, kalau ngaku mencintai buku, jangan lipat halamannya, ya.

Aku adalah  sungai

Aku adalah anak belibis

Aku adalah  awan-awan sisik Januari

Tak ada, tak  ada

Meski  kau tenggelamkan aku di dasarmu

Tak ada  bahagia   yang dapat  kau sembunyikan  dariku

(puisi Amiru    pada  Sabari  – halaman  386).

Terlalu banyak yang sebenarnya pengin banget saya ceritakan, tapi nantinya jadi spoiler, dong, ya? Begini  saja deh. Kalau mau tahu kegilaan yang dilakukan Ukun dan Tamat, jatuh bangunnya Sabari mengejar Marlena dan babak-babak lucu atau mengharukan yang  bergantian, gimana kalau baca buku dulu ini sampai khatam lalu kita ngopi cantik dan membahas rangkaian kejutan di balik buku ini?  Lebih asik. Serius.