“Nung, Bapak Jumatan dulu, ya.” Lelaki renta itu menatap bayangannya di cermin, memperbaiki kopiah di kepalanya yang baik-baik saja, merapikan baju koko dan sarungnya, lantas meminum air putih yang selalu kusediakan di atas meja makan.

Aku mendesah diam-diam, sebelum akhirnya, dengan terpaksa, memberitahunya sebuah fakta. “Pak, Jumatannya besok, yah. Hari ini kan masih Kamis,” ujarku seceria mungkin, dengan senyum yang tak lepas di bibir, berupaya keras membuat wajah dan suaraku biasa-biasa saja.

“Oh? Masih Kamis, ya?” tanya Bapak dengan nada tak percaya. Sepertinya usahaku tadi tidak terlalu meyakinkan bagi Bapak. Maka aku hanya mengangguk cepat. Lantas gegas beranjak ke dapur sebelum mataku yang tiba-tiba memerah ini, terlihat oleh Bapak.

Kubuka pintu kulkas tanpa bermaksud mengambil atau menyimpan apa pun. Membasuh tanganku yang masih bersih di washtafel, lantas akhirnya mengisi teko dan menyalakan kompor. Menjerang air panas untuk kopi pahit Bapak, demikian jawabanku jika Bapak bertanya.

Tapi di sana, di meja makan yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatku berdiri, Bapak juga berdiri termenung. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tak lama Bapak menarik sebuah kursi, tapi alih-alih duduk, Bapak meletakkan kopiahnya di kursi itu, lantas berjalan perlahan ke kamar, lalu menutup pintu tanpa suara.

Ah, Bapak.

**

“Jadi gimana, Nung?”

“Gimana apanya?”

“Kita jadi nikah kan?” Aku mengesah. Usiaku sudah tiga puluh, ajakan semacam demikian tentu saja sudah aku tunggu-tunggu, tapi sekarang kondisinya tidak memungkinkan. Ada Bapak yang akhir-akhir ini—

“Mmm…,” gumamku tak jelas, membuat Hamdan gusar. “Bapak, Dan,” jelasku singkat.

“Jadi maumu gimana?” Nada suara Hamdan naik satu oktaf lebih tinggi. Aku mengerti jika lelaki di depanku ini marah, dan bahkan memilih untuk mundur. Tapi mungkin aku saja yang akan membuat pilihan untuknya. Demi kebaikan kami berdua.

“Ya sudah, kita putus saja, Dan, ” ujarku akhirnya, lantas menunduk, berupaya menahan air mata yang seperti tergesa ingin keluar. Sunyi. Hamdan tak berkata apa pun, tak bereaksi apa pun.

Meskipun setelah beberapa jenak, Hamdan keluar tanpa kata, meninggalkanku yang menggigit bibir menahan tangis di ruang tamu.

Tentu saja aku mencintai Hamdan, dan perpisahan semacam ini bukanlah sesuatu yang kuharapkan. Teman masa kecilku itu kini menjelma lelaki gagah yang lumayan tampan, aku tak kuasa menolak saat dia menyatakan cinta. Dia memang bukan pengusaha kaya raya atau pemegang jabatan penting di kantor, Hamdan hanya pemilik restoran Mie Ayam yang cukup besar di kota kami. Mobilnya sederhana saja, masih kredit yang entah kapan bisa dilunasi, rumah miliknya pun biasa saja. Tapi setidaknya dia lelaki yang sudah terbukti mampu menghidupi dirinya sendiri, apa lagi yang dicari seorang perempuan?

Hamdan mencintaiku, aku mencintainya. Hamdan melamarku, aku menerimanya. Seharusnya kami segera menikah.

Seharusnya.

Tapi Hamdan terlanjur pergi, dan aku kembali sendiri.

**

“Nung?”

“Iya, Pak,” seruku cepat seraya gegas menemui Bapak di kamar.

“Bapak mau ngambil uang pensiunan,” katanya seraya melipat sarung lantas menyimpannya di atas tempat tidur. Aku mendeguk ludah susah payah melihat pakaian yang dikenakan Bapak pagi ini. Celana kainnya berwarna coklat, tapi hem panjang yang dipilihnya berwarna hijau cerah. Bagaimana aku harus mengoreksinya?

“Pak, biar Nung yang ambil pensiunan Bapak, ya?” tawarku hati-hati.

“Nggak usaaah, Bapak sudah janjian sama teman-teman di sana,” kelit Bapak cepat, seperti yang sudah kuduga.

“Oooh…” lirihku putus asa, hampir menyerah. Bapak selalu memerhatikan penampilannya. Kalau guru yang menjelaskan di depan kelas enak dipandang, pelajaran pun lebih mudah diserap, demikian Bapak pernah berteori. Tapi penampilan Bapak pagi ini seperti menodai prinsip yang diimaninya selama ini.

