Siska mengumpat dalam hati saat lift beranjak naik dalam kecepatan siput. Seharusnya tadi aku naik tangga saja, rutuknya murka entah pada siapa. Lift berhenti di lantai satu, membuat Siska memencet kesal si tombol untuk memaksa kotak sialan itu kembali menutup. Tapi terlambat, seorang lelaki paruh baya tanpa sehelai pun rambut di kepalanya terlanjur masuk, lantas menekan tombol berangka lima.

Kesalnya sudah berkali lipat, Siska melirik sebal si pendatang yang telah dengan kurang ajar membuatnya berbagi kotak lift, tapi lelaki itu malah terang-terangan sedang menatapnya.

Blah!

“Apa lihat-lihat?” semprotnya galak, lengkap dengan matanya yang mendelik tak suka dan bibirnya yang sengaja mengerucut.

“Jangan marah, Nona, saya hanya mengagumi kecantikan Anda,” kata si lelaki tua tak tahu diri itu seraya mengedipkan sebelah mata. Siska ingin meludahinya kalau bisa, tapi dia sedang berada di dalam lift sebuah hotel bintang lima, keinginannya tadi hanya pantas dilakukan di terminal bus.

Untungnya, tak lama lift berdenting dan pintu di depannya terbuka, mereka sudah ada di lantai tiga. Gegas Siska menyeret kakinya keluar, meninggalkan lelaki bangkotan yang masih belum jera menggodanya.

“Saya ada di kamar 512, Nona, datanglah jika kau suka,” seru si lelaki buaya sesaat sebelum pintu lift tertutup, tawanya yang sayup terdengar sungguh memuakkan, membuat Siska yang sedang marah semakin naik pitam. Kenapa banyak sekali lelaki berengsek semacam itu? serapahnya dalam hati.

Tapi itu tidak penting, dia harus segera menemukan kamar 306, kamar yang rupanya dipesan suaminya sejak siang tadi. Apa yang dilakukan Teddy di kamar itu? Pertanyaan yang melintas di kepalanya berhasil mengusir kemarahan Siska, beralih bentuk menjadi sedih-kecewa-sakit hati yang datang tanpa dia undang.

Kenapa suaminya itu harus selingkuh segala? Bagaimana mungkin Teddy mengkhianati cinta mereka yang hampir berusia sepuluh tahun pernikahan? Apakah semua lelaki di dunia ini tak pernah puas hanya dengan satu perempuan?

Sebelumnya, Siska cukup percaya diri suaminya tidak seperti suami-suami lain yang suka main mata untuk kemudian jajan dengan sembarang perempuan. Tapi sejak sudah lima bulan terakhir ini, banyak teman-teman Siska yang melaporkan Teddy check in di hotel pada siang hari, padahal setiap malam Teddy tak pernah alpa untuk pulang –dan menginap- di rumah. Bagaimana pun, Siska tidak bisa tinggal diam untuk sebuah kebiasaan baru yang sangat tidak biasa semacam ini, bukan?

Walaupun sejujurnya, ada sedikit kekhawatiran di hati Siska, kalau-kalau sikapnya tersebut hanyalah kecemburuan semata, yang konyol dilakukan karena tidak berdasar sama sekali. Tapi alasan apalagi yang memungkinkan seseorang check in di hotel untuk sekadar sekian jam di siang hari kalau bukan untuk ‘bobo siang’ yang menyenangkan?

Hei, ini di kamar 306! Misteri akan segera terkuak.

Siska berhenti, mengatur napas mencoba menenangkan diri. Semoga yang dipikirkannya tadi hanyalah asumsi belaka. Di detik terakhir, Siska masih berharap semua omongan teman-temannya itu tidak benar, Siska sungguh berdoa Teddy masihlah lelaki setia yang sama yang dinikahinya selama satu dekade ini.

Tapi, bagaimana jika Teddy benar-benar sedang bersama seorang perempuan di dalam kamar? Mungkin sekarang ini mereka sedang….

“Mama…” Siska melangkah mundur, kaget karena pintu dibuka dari dalam dan Teddy sudah berdiri di depannya, bahkan sebelum Siska mengetuk atau menggedor-gedor pintu itu.

“Ngapain Papa di sini?” tanya Siska ketus saat keterkejutannya berganti rupa dengan curiga yang membabi buta

“Mama ngapain di sini?”

“Iiih…tadi kan Mama duluan yang tanya. Ayo jawab!” jerit Siska gemas. Membuat Teddy mengernyitkan kening, menatap Siska heran seolah perempuan yang adalah istrinya itu adalah sebentuk alien yang baru datang menginvasi bumi.

“Tadi ada lunch meeting, terus Papa ngantuk, ya sudah pesan kamar saja,” jelas Teddy beberapa detik kemudian.

Alasan yang terlalu mengada-ada! Siska memilih tidak percaya, lantas matanya mengintip ke dalam kamar.

“Mana perempuan itu?”

“Perempuan apa?”

“Selingkuhan Papa.”

“Hah? Selingkuhan?”

“Iya, Papa selingkuh kan? Hayo ngaku!”

“Selingkuh apa sih, Ma?” Teddy mulai tidak terima dituduh macam-macam, Siska mulai menangis merasa telah dibohongi suaminya.

“Ngapain Papa bobo siang di hotel segala? ‘Kan bisa langsung pulang ke rumah.”

“Kan macet Ma, buang-buang waktu kalau Papa pulang ke rumah, pasti nggak bisa balik ke kantor lagi.”

Siska geming, tidak mau menerima alasan yang dilontarkan Teddy, “lagian tumben Papa perlu bobo siang segala? Rasanya kalau weekend pun Papa jarang tidur siang. Iya, kan?”

Teddy menghela napas panjang, mengisi paru-parunya hingga penuh, lantas membelai pipi Siska lembut. Dia sudah tahu perempuan ini sedang terbakar, pembelaan apa pun yang dipilih Teddy, bisa saja membuat apinya semakin menjalar. Dia yang harus sabar.

“Mama yakin siap mendengar alasan Papa sebenarnya?”

Siska mengangguk cepat. Dia ingin tahu yang sebenarnya. “Tidak ada dusta di antara kita, Pa,” jawabnya mantap. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Siska waswas juga, apakah dirinya siap atas kebenaran yang akan dikatakan Teddy?

“Janji ya, Mama tidak marah.”

“Ya nggak bisa begitu dong, Pa. Mana mungkin Mama diam saja kalau Papa selingkuh?” erang Siska seraya menepiskan tangan Teddy yang masih mencoba membelai bahunya.

“Sumpah disambar geledek, Papa nggak selingkuh,” jawab Teddy tenang, malah senyum samar terlukis di bibirnya.

“Lantas kenapa Papa sering nginep di hotel siang-siang?” cerca Siska masih panas.

“Papa capek, Ma. Akhir-akhir ini Papa tidak bisa tidur kalau malam.”

“Oh ya?” Siska mulai melunak, sekarang dia merasa bersalah tidak memerhatikan suaminya lebih betul, karena jelas tampang lelaki itu kelelahan. Mata panda dan kantungnya semakin jelas terlihat. “Kenapa Papa sulit tidur?”

“Mmm…akhir-akhir ini, Mama kalau tidur mendengkur, jadi Papa nggak bisa bobo deh.”

Oh?