ditulis oleh Nur Rochma – http://www.nurrochma.com

Di bulan Agustus ini, kita memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Rakyat Indonesia gegap-gempita menyambutnya. Bendera merah putih berkibar di seluruh penjuru negeri. Dari gang-gang sempit kampung hingga gedung pencakar langit. Dari pesisir pantai hingga puncak gunung.

Saya sempat menyaksikan upacara penurunan bendera di alun-alun kabupaten, walaupun agak tertinggal. Ramai. Semua penonton merasa menjadi bagian dari kesakralan upacara. Hening, pandangan tertuju pada pasukan pengibar bendera merah putih yang berjalan rapi, tertib dan teratur.

Perayaan HUT RI selalu meriah. Dari lingkungan RT, bapak-bapak dan mas-mas turun tangan menghias gapura. Sedangkan ibu-ibu sibuk menyiapkan acara malam tirakatan hingga hadiah lomba Agustusan. Anak-anak tak ketinggalan, ikut lomba-lomba tujuhbelasan.

Senang melihat keseruan di bulan Agustus ini. Semuanya bahu-membahu demi terselenggaranya peringatan hari kemerdekaan. Ada yang membantu dengan harta, tenaga dan pikiran. Tak mengenal lelah, justru sebaliknya senyum bahagia mengembang diantara kesibukan tersebut.

Jika ditelusuri, perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan tak lepas dari peranan wanita. Kita mengenal Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Laksamana Malahayati, Nyi Ageng Serang dan Martha Christina Tiahahu. Mereka adalah pahlawan yang rela mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Di bidang pendidikan ada R.A. Kartini dan Dewi Sartika, yang gigih memajukan wanita-wanita pribumi. Masih banyak lagi wanita hebat yang sangat peduli akan nasib bangsa Indonesia. Yang namanya tercatat maupun tak tercatat oleh tinta sejarah.

Memaknai Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Kemerdekaan adalah anugrah yang sudah selayaknya kita syukuri dan rawat. Kita tidak perlu memegang senjata untuk mempertahankan diri. Kita juga tidak perlu belajar secara sembunyi-sembunyi. Kita bisa beraktivitas dengan layak.

Seringkali kemerdekaan dianggap sebagai kebebasan. Bebas bersuara dan beraktivitas sebebas-bebasnya? Tidak! Merdeka adalah tentang kebebasan yang bertanggung jawab. Setiap peran yang kita lakukan memiliki tanggung jawab moral sebagai warga negara Indonesia yang patuh pada hukum dan menjunjung adab kesopanan.

Nah, makna kemerdekaan begitu luas, meliputi seluruh aspek kehidupan. Namun, bolehlah saya merangkumnya menjadi beberapa bagian:

  1. Menyebarkan kedamaian. Bukan menyebarkan berita hoax yang bisa meresahkan orang. Bahkan semakin banyak yang menikmati hoax semakin menyesatkan pikiran banyak orang.
  2. Menikmati keberagaman. Indonesia terdiri dari banyak suku, adat istiadat, bahasa daerah dan segala yang menyertainya. Alangkah kayanya negara kita. Ada banyak makanan daerah yang rasanya selalu menggoda. Juga wisata-wisata lokal yang elok. Ada banyak pakaian daerah yang begitu khas. Tidak ada yang benar-benar paling bagus. Karena sesungguhnya semua memiliki keunikan dan keindahannya sendiri.
  3. Mendorong anak bangsa untuk berkarya. Kemerdekaan ini memungkinkan bangsa Indonesia menumbuhkan semangat berkarya di berbagai bidang. Tidak peduli kita yang berasal dari pelosok negeri, kita memiliki hak yang sama untuk terus berkarya demi kemajuan Indonesia.
  4. Menuju kemerdekaan ekonomi. Di mulai dari diri sendiri, memerdekakan diri dari jeratan hutang, dan gaya hidup yang hedonis. Memberdayakan potensi lokal dengan mencintai produk dalam negeri. Memilih hidup sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing.
  5. Mengembangkan sikap toleransi dan saling menghargai. Siapa sih yang tidak ingin hidup di negara yang rakyatnya rukun dan damai! Saya pasti angkat tangan tinggi-tinggi. Ayo para ibu, apa yang kita lakukan menjadi teladan bagi anak-anak. Jangan mudah terpancing isu-isu tak jelas. Perbedaan itu selalu ada. Tapi tidak perlu dibesar-besarkan, cukup dengan berlapang dada dan menghargai.

Meriahnya perayaan kemerdekaan bukan sekedar simbol pengingat perjuangan para pahlawan. Perayaan kemerdekaan adalah tentang teguhnya persatuan bangsa Indonesia. Tidak mempertentangkan antara  stay at home mom maupun working mom. Tidak terpengaruh dengan ramainya lini masa tentang melahirkan secara normal maupun caesar, ASI dan Sufor, Vaksin dan antivaksin, dsb.

Tidak akan ada habisnya ketika kita menjadi bagian dari mom wars. Dari zaman saya baru memiliki satu anak hingga tiga anak, pertentangan semacam ini terus ada. Kadang timbul lalu tenggelam dan timbul lagi.

Semua merasa lebih tahu, lebih paham dan lebih ahli daripada lainnya. Terjebak dengan dalil-dalil yang dianggap paling akurat. Lalu meremehkan yang lain. Yang ada hanya menguras tenaga dan pikiran. Sementara tugas-tugas kita terbengkalai.

Menjadi ibu rumah tangga maupun ibu bekerja sama-sama mampu memberikan manfaat. Jika ibu dapat mengelola waktu, emosi dan ilmunya dengan baik, tak ada yang dirugikan. Justru peranan kita sangat diharapkan.

Apapun profesi kita, ibu mampu menjadi bagian yang penting, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Menemani anak-anak menggapai cita-cita mulia mereka dengan segala kerepotannya. Menjadi ibu berarti  mengasah kepekaan kita terhadap sesama.

Jadi, menurut teman-teman, apa makna kemerdekaan ini? Sharing yuk!

Mari merayakan kemerdekaan. Mari berkarya untuk bangsa dan negara! Dirgahayu Indonesia!

***

Makna Kemerdekaan bagi Wanita merupakan tulisan pertama Collaborative Blogging #KEBBloggingCollab Kelompok Khofifah Indar Parawansa.

Nur Rochma

Blogger, ibu rumah tangga dengan tiga anak.