“Kok bisa jelek nilainya. Nggak belajar, ya? Tuh, lihat si Dito, nilai ulangan matematikanya selalu dapat bagus.”

“Iya, Dito kan pinter matematika. Aku kan lebih suka pelajaran menggambar.”

Pernah nggak sih kita sebagai orang tua marah-marah gara-gara nilai ulangan anak kita jelek, sementara teman-temannya bagus? Jujur saja, aku kerapkali masih sering membandingkan anak-anak dengan teman-temannya. Padahal mestinya tidak boleh ya, karena tiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda dengan anak lain.

Yup, setiap anak mempunyai karakter dan bakat istimewa dalam dirinya yang tentunya tidak sama dengan anak lain. Sejauh mana sih kita sebagai orang tua mengetahui bakat anak kita, bagaimana menumbuhkembangkan serta mengoptimalkan bakat-bakat yang dimiliki anak?

Beberapa waktu lalu, orang tua murid diundang untuk menghadiri seminar di aula sekolah, menghadirkan seorang psikolog sebagai nara sumber.

Inti dari seminar itu adalah :

Orang tua perlu mengetahui prinsip dasar dalam mendidik anak, yaitu pertama-tama mengetahui dan memahami karakter anak. Caranya adalah dengan mengamati perilaku atau sikap, kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan anak dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Kita sebagai orang tua tidak boleh menghakimi dan melarang anak bereksplorasi. Siapa tau, anak yang suka menulis di sembarang tempat, mempunyai bakat menjadi penulis atau wartawan. Anak yang biasanya suka menggambar di dinding rumah mempunyai bakat menjadi pelukis. Demikian juga anak yang suka menyanyi, main bola, menari dsb. Tugas orang tua hanya mengarahkan anak sesuai bakat yang dimilikinya.

Anak juga perlu diajak berkomunikasi dan menanyakan apa yang menjadi cita-citanya, bidang studi yang paling diminatinya, kesulitan-kesulitan yang dihadapinya maupun keinginan-keinginannya. Dari sinilah orang tua dapat memahami bakat dan karakter anak. Bicaralah dari hati ke hati dengan anak-anak.

Orang tua adalah peletak dasar pendidikan anak, guru pertama dan utama bagi anak, dan motivator bagi anak. Orang tua juga perlu memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak, agar mereka tidak mudah terpegaruh oleh kebiasaan buruk di masyarakat.

Jadi sangat tidak adil jika kita sebagai orangtua menuntut agar anak pandai dalam semua mata pelajaran. Bahkan terkadang anak dihukum kalau mendapat nilai jelek. Hal ini tidak akan menimbulkan rasa aman dalam diri anak dan memicu mereka bertindak tidak jujur. Mereka akan merasa tidak dimengerti dengan baik oleh orang tuanya. Padahal tiap anak, dibalik kekurangannya tentu punya kelebihan di bidang lain. Misalnya saja seorang anak yang mendapat nilai matematika selalu jelek, justru sangat pandai dalam pelajaran olah raga.

Tiap anak juga mempunyai karakter yang berbeda, bisa jadi anak pertama gampang sekali curhat dengan orang tuanya, apa saja diceritakan baik itu kegiatan sekolah, teman-teman, ataupun perasaan yang dirasakannya saat itu. Tetapi ternyata anak kedua mempunyai karakter yang berbeda, anak kedua ini cenderung diam dan tertutup. Dengan memahami karakter tiap anak, orang tua bisa melakukan pendekatan yang berbeda sesuai karakter anak tersebut.

Yup, tambah satu ilmu lagi deh lewat seminar ini.

Aku sebagai orang tua masih harus belajar dan terus belajar agar bisa bertindak bijaksana. Itu sedikit sharing dari seminar yang kuhadiri waktu itu, semoga bermanfaat 🙂