Cerpen

Cerpen / Life Style By On February 14, 2017

[Cerpen] Impian Simin

Naik kapal pesiar?? Ide itu tidak pernah terpikirkan oleh Simin sebelumnya. Dia hanya seorang supir, keajaiban hanya menjadi satu-satunya alasan yang memungkinkan lelaki seperti dirinya bisa berlayar dengan kapal pesiar semacam itu. Tapi entah kenapa dia menginginkannya, boleh-boleh saja dia bermimpi, bukan? Kembali Simin mengamati diam-diam sebuah artikel yang tengah dibaca wanita di sampingnya di halte itu, dan tetap saja…

Cerpen By On November 15, 2016

[Cerpen] Sekardus Nostalgi

Kipas batik berwarna marun. Pensil kayu bertuliskan Ernest Hemmingway di ujungnya. Flash Disk berbentuk kamera SLR. Cincin emas putih bermata besar. Gantungan kunci berbentuk gajah khas Thailand. Gelang akar bahar hitam. Novel Karena Cinta Itu Sempurna karya Indi. Hanya ada tujuh benda dalam kotak segi empat kecil itu. Tidak banyak, meski tidak juga bisa dibilang sedikit. Yang jelas, otakku dengan random segera…

Cerpen / Life Style By On October 1, 2016

[Cerpen] Mengejar Andromeda

Aku tidak pernah percaya akan sebuah kebetulan. Mungkin aku memang pelacur, tapi aku masih percaya Tuhan. Bahwa daun yang terjatuh karena embusan angin sudah ada yang mengatur. Bahwa ulat yang menjadi kepompong kelak akan menjelma kupu-kup pada saat yang sudah ditentukan. Bahwa aku menjadi penjaja seks adalah sebuah ketetapan. Semacam itulah. Maka perkenalanku dengan sosok itu pun adalah ketidaksengajaan yang…

Cerpen / Life Style By On July 30, 2016

[Cerpen] Pada Suatu Senja

“Assalamu’alaikum,” salamku parau setelah menghela napas dalam-dalam. Tidak seperti biasanya, kuputuskan pulang sebelum malam terlanjur pekat. Mungkin, menghabiskan senja di rumah bisa membuatku jauh lebih tenang. Jantungku memang masih sering berdegup kencang mengingat pengejaran tadi siang, hampir saja aku menjadi abu, sedikit lagi saja aku mati. Maka aku ingin menikmati senja selagi bisa. Jawaban salam yang diikuti langkah-langkah terburu membukakan pintu…

Cerpen / Life Style By On April 16, 2016

[Cerpen] Bapak

“Nung, Bapak Jumatan dulu, ya.” Lelaki renta itu menatap bayangannya di cermin, memperbaiki kopiah di kepalanya yang baik-baik saja, merapikan baju koko dan sarungnya, lantas meminum air putih yang selalu kusediakan di atas meja makan. Aku mendesah diam-diam, sebelum akhirnya, dengan terpaksa, memberitahunya sebuah fakta. “Pak, Jumatannya besok, yah. Hari ini kan masih Kamis,” ujarku seceria mungkin, dengan senyum yang…

Cerpen By On December 19, 2015

[Cerpen] Misteri Kamar 306

Siska mengumpat dalam hati saat lift beranjak naik dalam kecepatan siput. Seharusnya tadi aku naik tangga saja, rutuknya murka entah pada siapa. Lift berhenti di lantai satu, membuat Siska memencet kesal si tombol untuk memaksa kotak sialan itu kembali menutup. Tapi terlambat, seorang lelaki paruh baya tanpa sehelai pun rambut di kepalanya terlanjur masuk, lantas menekan tombol berangka lima. Kesalnya sudah…

Cerpen / Life Style By On October 23, 2015

[Cerpen] Hujan Malam Ini

Hujan tiba-tiba saja turun ke bumi setelah siang yang terik. Tanpa aba-aba mendung, nyaris tanpa suara gelegar petir. Syahdu, seolah sang hujan ingin menyapa semesta sebagai dirinya sendiri, bahwa dia adalah bulir rintik air penyejuk jiwa. Hei, kenapa aku mendadak menjadi pujangga semacam ini? Ha ha! Aku tertawa sendiri. Sebelum bajuku terlampau basah, aku beranjak ke sebuah kios rokok kecil….

Cerpen By On July 9, 2015

[Cerpen] Lebaran Sebentar Lagi

“Pak, jadi pulang kan kita Lebaran nanti?” Ming termenung. Dia sudah lama berhenti menghitung, dia tak lagi bisa ingat kapan terakhir kali dia pulang ke kampung. Bertahun lalu, dia tak bisa ikut menguburkan jasad Bapak saat lelaki itu tewas tertimbun tanah longsor. Meski kini sering sakit-sakitan, Ibunya masih hidup, entah sampai kapan. Dan Ming tak ingin menyesal jika dia juga…

