Maks, berapa halaman tulisan mampu Emaks hasilkan dalam sehari? Atau berapa lama sebuah artikel bisa Emak tuntaskan hingga layak baca dan published di blog?

Banyaknya tulisan yang dihasilkan biasanya tergantung pada produktivitas kita. Betul?

Being more productive is about working smarter, not harder, and making the most of each day. Begitu kata Rachel Gillett, dalam artikelnya mengenai produktivitas kerja di situs Business Insider.

Nah, sekarang coba kita lihat yuk, Mak, apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan produktivitas ngeblog.

1. Jadwalkan!

Satu alat yang akan sangat membantu kita untuk meningkatkan produktivitas adalah pengatur waktu, dalam hal ini adalah jadwal. Dengan jadwal, kita bisa dengan tepat menentukan alokasi waktu untuk ngeblog, dan kapan kita harus berhenti ngeblog untuk mengerjakan tugas yang lainnya. Tujuannya hanya satu, kita bisa fokus saat lagi menulis dan kita juga nggak keganggu pengin ngeblog saat sedang mengerjakan yang lain. Betul, karena kunci produktivitas juga cuma satu, yaitu fokus.

Jadi gimana cara menjadwalkannya?

  • Temukan waktu di mana kita bisa sangat produktif menulis. Tiap orang punya waktu produktif berbeda-beda, Maks. Buat saya, waktu paling tepat dan produktif untuk menulis adalah malam pukul 22.00 – 00.00.
  • Pada jam-jam itu, saya harus menulis! Bukan nggambar, bukan blogwalking, bukan buat webwalking, apalagi buat sosmed-an. Nulis!
  • Kalau tulisan belum rampung pada jam tersebut, sedangkan deadline ketat, saya akan lihat jadwal. Kapan saya benar-benar bisa terbebas dari gangguan. Biasanya sih sekitar pukul 07.00 – 09.00 pagi, saya masih bisa fokus nulis tanpa gangguan.
  • Tapi kalau masih terus bisa saya lakukan hanya dalam waktu produktif tersebut, ya saya lakukan dalam waktu produktif itu. Di luar jam itu, sebisa mungkin saya mengerjakan yang lain. Dan nggak nulis sama sekali.

Jadi intinya, kenali aktivitas Emaks sendiri. Kapan bisa bebas gangguan, kapan waktu penuh gangguan. Kalau biasanya sih buat emak-emak, saat yang paling produktif buat nulis adalah pas anak-anak lagi sekolah atau pas udah pada tidur.

2. Buang semua pengganggu!

Saat sudah waktunya menulis, segera singkirkan semua pengganggu.

  • Matikan smartphone, minimal di-silent. Kalau Emaks menulis dengan smartphone, ya bisa diaturlah ya, Maks. Pasti Emaks bisa deh membuat diri sendiri lebih fokus di sini. Belajar mengabaikan dulu, mungkin?
  • Logout semua media sosial. Twitter, Facebook, Path dan seterusnya memang asyik buat digauli ya? Hehe. Dan itu juga yang membuat kita betah berlama-lama di sana, sampai lupa nulis. Sosmed-an juga lebih baik dibatasi dalam jam-jam tertentu saja. Di luar jam itu, sebaiknya logout saja, Mak.

3. Prioritas!

Seringkali kita gagal fokus dalam melakukan sesuatu, Maks. Suka nyadar nggak? Kita lebih suka stalking orang buat dapeting hosip-hosip terbaru. Komen sana komen sini, ngikik sana ngikik sini sampai berjam-jam tanpa nyadar. Atau tiba-tiba saja terjebak dan nggak bisa move on kalau udah liat-liat online shop. Lupa waktu kalau udah milih buku atau alat gambar. *eh itu mah saya kali*

Saya sendiri biasanya lebih suka untuk mencari tahu dari sumbernya. Misalnya soal dofollow dan nofollow tempo hari. Saya memang agak telat tahu, karena saya kurang memerhatikan medsos saat itu gara-gara lagi dikejar deadline project. Penasaran sih. Banget. Tapi ketimbang saya cuma scrolling di medsos liat status-status, lalu ikut nimbrung, mending saya cari tahu langsung ke Google. Ada apa sebenarnya? Dari situ saya bisa langsung dapat jawaban. Kalau saya belum puas, ya saya cari tahu solusinya. Dan harusnya memang saya membatasi diri sendiri, kapan saya harus berhenti ngepoin. Supaya nggak berlarut-larut hingga jadinya alih-alih kita menyerap ilmu jadinya malah membuang waktu.

Prioritas. Tentukan skala prioritas apa saja yang akan kita lakukan hari itu setiap pagi. Prioritas biasanya bisa mengingatkan kita untuk kembali ke track kalau kita udah gagal fokus.

4. No multitasking!

Perempuan konon dianugerahi kemampuan untuk multitasking. Itu memang kelebihan kita, Maks. Tapi nyadar nggak, kalau itu juga menjadi kelemahan kita. Karena apa? Akibatnya ya, lagi-lagi, jadi gagal fokus. Bahkan kita (atau saya sendiri, sebelumnya) juga menulis sambil multitasking. Nulis sambil ngedit. Nulis sambil nyari foto yang pas. Nulis sambil bikin infografis. Dan seterusnya.

Coba diubah kebiasaan multitasking-nya, Maks. Bahwa sebenarnya menulis di blog itu prosesnya tetap harus diawali dengan outlining, atau membuat kerangka berpikir. Ini tentunya hanya berlaku untuk tulisan misalnya yang mau diikutkan lomba, atau sifatnya reportase atau review ya. Kalau curhat-curhat geje mah bebas aja 😀

Dalam outline itu, kita juga sudah harus menentukan mau pakai foto apa, infografis apa, dan seterusnya. Jadi kalau mau dirunutkan, poin-poinnya adalah sebagai berikut:

  • Outlining, sampai selesai
  • Nulis, sampai selesai
  • Editing, sampai selesai
  • Garnishing, sampai selesai (termasuk membuat infografis, me-retouch foto dan lain-lain)

Dengan melakukannya secara berurutan dan one by one, percaya deh, malah akan lebih cepat selesai.

5. Menulis saat ide sudah siap

Laptop dinyalakan, sudah bikin kopi buat menemani nulis, duduk, terus … baru mikir, “Mau nulis apa ya?”

Aduh, Maks, itu buang waktu banget! Atau kondisi begini.

“Ih, nggak ada ide hari ini. Besok aja deh. Nunggu ide datang.”

Kapan-kapan udah itu, Maks, datangnya.

Memikirkan ide saat mau nulis, buang waktu, Maks. Kita harus sudah tahu apa yang ingin ditulis, begitu kita membuka laptop. Nah, berarti yang perlu kita latih di sini adalah kepekaan kita menangkap ide.

Ide itu memang ada dengan dua cara; datang dengan sendirinya, atau kita cari. Kalau nggak datang juga, ya harus dicari. Saya sendiri punya tabungan ide yang panjang, semua adalah hasil saya jalan-jalan ke sana kemari, offline maupun online. Jadi, ada dua cara buat menangkap ide ini, Maks.

Silakan meluncur 🙂

Nah, Emaks. Semoga dengan beberapa tips produktivitas di atas, Emaks bisa lebih maksimal ngeblognya ya. Nulisnya bisa lebih cepat, atau bisa menghasilkan lebih banyak artikel, tentu dengan kualitas yang juga bagus.

Selamat menulis!