Sejak lahir, saya cuma bisa mengenal kakek dari mama saja, sementara dari  Apa (sebutan saya untuk bapak) sudah lama meninggal jauh sebelum saya lahir. Kadang saya suka envy kalau lihat teman yang dekat dengan kakeknya yang suka jalan bareng atau menemani pergi ke mana gitu.

Tapi kondisi semua orang kan ga sama, ya. Almarhum kakek saya dari mama itu  seorang pekerja keras. Pagi-pagi sudah pergi mendorong gerobak minyak tanahnya dari gang ke gang. Ga tau deh ke mana aja rutenya waktu itu. Kalau sudah pulang ke rumah, beliau lebih suka menghabiskan waktunya di depan tv sebelum tidur. Bukan tipikal  yang senang pelesiran.  Membanting tulang seharian begitu saja sudah cukup melelahkan juga.  Hmmm cukup segini deh curhatnya.

Waktu saya membaca novel berjudul Pulang tulisan duet duo blogger  Rinrin Indrianie dan Carolina Ratri saya menemukan sosok Aki Engkus yang mewarnai novelnya. Aki yang cengos (suka becanda, sunda) menurut saya, adalah kakeknya Andro, pemuda usia 20an yang merupakan tokoh utama juga di novel ini. Walau kadang ngeselin, punya kakek kayak Aki Engkus ini ternyata seru, lho.

Dialog-dialog antara Aki dan Andro di buku Pulang ini sukses bikin saya ngakak. Berusaha kekinian, mengimbangi satu-satunya cucu tercinta membuat Aki rela pegi ke mana aja termasuk ketika Andro memutuskan pergi mendaki ke Bromo. Aki yang tau kalau Andro sedang suntuk karena diputuskan Milly dan sedang membenci ayahnya itu memutuskan untuk pergi menemani cucu satu-satunya itu. Emmm… semacam naluri ke-kakek-an (ini istilah yang maksa ga, sih?).

Kalau urang Sunda bilang sayangnya kakek-nenek itu adalah nyaah dulang (rasa sayang  yang melebihi limpahan sayang orang tua, memanjakan cucu dengan kadar melewati batas).

Mamanya Andro, Dahlia,  lebih mengkhawatirkan Aki Engkus untuk ikut daripada membiarkan Andro pergi sendiri. Alasan khawatir Andro yang saat itu sedang galau membuat Dahlia membiarkan dua orang laki-laki dalam keluarganya itu pergi juga.  Saya merasakan kekesalan yang sama dengan Andro ketika Aki menyampaikan alasannya untuk keukeuh pergi.  Ga segitunya kali, Ki… 🙂

Novel yang mengambil sudut pandang aku membuat saya atau pembaca lainnya seakan menyimak curhat satu persatu tokohnya. Selain Andro, Dahlia dan Aki, Arnandi ayahnya Andro itu,  Milly  gadis yang bikin Andro patah hati,  Oma Cing Cing tetangga sebelah yang kepoan luar biasa, Bi Nah, ART yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Dahlia, dan Mel,   gadis cantik di kereta menuju Surabaya yang berjumpa Aki dan Andro secara bergantian bercerita dalam buku ini.

Saya berusaha nebak-nebak lho mana karakter yang dituliskan oleh Orin dan mana yang dituliskan oleh Carra. Ada yang feeling saya kuat dan bener pas ditanyain sama Orin ada juga yang mengambang, bingung saya siapa yang menjadi siapa di novel ini. Orin atau Carra? Hahaha… sudahlah saya memutuskan untuk menghentikan kekepoan saya. Toh Andro misalnya, kan ga kepo juga sama saya nanyain kayak “ Tadi Mel bilang apa sama kamu?”    *emang bisa ya pada nanya gitu?*

Saya kerap dibuat ngikik kalau Aki dan Andro ngobrol. Nih Aki-aki kerjaannya ngabodor (becanda) aja. Meski merasa harga dirinya sebagai aki yag masih jagjag sempet terusik. Aki tau betul kalau Andro yang kepaksa ngejomblo gara-gara diputuskan oleh Milly membuat Kakek lincah itu ngojok-ngojokin Andro membuka hatinya dengan gadis lain, termasuk dengan Mel.

