ditulis oleh Arni – http://www.emakcihuy.com/

Hai Mak semua, apa kabar?

Sudah update status di Facebook hari ini?

Sudah posting foto terbaru di Instagram?

Atau sudah berceloteh di Twittter?

Saat ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.  Perkembangan teknologi yang begitu pesat, membuat kita terhubung  dengan dunia hanya dalam hitungan detik.  Dengan cepat, kita mendapat kabar terbaru dari sahabat dan kerabat bahkan yang berada di belahan benua berbeda.  Kita juga bisa dengan mudah mengakses setiap berita terhangat hanya dengan menarikan jempol diatas keyboard layar ponsel dalam genggaman sekaligus ikut berkomentar di dalamnya.

Segala kemudahan ini bak dua sisi mata uang. Bila digunakan dengan bijak, media sosial bisa jadi lading untuk belajar, berbagi, menambah ilmu dan berdiskusi dengan baik.  Sebaliknya, bila bermedia sosial dengan mengedepankan ego pribadi, memelihara kebencian, dan segala derivasinya, bisa jadi media sosial justru menjadi ajang penyaluran emosi yang berujung pada perdebatan dengan kalimat yang kurang elok dan santun.

Jarimu Harimaumu

“Setiap kata yang kita tuliskan adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan”

Karena itu, penting untuk berpikir berkali-kali sebelum menulis dan menampilkannya di dinding media sosial.

Saya seringkali menulis, membaca ulang, lalu menghapus/batal mempostingnya. Bolak balik begitu. Sebisa mungkin, saya selalu berusaha agar setiap tulisan yang hadir tak menjadi multitafsir atau memicu kemarahan atau membuat pembaca menjadi terpancing untuk bereaksi negatif. Alih-alih berbagi info, justru menjadi provokatif dengan muatan negatif. Jika saya pernah “terpeleset” mohon maafkan dan ingatkan saya

Kita seringkali disuguhi perdebatan dan issue-issue hangat, dalam berbagai bidang.  Mulai dari moms war yang bermacam-macam itu, soal vaksin vs non vaksin, sampai pada berita politik dan ekonomi negara ini. Lalu seringkali pula turut latah berkomentar dan lupa mencari tahu titik permasalahan yang sebenarnya.  Alih-alih bertanya pada sumber terpercaya, kita justru dengan mudah tersulut emosi hanya karena membaca dari satu pihak saja.

Tulisan dengan pesan-pesan damai yang disampaikan dengan cara yang santun, pasti akan mendapat tempat yang tepat dan baik. Sebaliknya, meski pun bertujuan baik untuk berbagi info, namun disampaikan dengan pemilihan kalimat yang kurang tepat, justru akan terbaca sebagai pelampiasan emosi yang ingin menjatuhkan pihak lain. Apalagi kalau memang sejak awal niatnya seperti itu. Akan terbaca jelas dari kata yang dipilih.

Tak hanya masyarakat awam, sudah banyak sekali contoh perdebatan dan sejenisnya yang juga berawal dari tulisan dari mereka yang cukup punya nama dan menyandang gelar pendidikan tinggi.  Ya, semua orang pernah “terpeleset” sehingga bijak bermedia sosial bukan hanya terbatas untuk kalangan tertentu, tapi berlaku untuk semua.

Kalau dulu ada ungkapan “mulutmu harimaumu” karena seringkali perselisihan itu berawal dari kalimat-kalimat tak elok yang terucap lewat mulut, di jaman milenial ini ungkapan itu berganti.  Banyak sekali perdebatan yang berawal dari tulisan di media sosial.  Jemari yang begitu aktif mengetikkan kata, mengalirkan ide, menuangkan gagasan dan menyampaikan pendapat.  Ibarat pabrik, sebelum meluncurkan produk ke publik, maka dipastikan melewati tahapan quality control yang berlapis-lapis.  Pun demikian dengan tulisan, berawal dari pikiran, mencerna dengan hati, lalu jari-jari adalah penentu paling akhir sebelum tulisan ini benar-benar tayang.  Maka demikianlah “jarimu harimaumu”

 Analogi  Enam Sembilan

Media Sosial

Beberapa waktu lalu, saya menemukan ilutrasi cakep, bergambar sebuah angka, yang bila dilihat dari arah berbeda akan menampilkan angka yang berbeda.  Saya menyebutnya sebagai analogi enam Sembilan. Dan kepada siapapun yang telah membuat ilustrasinya, saya ingin mengucapkan terima kasih.

