Kipas batik berwarna marun. Pensil kayu bertuliskan Ernest Hemmingway di ujungnya. Flash Disk berbentuk kamera SLR. Cincin emas putih bermata besar. Gantungan kunci berbentuk gajah khas Thailand. Gelang akar bahar hitam. Novel Karena Cinta Itu Sempurna karya Indi.

Hanya ada tujuh benda dalam kotak segi empat kecil itu. Tidak banyak, meski tidak juga bisa dibilang sedikit. Yang jelas, otakku dengan random segera kembali ke masa-masa benda itu aku terima dari seorang lelaki yang sama bernama Rimba. Lelaki yang entah kapan bisa aku relakan.

***

“Mi, temenin gue kondangan dong?”

“Pacar lo kemana?”

“Pacar gue yang mana?”

“Si Mulan? Lulu? Tiara? Dini?”

“Anggep aja gue lagi jomblo. Nanti suvenirnya buat lo deh. Mau yaa. Kan lo sahabat gue.”

Dan si kipas lipat batik berwarna marun itu pun menjadi milikku.

***

“Rim, si Bona ini lucu banget ya. Gajah tapi warnanya pink, nduuuttt tapi belalainya panjang.” Saat itu aku meracau membaca majalah Bobo entah edisi kapan yang hampir menguning.

“Mia, kita nih udah jadi mahasiswa lho.”

“So?”

Grow up dong!”

“Sebodo.”

“Nih, gue punya gantungan kunci gajah. Pink lagi. Buat lo deh.”

“Hah? Seriusan, Rim? Makasiiiiih. Lo emang deh sahabat yang pengertian banget.”

Spontan aku memeluknya. Sekejap lupa kalau kami bukan lagi dua sahabat yang dulu sering bermain bersama. Jengah sesaat. Dan kemudian Rimba berlalu dari kamar kostanku tanpa kata.

***

“Mi, simpenin cincin ini buat gue ya.”

“Hah?”

“Ish, budek ya? Simpenin cincin ini.”

“Iya, gue denger. Tapi kenapa?”

“Itu punya nyokap gue, dulu punya nenek gue, dulunya lagi punya eyang buyut gue.”

“Trus?”

“Yaa … lo simpen aja.”

“Tapi, Rim …”

“Iya,  lo pake juga boleh kok.”

“Tapi kenapa harus gue, Rim?”

“Lo kan sahabat terbaik gue, Mi.”

Lantas lagi-lagi Rimba beranjak dalam diam. Membuatku menatap sang cincin tak mengerti.

***

“Rim, udah gue putuskan, kalo udah gede gue kepengen jadi fotografer.” Saat itu kami masih berseragam putih biru.

“Halah! Kemarin katanya mau jadi penulis?”

“Iya … iya …, pensil Hemmingway dari lo masih gue simpen kok. Dan gue masih kepengen jadi penulis, tapi yang tukang potret juga.”

“Yawda nih, flash disk ini buat lo. Ntar kalo lo udah banyak duit beli kamera gede beneran ya.”

“Waahhh… Keren banget nih flash disk, bentuknya SLR!”

Glad to know you love it.”

Thanks, Rim.”

Anytime.

“Lo tau, kan? Lo sahabat terbaik gue.”

“Iya, gue emang sahabat terbaik lo, Mia,” ucapnya saat itu dengan mantap.

Dan aku sungguh-sungguh memiliki kamera besar itu sekarang. Meski sayangnya, aku belum memotret Rimba dengan kamera itu satu kali pun.

***

“Mi, gue mau pergi.”

“Maksud lo?”

“Gue nerusin kuliah di Belanda.”

“Hah?”

“Kuliah gratisan di Belanda!”

“Beasiswa yang lo apply kemarin lolos??”

“Gitu deh.”

“Kok lo enggak ngasih tau gue?”

“Karena akhir-akhir ini lo terlalu sibuk sama Dito, jadi gue enggak mau ganggu.” Aku ingat betul, hatiku mencelos.

Dito adalah pacar pertamaku setelah 22 tahun selalu menjomblo, tapi rupanya keadaan itu justru telah membuat Rimba, sahabatku dari kecil seperti tersisih, dan bahkan sengaja menjauh.

“Rim, gue…”

“Nih, buat lo, Mi.” ucapnya cepat memotong, sebuah buku dan gelang yang tempo hari aku ceritakan padanya ingin kumiliki. Karena Cinta Itu Sempurna? Maksudnya?

“Ini… ini apa, Rim?”

“Iya, gue sejak dulu sebenernya suka sama lo, Mi. Tapi kita kan sahabat dari kecil. Jadi yaa …” kalimat Rimba menggantung.

Detik berikutnya dia memelukku, erat, lama, seperti sebuah pelukan perpisahan. Dan memang itulah terakhir kali aku melihatnya.

***

Bibirku tersenyum menahan air mata yang terlanjur gerimis di pipi. Sudah terlambat untuk mengatakan pada Rimba, bahwa aku pun mencintainya. Selalu. Tapi aku terlampau takut untuk bertanya, juga terlanjur pengecut untuk bicara. Dan kami berdua menyesalinya.

Maka kotak kecil ini adalah kepingan terakhir nostalgi kami berdua, karena Rimba -juga mama papanya- telah berada di surga akibat kecelakaan pesawat yang akan membawa mereka ke Belanda bertahun lalu.

“Maa…” Sebuah seruan diiringi pintu yang mengayun tertutup menghentikan nostalgiku. Suamiku pulang.

Perlahan, kusimpan lagi kotak itu di sudut lemari. Tempat Rimba dan semua kenangan tentangnya berada.