“Pak, nggak pakai kemeja yang ini aja?” tanyaku seraya menyerahkan kemeja coklat muda bergaris favoritnya.

“Memangnya kenapa dengan kemeja yang ini?” Duh, pertanyaan Bapak membuatku sulit mencari jawaban yang tepat.

“Ya nggak apa-apa sih, Pak. Tapi kemeja yang ini seperti lebih cocok dengan celana yang Bapak pakai,” ucapku pelan, berharap Bapak tak curiga. Detik berikutnya Bapak menghadap ke cermin, seolah mencari-cari kesalahan dari kemeja yang dipakainya.

“Memangnya yang ini nggak cocok?” Bapak masih keukeuh dengan pilihannya. Aku memaksakan senyum, menyusut keningku yang tiba-tiba saja berkeringat di kamar berpendingin, mencoba berpikir apa jawabanku yang bisa membuat Bapak bersedia berganti kemeja tanpa merasa tersinggung apalagi marah.

“Kakeeeeeeek,” teriakan Lily menggema dari ruang depan.

“Wah, Nung, ada Lily.” Bapak bergegas keluar kamar, seperti lupa persoalan kemeja dan rencana pergi mengambil pensiunan. Bocah lima tahun itu memang cucu kesayangan Bapak. Lily seperti menjadi semesta Bapak akhir-akhir ini, Bapak akan meninggalkan apa pun yang sedang dilakukannya saat Lily datang.

“Kakeeek.” Keponakanku itu menghambur ke pelukan Bapak, yang memang sudah merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan sang Cucu. Sementara Mbak Marni mendekatiku lantas mendekapku erat.

“Nungki, maaf Mbak baru mampir lagi.” Aku hanya mengangguk mafhum. Seorang working mom sepertinya pastilah sangat sibuk, berbeda dengan pekerjaanku sebagai penerjemah lepas yang bisa bekerja dari rumah. Kunjungan di hari Selasa pagi semacam ini dari kakakku satu-satunya ini sangatlah jarang terjadi. “Gimana Bapak?”

Aku menghela napas panjang, lantas menariknya sedikit menjauh dari Bapak yang sedang terkekeh-kekeh menyimak celoteh Lily yang seperti tak bernapas bercerita ini itu. “Tambah parah, Mbak,” jelasku sedih.

“Tambah parah?”

Aku mengangguk, lantas menggerakkan kepala ke arah Bapak sebagai tanda untuk Mbak Marni. Sedetik kemudian Mbak Marni mengerti apa yang kumaksud, lantas menghela napas panjang.

Jeda yang sunyi. Aku tahu Mbak Marni sama bingungnya denganku. Tapi apa yang bisa kami lakukan untuk Demensia Bapak ini? Bagaimana bisa kami berupaya mengobatinya jika Bapak sendiri tidak menyadari dirinya sedang sakit?

“Teman kantorku menyarankan Bapak dirawat di Panti Jompo, Nung.”

“Mbak!” pekikku kaget, mengernyit tidak suka.

“Dengar dulu, Nung,” Mbak Marni membujuk. “Maksud Mbak, di sana banyak tenaga medis yang memang sudah terlatih untuk menghadapi lansia dengan penyakit seperti Bapak.”

“Nanti Nung bisa belajar, Mbak. Nanti Nung cari infonya bagaimana merawat seorang lansia dengan kondisi seperti Bapak.” Kudengar Mbak Marni kembali menghela napas panjang. Dia pasti sudah menyerah, dia tahu tidak akan bisa menggoyahkan keinginan adiknya yang keras kepala ini. Toh aku masih bisa merawat Bapak, ada Bi Inah yang membantu pekerjaan rumah, ada Mang Ujang yang bisa menyupiri kami dan menjaga rumah ini. Untuk apa mengirim Bapak ke Panti Jombo segala? Blah!

“Terserah kamulah, Nung.”

“Nung mengerti maksud Mbak Marni, maaf kalau tadi Nung marah. Tapi nggak usahlah Mbak, biar Nung merawat Bapak di rumah.”

“Hamdan bagaimana?”

Jeda datang lagi. Aku enggan bercerita. Tapi walau bagaimanapun Mbak Marni harus tahu.

“Kami putus, Mbak.”

“Nung!” Aku hanya tersenyum, lantas memeluk pinggang Mbak Marni, aku tahu hal itu bisa membuatnya tak jadi marah. “Kamu harus menikah, Nung,” kata Mbak Marni, terdengar begitu putus asa. Kalau urusan menikah, terkadang memang orang lain yang justru lebih khawatir daripada kita sendiri.

“Iya, tahu. Tapi ngga harus besok, kan?” tanyaku mencoba bercanda. Lagi-lagi Mbak Marni menghela napas panjang. Kasihan juga kakakku ini, pasti sulit memiliki adik sekeras kepala sepertiku. Kupeluk pinggangnya lebih erat.

