Ditulis oleh Mak Liza Hartono – Jurnal-Emak.blogspot.com

**

Biasanya, emak-emak akan bermasalah dengan beberapa hal pada fisik dan kesehatannya, begitu usia sudah mulai bergeser ke angka 40 tahun.  Yang paling kelihatan adalah perut, entah itu banyak gelambir, buncit, dan tidak lagi ada lekukan seksi.  Kemudian paniklah sebagian besar emak.  Yang ditempuh setelah itu adalah, mencari ramuan apa pun, entah herbal atau suplemen, yang  diklaim sangat ampuh untuk mengempiskan perut.

Hasilnya?  Rata-rata gagal karena memang tingkat ketebalan perut emak-emak seperti kita sudah lumayan akut.  Tidak mudah mengempeskan perut hanya dengan minum pil diet atau pengecil perut yang berpotensi membahayakan ginjal kalau dikosumsi dengan waktu yang lama.

Jarang emak-emak melirik olah raga sebagai bagian dari usaha untuk menurunkan berat badan terutama merampingkan perut dan pinggang.  Di sebuah group diet yang saya ikuti di FB, fenomena itu terjadi.  Jika ada yang share, cara cepat dan instan untuk menurunkan berat badan, dalam hitungan detik banyak yang komentar.  Intinyanya mereka tertarik dan mempertanyakan step-stepnya.  Padahal biasanya, crash diet ini, atau diet cepat dan instan, membuat pelakunya harus berlapar-lapar dan kekurangan satu atau dua unsur asupan gizi.  Dan justru memaksakan diri berlapar-lapar itu mempunyai efek yang tidak bagus untuk pencernaan.  Yang paling mudah, bisa terjadi gangguan maag.  Atau juga diet model begini biasanya membuat orang menghindari garam atau gula secara berlebihan, di mana sesungguhnya tubuh manusia masih membutuhkannya meskipun sedikit.

Pada banyak kejadian kekurangan garam akan terjadi hiponatremia, yaitu terjadi ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi karena tingkat natrium darah dibawah 135 mEq/L, seperti dilansir Mayoclinic, Selasa (27/9/2011). Dan efek dari keadaan itu adalah penderita mengalami kantuk, kelelahan dan kebingungan.  Si penderita pun mengalami masalah pada memory dan menjadi sering lupa.

Dan jika terus menerus tubuh kekurangan zat natrium , maka kita akan mengalami gejala muntah-muntah, diare, gagal ginjal, jantung atau juga mengalami sirosis hati.

Kekurangan gula dalam tubuh pun, ada banyak efek sampingnya, seperti: mudah lapar, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, merubah perilaku dan juga kejang-kejang.

Diet yang menghindari atau bahkan melarang pemakaian gula dan garam sama sekali, itu justru merusak kesehatan tubuh.  Padahal biasanya, diet-diet seperti ini membutuhkan beberapa hari pelaksanaan, bisa dibayangkan jika tubuh dalam jangka waktu tertentu tidak diberi asupan garam dan gula, kan?

Di layanan iklan kesehatan bahkan sudah ditegaskan, bahwa tubuh dianjurkan mengkonsumsi 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak.  Jadi tidak ada dalam anjuran kesehatan untuk menghilangkan kosumsi gula dan garam, kecuali mungkin untuk pasien hipertensi atau diabetes.

Nah, jelas kan kalau dua unsur itu, yang sering dihilangkan pada metode crash diet, diperlukan oleh tubuh?

Saran yang lain yaitu olah raga dan mengatur pola makan. Saran ini justru jarang mendapatkan respon yang bagus dan cepat dari banyak emak-emak.  Padahal dalam aturan diet, pembentukan dan penurunan tubuh itu komposisinya adalah 70% dari pengaturan pola makan (bukan berlapar-lapar ya, tetapi mengatur asupan makanan kita) dan 30% dari olah raga.  Jadi olah raga diperlukan, bukan?   Sayangnya yang 30% dari olah raga ini justru diabaikan oleh sebagian besar emak-emak.  Dengan alasan utama, yaitu: REPOT.

