ditulis oleh Nia Haryanto – www.niaharyanto.com

Beberapa waktu lalu, lagi-lagi, muncul pemberitaan mengenai bullying pada anak. Sebagai orangtua, siapa pun psti merasa sedih mendengarnya. Apalagi bullying yang terjadi sampai mengakibatkan kematian pada korbannya. Dan, yang paling membuat terkejut, bullying ini terjadi di antara anak-anak SD.

Sebagai orangtua yang anaknya pernah menjadi korban bullying, saya merasakan benar seperti apa kesedihan orangtua korban. Jelas sangat terpukul. Sekaligus juga kehilangan. Iyalah, orangtua mana sih yang tidak sedih saat anaknya meninggal? Terlebih kematiannya karena mendapat bullying dari teman-temannya. Sedih, sangat sangat sedih.

Anak Saya Korban Bullying

Ya benar, Radit, anak ketiga saya pernah menjadi korban bullying. Selama hampir 2 tahun, dia dipalak temannya dengan ancaman. Karena takut ditonjok, dipukul, dan lain sebagainya, dia pun menyerahkan uang jajannya kepada si pemalak.

Awalnya Radit biasa-biasa saja. Tapi karena setiap hari selalu begitu, akhirnya dia kesel, marah. Namun apa daya, rasa takut akan ditonjok dan lain-lain membuat Radit terus menerus menurut kepada si pemalak. Dan jadilah, kemarahannya dia luapkan di rumah.

Saya yang awalnya tak menyadari hal itu, suatu hari cukup terkejut ketika Radit marah-marah gak jelas, saat pulang sekolah. Dia melemparkan sepatunya dan juga tasnya ke kursi. Wajahnya jelas sekali menggambarkan kemarahan yang terpendam.

Setelah dibujuk lama, Radit akhirnya buka suara. Dia menceritakan semuanya. Tentang dia yang dipalak temannya sejak masuk kelas 3. Dan saat dia bercerita, dia duduk di kelas 4. Dia pun menangis dan memeluk saya.

Solusi Bijak Ala Saya

Atas usul bapaknya, penyelesaian masalah bullying pada Radit diserahkan kepada pihak sekolah. Sebab menurutnya, kejadian terjadi di lingkungan sekolah. Guru dan mungkin kepala sekolah lah yang harus menyelesaikannya.

Masalah pun clear. Si anak pemalak ditegur guru kelas dan juga kepala sekolah. Si pemalak diminta berjanji untuk tak lagi mengulangi perbuatannya. Jika terjadi lagi, si pemalak akan dikeluakan dari sekolah.

Alhamdulillah, sejak saat itu bullying pada anak saya tak terjadi lagi. Dan setelah mengalami proses panjang, anak saya dan si mantan pemalak itu akhirnya berteman kembali. Bahkan sampai sekarang ketika mereka ke luar SD dan masuk SMP yang berbeda.

Pesan Saya untuk Para Orangtua

Bullying pada anak sekarang terjadi di mana-mana. Di sekolah, di jalanan, di tempat mengaji, bahkan mungkin di rumah. Bentuknya pun beragam. Dari bullying halus hingga bullying kasar. Sebagai orang tua, kita harus mewaspadainya. Bullying dalam bentuk apa pun. Jangan sampai deh, anak kita kena bullying apalagi menjadi pem-bully.

Supaya bullying tak terjadi, kita bisa mencegahnya. Berikut ini upaya yang saya lakukan sebagai pencegahan bullying:

  • Membiasakan bertanya kepada anak mengenai aktivitasnya di hari itu.
    • Baik di sekolah atau di mana saja saat berada di luar rumah. Saat terbiasa, tanpa perlu ditanya, anak dengan sendirinya akan bercerita tentang apa pun aktivitasnya. Termasuk tindakan temannya yang mungkin menjurus tindakan bullying.
  • Peka terhadap sekecil apa pun perubahan yang terjadi pada anak. Sebelum semuanya menjadi serius.
    • Misalnya saja anak jadi sering murung, sedih, atau malah marah-marah ngak jelas. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan itu. Mendekatinya dengan perlahan-lahan, dan lalu bercerita ini itu yang bisa memancing anak untuk mengungkapkan semuanya, bisa menjadi pilihan.
  • Lebih dekat dengan anak.
    • Lebih dekat dengan anak tentu harus dilakukan tak hanya untuk mencegah bullying saja. Tetapi juga memang sudah seharusnya orangtua dekat dengan anaknya. Mendekatkan diri dengan anak akan membuat anak tak segan bercerita segala hal. Baik hal yang membuatnya senang, sedih, marah, dan lain sebagainya. Dekat dengan anak juga membuat anak merasa aman dan nyaman.
  • Menanamkan sikap-sikap positif, termasuk sikap berani jika diperlakukan semena-mena oleh temannya.
    • Untuk yang satu ini, keteladanan lebih utama dibandingkan dengan nasihat. Yuk, kita biasakan diri bersikap positif.
  • Kenali teman-temannya. Termasuk sifat teman-temannya.
    • Dengan mengenal sifat mereka, setidaknya kita bisa memberi arahan kepada anak mengenai bagaimana dia bersikap, berbuat, dan bertindak dengan masing-masing temannya.

Itu adalah poin-poin pencegahan. Adapun poin-poin solusi jika bullying sudah terjadi, berikut ini hal yang saya lakukan dan pendapat saya:

  1. Selesaikan secara bijak. Misalnya dengan menghubungi gurunya jika kejadian terjadi di sekolah. Mendatangi orangtua pem-bully atau memarahi anak yang mem-bully hanya akan menambah panas suasana. Bisa saja kan orangtuanya gak terima dan gak mau tahu dengan pem-bully-an yang sudah terjadi.
  2. Jangan mengikuti emosi. Ya, meski gemas dan marah, kepala dingin tetap harus dikedepankan. Jika masih emosi akan lebih baik jika penyelesaian dilakukan besoknya atau saat kita sudah tenang. Emosi akan membuat kita susah untuk berpikir objektif.
  3. Jika bullying sudah parah, apalagi sifatnya bullying fisik yang berisiko mencederai atau bahkan merenggut nyawa, memindahkan anak dari lingkungan tersebut adalah pilihan terbaik. Misalnya dengan minta gurunya menjauhkan tempat duduk, atau juga mungkin pindah sekolah.
  4. Jika bullying fisik sudah terjadi, berdasarkan urutan keseriusan, yang pertama kita lakukan adalah lapor kepada gurunya. Jika dirasa perlu, lapor juga kepada orang tuanya. Dan bahkan jika sangat serius, kita bisa lapor polisi.

Well…

Oke teman-teman, segitu dulu curhatan saya tentang bullying kali ini. Yuk kita waspadai bullying pada anak dari sekarang. Jika punya pendapat berbeda, atau mau menambahkan cara pencegahan dan solusi mengenai bullying, yuk sharing yuk. Biar semua yang membaca mendapat pengetahuan yang lebih lengkap. Sampai jumpa!

****

Yuk, Waspadai Bullying Pada Anak-anak ditulis oleh Nia Haryanto sebagai blogpost pertama #KEBBloggingCollab Kelompok Yohana Susana.

 

Nia Haryanto adalah ibu dari empat orang anak, yang berprofesi sebagai penulis lepas di bidang kepenulisan dan blogger yang tinggal di Bandung.