Lantas jeda lagi. Membuat kami melamun sendiri-sendiri, seraya menonton Bapak dan Lily yang sedang tergelak entah menertawakan apa.

“Lily mau ikut Kakek mengambil pensiunan?”

“Mauuuu.” Seruan Lily menghentikan lamunan kami berdua. Ada yang paling mendesak saat ini, urgent, bagaimana caranya mencegah Bapak keluar rumah berpakaian semacam demikian?

Tapi Lily rupanya punya cara tersendiri. “Kakek, Kakek tidak akan memakai celana coklat dan kemeja hijau ini keluar rumah, kan? Nggak bagus dilihat, Keeeeek. Lily temani ganti baju ya.”

Aku dan Mbak Marni menundukkan kepala, tak berani melihat ke arah mereka.

**

Aku masih berkabung, saat Hamdan kembali mengetuk rumah malam itu.

“Lagi marahan sama Hamdan?” tanya Bapak saat aku enggan menemuinya. Padahal teh hangat yang disajikan Bi Inah mungkin kini sudah mendingin.

“Eh…heuheu, mmm….” Gugup, aku tak sanggup menjawab pertanyaan Bapak. Mungkin menghadapi Hamdan akan jauh lebih mudah daripada harus bingung di depan Bapak begini. “Nungki ke depan dulu ya, Pak.” Dan aku langsung beranjak melarikan diri.

Tapi pelarianku pada Hamdan tentu saja tidak menyelesaikan masalah.

“Kamu serius mau kita putus?” Tanpa basa basi apa pun Hamdan langsung mencecar.

“Dan, aku…”

“Aku serius sama kamu, Nung! Kamu serius nggak sih sama aku?”

“Ya serius, toh kita bukan abege lagi, aku juga bersedia kok jadi istri kamu. Tapi kan…”

“Ya sudah, ayo kita nikah!”

Aku menatap Hamdan lurus. Ada kesungguhan yang terbaca jelas di mata tembaga itu. Aku tersanjung dia mencintaiku sedemikian besar, menepis ego kelelakiannya dan kembali datang untuk memintaku menikahinya.

Tak ada masalah berarti di antara kami berdua. Kecuali Bapak.

Iya, Bapak.

Aku sudah menjelaskan padanya perihal Bapak, dan bahwa karena alasan itulah aku harus mempertimbangkan kembali rencana pernikahan kami. Aku ingin menemani Bapak di masa-masa sulit ini. Sejak Ibu berpulang dua tahun lalu, aku sudah seperti tempat bergantung Bapak. Kopi buatan Bi Inah tidak enak, pijatan kaki Mang Ujang kurang nyaman, masakan Mbak Marni keasinan. Bapak hanya mau kopi buatan Nungki. Pijatan a la Nungki. Makanan yang dimasak Nungki.

“Kalau kita menikah, aku….”

“Bapak ikut kita, kita pindah ke rumahku,” potong Hamdan cepat, seperti tahu apa yang akan aku katakan.

“Tapi pasti Bapak menolak, Dan,” sahutku gusar. Tak bisa kupingkiri aku tidak menyangka Hamdan akan berkata demikian, dan itu sangat menggembirakan. Lelaki itu tidak hanya menyayangiku, tapi juga keluargaku.

“Kita tidak akan pernah tahu Bapak menolak atau tidak jika kita belum bertanya padanya, Nung.”

“Tapi, Dan.”

“Kamu menikahlah dengan Hamdan, Nung.” Entah sejak kapan, Bapak berdiri di depan kami. Hamdan sigap berdiri, mencium tangan Bapak lantas membantunya duduk.

“Saya ingin sekali menjadikan Nungki istri saya, Pak.” Bapak hanya mengangguk-angguk, pernyataan itu sudah terlalu sering dia dengar.

“Bapak tahu Bapak mulai pikun, Nung.” Deg. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata Bapak yang tengah memandangku. “Tapi Bapak akan baik-baik saja. Toh rumah kalian nanti tidak seberapa jauh.”

“Kalau siang Nungki bisa seharian ada di sini, Pak,” tukas Hamdan cepat, membuatku menyepak kakinya di bawah meja. Jadi maksud dia aku cuma istrinya saat malam tiba? Hih! “Atau Bapak bisa tinggal di rumah kami nanti, memang tidak sebesar rumah ini, Pak. Tapi…” Hamdan berhenti sendiri, karena Bapak tiba-tiba saja bertanya.

“Maaf, anak ini siapa ya? Ada hubungan apa dengan putri saya Nungki?” tanyanya ramah seraya mengulurkan tangan untuk dijabat.

Duh. Bapak.

**

Note: Pernah diikutkan dalam “Lomba Menulis tentang Alzheimer Februari 2015“.