Berawal dari sebuah email, seseorang menawari saya untuk menulis artikel seputar pariwisata Indonesia. Beliau minta saya untuk mengisi webnya minimal dua kali sehari dengan artikel orisinil, panjang, dan SEO friendly. Fee-nya? Lumayanlah. Per artikelnya dihargai dolar, meski dia orang Indonesia. Bayarnya pakai paypal, yang sampai sekarang masih saya diemin aja di sana. *Sambil komat kamit, seandainya ada bunga diberlakukan untuk setiap simpanan di Paypal*

Pada kesempatan lain, seseorang juga pernah mengirimkan email pada saya, mengajak kerja sama. Beliau merupakan seorang webmaster untuk sebuah grup penerbitan buku yang cukup besar, meski bukan yang terbesar. Kerja samanya lebih banyak, karena selain saya diminta mengisi konten untuk 3 web lini penerbitannya, saya juga dikirimi buku-buku secara teratur tiap bulan untuk saya review di blog khusus buku saya. Konten yang saya tulis topiknya seputar dunia pendidikan, dan dunia anak. Fee-nya? Meski lebih sedikit dari yang dolar, tapi saya senang-senang saja menerimanya. Lumayan. Buat tambah beli jajan. Toh, masih masuk dalam time frame kerja saya.

Lalu, berbagai kesempatan lain juga datang. Yang terbesar, adalah ketika seorang entrepreneur startup mengirimkan inbox facebook pada saya. Lagi-lagi untuk urusan mengisi konten, dan sekaligus mengelola konten-konten tersebut.

Menjadi penulis konten jangan dibayangkan yang enak-enak saja. Yang saya sebutkan di atas, memang adalah hasil yang didapat. Tapi saat menjalaninya, nggak ada yang tahu betapa saya jumpalitan untuk memenuhi target. Apa saja yang sih yang dikerjakan?

Saya akan share dengan Emaks. Kita buka-bukaan aja deh. Eh, bukan baju yang dibuka, Maks! *tutup mata* tapi soal usaha untuk menjadi seorang content writer professional.

Bahwa, untuk menjadi seorang penulis konten, Emaks perlu mempunyai modal sebagai berikut.

1. Harus rajin membaca

Nggak ada orang yang benar-benar menguasai semua topik. Betul nggak, Maks?

Emaks barangkali jagoan soal nulis hal-hal seputar parenting. Emaks menuliskan semua yang Emaks tahu di blog Emaks.

Tapi, ketika Emaks memutuskan untuk menjadi seorang content writer komersial dan professional, semua yang tadinya keahlian Emaks itu bisa jadi nggak ada yang terpakai. Para penyewa jasa content writer yang menyewa jasa Emaks nggak akan pilih-pilih konten yang sesuai dengan keahlian Emaks. Mereka akan kasih topik dan kerjaan yang sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Dan, masalah pun datang, ketika yang mereka butuhkan ternyata adalah hal yang sama sekali kita nggak tahu.

So, mau menjadi seorang content writer yang sukses? Maka harus rajin membaca. Harus rajin memperluas wawasan. Harus serba tahu. Mungkin harus tahu dari mulai gosip artis sampai soal politik.

Percayalah, jika kita memilih-milih topik yang ingin kita tulis, maka kita akan kalah bersaing dengan yang lain.

2. Harus paham berbagai gaya penulisan

Ada beberapa gaya penulisan yang minimal harus kita pahami, jika ingin menjadi seorang content writer professional dan komersial:

  • News writing: gaya menulis untuk berita aktual
  • Copywriting: gaya menulis untuk iklan atau advertorial
  • Personal writing: yang ini kayak di blog kurang lebih, Maks, jadi ada rasa personal si penulis. Mungkin ada pengalaman atau opini pribadi penulis yang juga diungkapkan.
  • In-depth writing: biasanya ini untuk menganalisis suatu masalah atau topik secara mendalam, ada data, ada penjabaran masalah, penyebab, sampai solusi.