Sebuah ilustrasi sederhana tapi penuh makna. Menyentil kesadaran saya, bahwa setiap orang adalah benar tergantung dari sudut pandang yang digunakan.  Bahwa apa pun itu, selalu memiliki lebih dari satu sisi, lebih dari satu sudut pandang. Dan semua berhak mempertahankan pendapatnya, menguatkan hipotesanya tapi sekaligus belajar menghargai kebenaran lain dari sudut pandang berbeda. Karena ketika kita benar, belum tentu orang lain salah. Begitupun sebaliknya.

Untuk siap berdebat, apalagi memaksakan kehendak agar orang lain sepakat dengan kita, sudahkah kita pernah menempatkan diri di posisi yang berbeda hingga menemukan perspektif baru? Kalau belum, ya jangan ngeyel, itu egois namanya.

Apalagi kalau berdebat tanpa data atau hanya berdasarkan prasangka, inilah yang disebut nyinyir *huft beberapa tahun terakhir kata ini naik daun sekali ya”.  Intinya mari perluas sudut pandang kita.  Membuka hati, membuka mata dan telinga.  Belajar, ilmu, bisa datang dari mana saja, bahkan dari mereka yang berseberangan dengan kita.  Minimal kita membuka wawasan baru, “Oh ternyata jika dilihat dari sudut pandang ini, ada benarnya juga,”

Ada ungkapan “teko sedang mengeluarkan isinya”.  Bisa jadi ini benar.  Teko berisi kopi hitam, tak mungkin menuangkan susu.  Teko berisi susu, tak mungkin kita harapkan mengeluarkan teh.  Tapi ada titik dimana kopi hitam ini bisa jadi lebih lembut, lebih sedap ketika diberi tambahn gula atau susu sehingga rasanya menjadi manis dan warnanya tak begitu pekat.  Tambahan-tambahan ini adalah titik dimana kita membuka ruang toleransi terhadap sudut pandang orang lain *maaf buat para pecinta kopi pekat, ini hanya contoh lho ya*

Sungguh, saya jatuh cinta pada analogi angka dan teko ini.  Membuat saya berkali-kali berpikir sebelum menulis dan menyalahkan orang lain.

Tips Bijak Bermedia Sosial

Aktif di media sosial tentu saja tak salah.  Tentunya ada beberapa rambu yang sebaiknya kita terapkan.  Nah Mak, saya coba share beberapa tip ya :

  1. Saring sebelum sharing

    Biasakan melakukan cek dan ricek sebelum menyebarkan sebuah berita.  Alih-alih bersembunyi dibalik frase, “nanya serius!” atau “cuma tanya” yang bisa jadi justru bisa ditangkap berbeda oleh pembaca dan mengembangkan lebih banyak pendapat yang juga berdasarkan asumsi dan dugaan, akan lebih bijak rasanya jika melakukan saring, saring dan saring sebelum sharing.

    Er.. bukan berarti gak boleh bertanya ya, ini tetap lebih baik daripada ujug-ujug “memberi label” pada sesuatu/seseorang.  Tapi bagaimana memilih diksi yang tepat saat bertanya sehingga benar-benar terasa tulus bertanya, bukan untuk memancing nyinyir, mungkin itu perlu latihan.  Dan saya juga masih perlu banyak belajar untuk ini.

  2.  Posting yang penting, bukan yang penting posting

Yup.  Ada kalanya kita merasa kurang lengkap kalau belum memposting apa pun ke media sosial dalam sehari saja.  Lalu jadinya asal posting demi update status. Padahal tak semua hal tentang diri kita perlu diumumkan pada dunia lho.  Ada batas-batas privacy yang selayaknya kita jaga. Masa iya, dikit-dikit kudu laporan ke medsos, lagi dimana dengan siapa sedang berbuat apa *hayooo… jangan pada nyanyi ya*

 Baca Juga : http://www.emakcihuy.com/2017/01/hastag-sendiridirumah-rawan-undang.html

 

  1. Hindarkan menyebar konten yang mengandung pornografi dan kekerasan

Wah kalau yang satu ini jelas ya, garis keras dan merah.  Mari bersama ciptakan media sosial yang aman, nyaman dan damai sekaligus ramah anak.

Akhirnya, semoga kita semua bisa menjaga jempol. Maafkan kalau saya pernah salah mengarahkan jempol ini dalam mengetikkan kata-kata.

 

***

Blogpost ini berjudul asli: Bijak Bermedia Sosial karena Jarimu Harimaumu, merupakan blogpost trigger #KEBloggingCollab untuk kelompok Butet Manurung.