Magis.

Pintar.

Jenaka.

Tidak, aku tidak sedang mendiskripsikan diriku, walau kuakui itu adalah kata sifat yang ingin kumiliki…

Aku sedang ingin mengenang salah satu author terkenal dunia, Roald Dahl namanya. Hmm, sebentar. Pernah nonton Mathilda atau Charlie and The Chocolate Factory, kan?

Pengarang judul di atas ini, sebenarnya pengarang buku anak dan dewasa, namun buku-buku anak karyanya sebagian besar best seller, hingga kini masih digemari di seluruh dunia. Kuulangi, ya : di seluruh dunia!

road dahl 1

Roald Dahl yang lahir pada tanggal 13 September 1916 di Llandaff, Cardiff, Wales ini, selalu bercerita dengan sangat imajinatif, dan … ups, kita langsung bahas aja kenapa buku-buku Roald Dahl masih bertahan di deretan buku best seller yaa!

  1. Terbiasa berpikir rumit dan detil

Kalau kita baca di wikipedia, Roald Dahl adalah seorang pilot, atlet sekaligus fotografer. Ia juga adalah seorang intelijen. Dahl terkenal sangat teliti dan cermat, dan dari pilihan profesinya, terlihat bahwa ia suka berpikir ‘rumit’.

Karirnya di bidang tulis menulis dimulai sejak usia sekitar 40 tahun. So, jangan kecil hati kalau usiamu belum segitu dan bukumu belum best seller!

Kisah hidup Roald Dahl sangat berliku. Persis seperti buku-bukunya

  1. Buatlah quote sebagai sumber inspirasi

Tak jarang, saat semangat kita sedang turun gunung, atau sedang sedih dan galau, kita membaca sebuah kalimat yang menginspirasi. Buatku, Roald Dahl mungkin saja menginspirasi buku-bukunya dari sebuah quote, loh! Di setiap buku-buku Roald Dahl, kita bisa menemukan sebuah quote yang inspiratif.

“So please, oh please, we beg, we pray
Go throw your TV set away
And in its place you can install
A lovely bookshelf on the wall…”

Charlie and the Chocolate Factory

Ini adalah salah satu quotes yang diciptakan Roald Dahl.

Ada lagi satu yang populer (ini quote favoritku)

“Those who don’t believe in magic will never find it”.

Bahkan, ada sekitar 40 quote keren dari Roald Dahl, yang rasanya ingin selalu kubaca.

 

  1. Pengalaman adalah sumber kekayaan!

Hampir setiap musim libur tiba, televisi menayangkan Charlie and Chocolate Factory, Mathilda, dan The Witch. Itu di Indonesia, loh.. kurasa di negara lain juga sama. Herannya, anak-anakku senang berulang-ulang menonton si Charlie yang absurd itu!

Nah. Ada satu pertanyaan di benakku. Sejujurnya, karya Dahl ini sebenarnya selain lucu juga dibumbui kesadisan, bahkan gelap dan suram. Sama seperti kita menonton Harry Potter, yah.

Tau kenapa?

Sejak kecil, Dahl dan kawan-kawannya suka sekali membeli permen di toko permen Mrs. Pratchett. Terinspirasi kisah Hansel dan Gretel, sepertinya Mrs Pratchett ia identikkan dengan penyihir mengerikan dan jahat.

Sedikit banyaknya, pengalaman Dahl di toko permen ini lah yang kemudian membawanya menulis tentang kisah Charlie and Chocolate Factory.

James and The Giant Peach sebagai karya pertama Dahl, malah menggambarkan seorang anak yang membalas dendam pada orang dewasa yaitu dua bibinya.

Udah pernah baca Mathilda, gak? Di buku ini, ada Mrs Turnbull yang kejam. Ternyata, kisah ini bersumber dari Kepala Sekolah Dahl! Beliau terkenal suka memberi hukuman-hukuman rotan pada murid-muridnya.

Jadi, kalau kamu punya masa kecil yang gak semanis madu, jangan kuatir, kamu berpotensi untuk menjadi penulis kelas dunia seperti Roald Dahl!