Cerpen By On February 27, 2014

Bakso Untuk Ibu

Siang itu terik sekali, matahari seakan membakar bumi . Dua orang anak berjalan dengan langkah gontai.  Keringat sudah berlelehan di dahi mereka. “Kak, tidak ada yang mau memberi kita uang hari ini.” “Iya, Dik. Mungkin karena suara Kakak jelek karena batuk ini.” “Enggak, masih bagus kok. “ “Ah, mungkin orang-orang itu takut memberi kita uang. Kita dianggap pengemis, Dik.” “Kita…

Cerpen By On March 2, 2013

Cerita Hujan

Penulis: mak Dewi Rahandiani Paras bergegas menutup laptopnya,dia tidak boleh terlambat datang ke Kafe Chocolate. Kafe itu tidak seberapa jauh, 15 menit berjalan dari kantornya dan jam masih 17.00, masih setengah jam dari janjinya dengan Rupa. Sambil berjalan, Paras mendesah, “Rupa… kenapa harus datang lagi”.. Rupa yang sudah pergi bertahun tahun, hilang tanpa kabar ketika hubungan mereka berakhir. Lenyap… Rupa…

Cerpen By On September 5, 2012

Terapi Retail

Pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jakarta Selatan siang itu penuh sesak. Banyak orang tampaknya tersihir dengan promosi yang digelar mall favorit ini. Lita termasuk diantaranya. Lita menuju tempat duduk yang terletak di area luar department store lantai 1. Bangku berwarna coklat seolah disediakan khusus untuk Lita. Hanya Lita yang duduk di bangku ini. Lita berpikir mungkin orang-orang terlalu sibuk berbelanja, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk duduk.

Diskon Hingga 80%, Memburu ‘Midnight Shopping’ – Mengejar Impian
Lita membaca tulisan di rolling banner yang terletak tepat di seberang area bangku tempatnya duduk. Mengejar impian? Apakah setelah menggesek kartu debit di beberapa area kasir, setelah menghabiskan waktu selama dua jam, setelah menjinjing 4 kantong belanja, impiannya tergapai?
“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya seorang pria tersenyum ramah.
“Oh, silakan” kata Lita spontan, sambil mengangkat kantong-kantong belanja dan meletakkan di lantai.
Pria ini datang bersama pengasuh berpakaian serba biru muda. Pengasuh menggeser kereta bayi ke sisi kanan bangku. Pria yang menggunakan jeans hitam dan polo shirt duduk di sebelah Lita dan tenggelam dengan telepon genggamnya. Lima menit kemudian, seorang wanita muda berambut panjang menghampiri area bangku. Ia menggendong anak berusia sekitar 2 tahun di tangan kiri. Tangan kanannya menggandeng anak laki-laki yang berusia sekitar 4 tahun-an.Wanita muda ini mengenakan celana pendek putih dengan atasan tanpa lengan berwarna pink. Ia memakai sepatu wedges biru muda berhak 9 cm. Lita terpana dengan kulit wanita ini yang licin bak artis-artis Korea.
“Mbak, ini anak-anak tidak bisa diam” kata wanita muda pada pengasuh anak-anak yang duduk disebelah.
“Iya bu, Kak Nathan sama Dik Stephani mana betah diajak belanja.” jawab pengasuh, seperti layaknya ia seorang ibu yang tahu kebiasaan buruk anak-anaknya.
“Aku mau main di atas aja!” rengek anak laki-laki sambil menarik tangan pengasuh.
“Iya ya, kalau begitu kalian ke lantai 2 saja” kata pria di sebelah Lita sambil menyimpan telepon genggam ke saku celana.
“Mama belanja dulu aja. Aku dan baby Andre ke toko elektronik di lantai dua ya” kata pria sambil menengok kereta bayi.

Lita tertegun menatap pemandangan yang baru saja ia lihat. Lita sangat yakin apa yang ia lihat bukan adegan di sebuah film keluarga. Ibu muda bertubuh langsing dengan 3 orang anak. Seorang ayah yang meluangkan waktu bersama keluarga. Keluarga yang sering mengunjungi lantai 2. Lantai tempat kebutuhan anak-anak dijual. Lantai tempat anak-anak menghabiskan waktu dengan permainan indoor.

Lita ingin terlibat dalam adegan film tadi. Lita ingin memerankan peran wanita muda itu. Bahkan Lita ingin memiliki pengasuh seperti yang dimiliki keluarga tadi. Lita ingin menukar apapun yang dimiliki di dunia ini dengan film seperti tadi. Tidak terasa setetes air mata mengalir. Jari tangan dengan sigap menyingkirkannya. Lita segera menunduk, menatap telepon genggamnya. Ia tidak ingin satpam yang berdiri di depan area masuk department store memergokinya.

Cerpen By On August 9, 2012

Ekspresi Pagi

Penulis: Cholida Rizkina   @Farah_cute: uang $500 ku hilang *sigh* #IhateMonday. 1 hour via Twitter from iPhone Farah memandang hand phone yang digenggamnya dengan tatapan tajam. Seolah-olah benda ini penyebab uangnya hilang. Kebiasaan buruk Farah dalam kondisi emosi adalah mengetuk-ngetuk, melempar ke kasur hand phone-nya. Kali ini ia ingin membanting benda yang dibeli dengan mencicil selama 1 tahun. Farah juga heran…