Sebenarnya bukan Andro atau Dahlia – yang pusing dengan kelakukan suaminya Arnandi-  yang direcoki kegundahan. Tokoh-tokoh lainnya pun menghadapi permasalahan juga. Hanya saja di antara para tokoh ini lebih suka menyimpan masalahnya sendiri ketimbang bercerita dengan tokoh lain, berusaha meluruskan masalah yang ada untuk membuka pintu damai.

Mungkin cuma si Aki saja yang dengan kekepoan nan bodornya nya itu berhasil mengorek hati Andro dan Mel  orang asing yang baru ditemuinya dalam hitungan beberapa hari untuk curhat. Berhasil? He did. Pesan moralnya? Jangan mremehkan aki-aki dan menganggapnya ga up to date, ga gaul. Walau gaptek kayak belibet nyebut twitter jadi tuter, Aki Engkus punya pengalaman lain menghadapi rumitnya urusan hati. Makanya walau ngeselin sebenarnya Andro sayang lho sama si Aki.

Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya yang terjeda dengan musibah gerbong kereta di Semarang semakin memercikan panah asmara yang melesat ke hati Mel.  Ini salah satu contoh kalau yang namanya cinta kilat bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja, hihihi… Karena Andro yang terkesan judes itu membuat Mel rada segan untuk mengekspresikan rasa sukanya. Padahal si Aki udah  ngomporin  gitu, lho.

Saya jadi ikutan greget sama Andro karena kecuekannya. Kan biasanya cewek yang jaim gitu kan, ya? Siapa bilang sih kalau jaim itu identik sama perempuan? Ga juga. Tuh Andro buktinya.   Kasian Mel udah kegeeran 😀

Begitu juga soal move on, kayaknya cowok lebih mudah sembuhnya. Eh iya ga? Hahaha… Andro masih mendua hati juga sih, pengen balikan sama Milly tapi ga mungkin. Lalu sama Mel pun ya gitu lah. Padahal love at first sight bisa aja kejadian. Tapi Mel memang punya alasan lain untuk mematahkan panah asmaranya itu.  *pukpukin Mel*

Di sampul depan novel terdapat caption begini:

“Karena mereka yang pergi pasti kembali”

Andro yang ingin memupus kegundahan hatnya pergi ke Bromo pasti harus balik lagi ke Jakarta, berkumpul lagi dengan ibunya (tentu saja bareng Aki Engkus), Mel yang mendadak memutuskan ikut mendaki Bromo pun harus kembali ke Semarang, pulang ke rumah  orangtuanya. Juga Arnandi, suami Dahlia yang sesungguhnya dilingkupi kegundahan karena dosa-dosanya di masa lalu. Ada jeda sekian tahun saat Arnandi menghilang tapi terasa bagai hitungan hari saja menjelang akhir novel ini. Hmmm… time flies, ya.

Saya membaca makna pulang di sini bukan hanya pulang ke rumah saja, tapi pulang ke rasa dalam hati yang sudah  lama menghilang. Sesungguhnya di tengah jejak sakit hati yang ditinggalkan Arnandi, Dahlia masih ingin membuka pintunya bagi suaminya.

Kalau boleh saya bilang, Bi Nah, sang ART yang menafsirkan rangkaian peristiwa kejadian demi kejadian dalam rumah keluarga Dahlia mempunyai peran menentukan akhir cerita perjalanan pulang setiap tokoh di sini. Ga nyalahin juga, karena apa yang dilakukan oleh Bi Nah sebenarnya ungkapan rasa sayang pada Dahlia yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.  Apalagi Bi Nah juga punya pengalaman masa lalu yang pahit dengan mantan suaminya.

Pundung atau sakit hati  bukan hanya meninggalkan  ‘dendam’ dan kata maaf yang tertahan tapi juga bisa jadi penyesalan yang dalam sekali. Selain tertawa ngikik dalam dialog-dialog yang melibatkan Aki, Andro dan Mel, pada bagian lain kita bisa merasakan kesedihan dan kehampaan yang dirasakan tokoh lainnya. Cukup berimbang, 50-50.