Halo! Perkenalkan nama saya Lianda Marta. Salah seorang warga Riau yang saat ini sedang berjuang memperebutkan hak asasi kami untuk bisa menghirup udara segar.

Saya tinggal di kota Pekanbaru yang merupakan ibukota provinsi Riau. Sejak tahun 1997 lalu, kabut asap hasil pembakaran lahan di beberapa daerah di Sumatera mengepung kota ini. Tahun 1998 lalu adalah kondisi terparah hingga jarak pandang maksimal hanya mencapai angka 30 meter saja.

Beberapa tahun berselang, kabut asap tetap datang. Terutama di musim kemarau. Dua tahun terakhir, kabut asap terjadi hampir di sepanjang tahun. Hingga kami di Riau, hampir setiap hari pula merasakan sesak nafas karena menghirup udara yang tidak sehat ini. Entah sudah berapa kali, status di papan ISPU (Indeks Status Pencemar Udara) menunjukkan bahwa kualitas udara di kota Pekanbaru berada di level berbahaya.

Tahun ini, memasuki bulan September, hujan tak kunjung datang. Kabut asap semakin tebal. Jarak pandang pun menipis. Sudah hampir tiga minggu, anak-anak sekolah diliburkan. Sudah puluhan ribu jiwa warga Riau mengalami ISPA karena menghirup udara yang berbahaya ini. Hingga puncaknya, seminggu lalu, seorang anak kelas 6 SD dikabarkan meninggal dunia karena gagal pernafasan akibat terkena paparan kabut asap di kota tempat tinggalnya.

Kabut asap yang menjadi permasalahan tahunan ini belum juga menemukan titik penyelesaian. Permasalahan ini terus berulang setiap tahun. Entah sampai kapan.

Saya dan seluruh warga Riau merindukan udara segar. Kami ingin mengungsi, tapi bingung mau mengungsi ke mana. Banyak penerbangan dibatalkan. Jika ingin melakukan perjalanan darat, kondisi tidak memungkinkan karena jarak pandang yang sangat terbatas.

Pada akhirnya, kami hanya berusaha untuk terus menyuarakan suara hati kami. Berkoar-koar di sosial media, mengetuk hati banyak orang untuk peduli dengan kondisi kami yang terkepung asap ini. Kami tidak mungkin terus-terusan hidup seperti ini. Kami juga berhak untuk menghirup udara segar, seperti teman-teman yang berada di kota lain.

Untuk itu, bantulah kami. Sebarkan kondisi kami di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan di semua lini social media. Bantu kami untuk mengetuk hati bapak Presiden dan pejabat pemerintahan lainnya agar segera menyelesaikan permasalahan kabut asap ini hingga benar-benar selesai. Agar kami, tidak lagi bersusah payah bernafas seperti ini di tahun-tahun berikutnya.