Repot mengurus anak, repot menguruh rumah, repot dengan kerjaannya.  Dan yang paling sering menjadi alasan adalah, “dengan beres-beres rumah dan jaga anak juga mengeluarkan banyak keringat, olah raga juga namanya.”  Padahal olah raga itu adalah latihan fisik, dimana ada gerakan-gerakan tertentu untuk mengolah kalori menjadi tenaga,  memompa jantung secara optimal, dan juga ada bagian-bagian dalam tubuh yang dibentuk melalui olah raga.  Olah raga sendiri melakukan gerakan yang teratur dan terarah yang jelas manfaatnya bagus untuk jantung dan pembentukan tubuh.

Lain dengan kegiatan fisik semacam menjaga anak atau beberes rumah.  Kegiatan ini tidak melakukan gerakan yang teratur dan terarah juga tidak mengoptimalkan kerja jantung.  Meskipun berkeringan banyak, itu tidak serta merta menandakan banyaknya kalori yang dibakar pada kegiatan fisik tersebut.

Bandingkan dengan melakukan olah raga kardio yang bisa kita lakukan tanpa menggunakan alat, seperti berlari, jalan cepat, berenang, atau bersepeda.

Jalan cepat dengan durasi 30 menit itu bisa membakar 185 kkal.  Kemudian berlari dalam durasi 30 menit bisa membakar 330 sampai 450 kkal.  Berjalan biasa dalam durasi 30 menit bisa membakar 105 kkal.  Aerobik dalam durasi 60 menit bisa membakar 370 kkal.  Pada olah raga kardio yang lain seperti berenang, bisa membakar kalori sebanyak 360 kkal dalam durasi waktu 30 menit.  Bagaimana dengan jogging (lari-lari kecil)? Jika kita melakukan minimal 30 menit setiap harinya, maka setiap hari kita membakar kalori sebanyak 200 kkal.  Nah besar bukan?

Coba jika kita bandingkan banyaknya kalori yang keluar kalau kita melakukan beberapa pekerjaan rumah.  Memasak dalam waktu 30-60 menit membakar kalori sebanyak 80 sampai 160 kkal.  Beberes rumah sambil berdiri dalam 30 menit hanya membakar 45 sampai 50 kkal.  Beraktifitas sambil duduk selama 30 menit hanya membakar 35 kkal.  Itu mengapa meski kita sampai beres-beres rumah ataupun menajag anak sampai keringat derah keluar, tubuh masih belum benar-benar turun beratnya.  Bahkan ada yang tetap obesitas, meskipun dia rajin bebenah rumah dan memasak, misalnya.  Karena asupan makanan ke dalam tubuh tidak secara optimal dikeluarkan untuk membakar kalori .

Jadi mau bagaimana lagi?  Kita tidak mungkin terus  berlindung dibalik kata, “tidak ada waktu” demi kesehatan diri kan?  Karena bagaimanapun, kelebihan berat badan yang membuat kita over weight atau bahkan obesitas akan memicu berbagai macam gangguan kesehatan pada diri kita.  Jadi penurunan berat badan bukan hanya masalah estetika tubuh semata, juga untuk perbaikan kualitas kesehatan diri kita.  Pada berat tubuh yang ideal pun, olah raga kardio berfungsi untuk tetap menjaga berat badan dan kesehatan tetap stabil meski mungkin kita mengkonsumsi makanan dengan pola yang belum sehat.

Cobalah kita meluangkan waktu, minimal 30 menit untuk bisa berolahraga setiap harinya.  Tidak usah olah raga yang memakan waktu untuk berangkatnya dan terlalu jauh dari lingkungan rumah.  Jogging, jalan cepat setiap pagi di sekitar rumah kita selama minimal 30 menit sudah cukup.  Banyak manfaat dengan melakukan olah raga kardio di pagi hari, seperti jogging, lari, jalan cepat atau jalan biasa, selain turunnya berat badan kita secara perlahan.

Selain menajamkan pandangan, Olah raga kardio di pagi hari bisa wajah kita menjadi cerah, menguatkan jantung dan juga bisa meningkatkan kosentrasi dan menjernihkan pikiran.  Hal-hal baik lainnya yang didapat adalah menghindarkan diri kita dari dimensia, membuat nafas lebih teratur dan lega, membuat kita lelap tidur, dan tentu membuat tulang kita lebih kuat.

Bayangkan, itu manfaat jika setiap pagi kita melakukan olah raga kardio.  Hanya 30 menit yang diambil setiap pagi, tetapi manfaatnya besar.  Jadi kenapa kita tidak memulainya dari besok pagi?