Bagaimana caranya mempelajari semua gaya menulis itu? Ya, praktik, Maks. Saat sedang membaca sesuatu, amati gaya penulisannya. Catat hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulisnya. Lalu, praktikkan di blog. Kebetulan, blog saya yang terdahulu saya jadikan ajang untuk belajar berbagai gaya penulisan. Jadi ya, memang punya blog gado-gado itu memang harus dimanfaatin. Betul? 😀

3. Harus mau susah payah riset

Untuk menulis satu topik, hanya bereferensikan satu artikel saja nggak cukup, Maks. Kita harus banget mencari referensi lain untuk bisa mendukung tulisan kita.

Saya sendiri biasanya akan mencari 2 – 3 artikel lain yang sejenis untuk meyakinkan bahwa yang saya tulis itu benar dan nggak menyesatkan pembaca. Kadang juga ngalamin, sudah baca 3 artikel, tiba-tiba saja angle penulisan saya berubah, gara-gara ada hal yang saya temukan saat riset tersebut. Saya juga sering bertanya pada orang-orang yang sekiranya saya anggap tahu, untuk bisa menambah bahan tulisan.

Sering juga sih, udah niat nulis, riset sana sini, bingung, pusing. Terus mandeg. Writer’s block. Hahahaha. Aduh, jangan ditiru. Tapi yah, kayaknya kondisi demikian ya lumrah saja sih terjadi pada penulis mana pun ya. Jangan tanya deh gimana cara saya mengatasinya. Karena tergantung penyebab writer’s block-nya juga.

Kayak yang saya diminta untuk menulis artikel mengenai dunia pendidikan itu, walah … mana saya ngerti. Tiap hari pan saya cuma antar anak sekolah, pulang jemput. Di rumah saya tungguin belajar ini itu. Mana ngerti saya mengefisiensikan waktu mengajar di kelas, serba serbi menyusun soal ulangan. Hahahaha *ketawa setres* Artikel pendidikan yang benar-benar bisa memuaskan di internet juga ternyata kurang banget. Untung ada teman guru yang mau ditanyai.

Fyuh!

4. Harus fleksibel

Saat kita menulis di blog, bisa saja kita suka-suka. Mau nulis alay juga terserah saja.

Tapi, ketika kita menulis untuk orang lain, kita harus bisa menulis sesuai dengan pesanan. Mau pakai bahasa gaulkah? Atau bahasa formal? Harus sesuai EBI-kah? Bahasa SEO friendly pun beda lagi. Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine.

Misal nih, Maks, kata “utang” adalah kata yang baku sesuai dengan KBBI. Tapi, ternyata, kalau Emaks diminta untuk menulis artikel SEO friendly, kata yang lebih populer adalah “hutang”, bukan “utang”. Kata “utang” tingkat popularitasnya di search engine sangat rendah!

Huhuhu. Pusing pala Emak Barbie. *lalu curcol*

Jadi, kita memang harus bisa fleksibel, menyesuaikan diri dengan pesanan klien. Harus mau berubah-ubah “kepribadian” dalam menulis.

5. Harus paham, bahwa menulis itu nggak cuma menulis doang

Menulis konten itu banyak yang harus dipikirkan, Maks. Misalnya saja nih, kita harus pinter-pinter menyisipkan kata kunci seperti yang diminta oleh klien. Atau harus bisa mewakili “suara” si brand-nya, jika kita diminta untuk copywriting produk brand tersebut. Atau harus tahu ke mana mencari data, jika kita diminta menulis in-depth article mengenai satu masalah.

 

Iya, gitu deh, Maks, artikel semi curcol saya di web Kumpulan Emak Blogger kali ini. Meski masih saja sering ditanyain, “Kok di rumah saja? Enak banget!” yang kadang bikin hati gondok, tapi ya, saya tetap hepi menjalaninya. Hahaha.

Apakah Emaks ada yang berprofesi sebagai content writer seperti saya?

Yuk, Maks, ikutan curcol di kolom komen. Biar saya ada temennya. #eh

 

Ditulis oleh Carolina Ratri

Untuk web Kumpulan Emak Blogger