Ketika Jam Belajar merenggut Kebebasan Bermain Siswa. Tiba-tiba saja saya menyulap diri menjadi pengamat pendidikan ketika mendengar rumor bahwa Pak Mendikbud, Muhadjir Effendy, yang belum sebulan dilantik oleh Presiden Jokowi mengeluarkan ide sistem Full Day School untuk pendidikan dasar dan menengah.

Perkara pendidikan sejatinya saya tak mau ambil pusing. Apalah saya, Guru bukan. Anak juga belum ada. Mengapa saya harus ikut heboh? Dan sejak menggantungkan seragam sekolah beberapa tahun lalu saya sudah tidak update lagi urusan pendidikan. Cukup tau saja, ternyata Ebtanas tidak benar-benar ditiadakan. Hanya namanya saja yang diganti menjadi UNAS lalu disingkat UN.

Kesimpulannya, menuju tahap kelulusan tingkat pendidikan, siswa tidak langsung melenggang mengambil ijazah di depan Kepala Sekolah melainkan melalui tahap Ulangan.  Diotak-atik seperti apa, sebelum mencapai finish, murid harus mengisi soal. Begitu, kan? Lagi-lagi, intinya Teori, teori, dan teori!

Saya tergelitik dengan ucapan Pak Mendikbud yang dilansir portal online, Kompas. Begini bunyinya: “Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja”

Pertanyaan saya, bagaimana jika si orangtua murid tidak bekerja di luar rumah? apakah untuk mereka diberikan dispensasi pulang cepat?

Apakah guru sanggup mendengarkan keluhan anak didiknya sesabar orangtuanya? Bagaimana mengatasi sikap anak yang bermasalah dengan teman sebangkunya?

Perlu dicatat, sekolah umum bukan sekolah pesantren. Pendidik di sekolah umum tidak sama dengan guru pesantren. Kurikulum sekolah umum berbeda dengan kurikulum pesantren.

Boleh dong saya cerita sedikit. Pada saat sekolah SMP dulu saya termasuk anak yang tertekan di sekolah. Kelas satu masuk jam 11.45 pulang jam 17.45 dan harus dilakoni dari Senin sampai Sabtu. Selama 6 hari itu otak saya rasanya seperti dikuras. Bobot pelajaran berat, uang saku tak memadai untuk jajan di kantin, pulang sekolah masih harus mengerjakan PR.

Ditambah lagi hari Minggu masih ada kewajiban extrakurikuler Pramuka jam 07.00-11.00. Judulnya extrakurikuler, tapi sekolah mewajibkan anak kelas 1 ikut. Gak hadir Extra Pramuka tanpa surat dokter, hari Senin dipajang di lapangan di bawah tiang bendera!

Melihat keadaan saya yang setiap hari lelah dan payah, saya kerap bolos sekolah. Bolosnya di rumah, tapi ya. Caranya saya buat surat ijin sakit. Suka-suka saya buat alasan. Sakit gigi, pusing, dan apalah, pokoknya males sekolah, aja. Pengennya tidur di rumah. Walaupun surat itu saya yang nulis dan saya pula yang tanda tangan, tapi saya ijin Ibuk kalau bolos sekolah.

“Buk, saya bolos, ya?”

“Kenapa bolos?” tanya Ibuk saya. Nada tanyanya santai dan gak kaget

“Males, Buk. Capek”

Sak karepmu (Terserah kamu). Pokoknya awas aja kalau sampai gak naik kelas”

Jawaban Ibuk saya singkat tapi menuntut jawab. Kebebasan yang diberikan Ibuk saya cukup membuat semangat saya memacu nilai tinggi, meskipun sering bolos haha..

Tak jarang Ibuk saya membebaskan main sampai pulang larut.

“Kalau main, bilang main ke rumah siapa. Sampai jam 10 malam gak pulang, pintu rumah dikunci!”

Lagi-lagi, kebebasan yang menuntut jawab. Sekedar berbagi cerita masa sekolah saya dulu lho ya, tentunya berbeda keadaannya dengan kondisi sekarang.

Pada intinya pendidikan karakter penting ditanamkan ke anak. Pelajaran di sekolah juga sama pentingnya, tapi sosialisasi masyarakat anak di sekitar tempat tinggal juga sangat  penting. Anak usia dasar dan menengah sedang belajar mengenal karakter orang dewasa agar nantinya mereka paham unggah-ungguh etika bermasyarakat. Cara bertemu orang baru, bagaimana reaksi hidup di komunitas yang berbeda sehingga tidak melulu ketemu teman dan guru.

Jika memang suatu hari nanti Full Day School benar-benar diterapkan, saya hanya minta kepada guru memberikan sedikit waktu luang anak untuk bebas melakukan kegiatan bermanfaat sesuai keinginannya. Jangan mumpung jam belajarnya panjang lalu jam pelajarannya ditambah. Jangan suruh anak belajar terus menerus. Jika perlu guru mengadakan studi banding ke pesantren. Begitu pun Pemerintah, jangan menuntut guru dan murid mengejar nilai ujian tinggi. Sekolah memang tempat belajar. Tapi sekolah bukan tempat menghapal teori.