Cerpen

Cerpen By On July 19, 2012

Melati, Berwarna Apa?

“Saya memang pelacur. Tapi nggak pernah ngerayu suaminya situ buat datang ke tempat saya….” umpat Melati di atas batas normal. Karena geram dan berapi-api tiba-tiba saja mendapatkan tamparan tanpa basa-basi apalagi permisi.

“Ngaca dong.. mana betah laki-laki serumah sama orang judes seperti situ..” lanjut Melati. Menumpahkan semua sisa geramnya.

“Kamu itu wanita murahan, masih banyak omong juga ya. Perusak moral bangsa, penyebar virus menjijikkan. Ingat ya…!!! jangan berani berani lagi menghubungi suamiku, atau kau akan rasakan akibatnya nanti…ingat ya..!!”

“Keluar..!! keluar dari rumahku….” teriak Melati. Ia sudah tidak kuat lagi menahan diri. Biarpun semua yang didengarnya adalah kenyataan tapi tetap saja pahit untuk ditelan. Getir untuk diresapi dengan hati. Toh ia masih punya hati. Sesempit apapun ruang itu. Ia masih punya hati.

Cerpen By On July 18, 2012

Indahnya Persahabatan

Pagi telah datang. Sinar matahari mulai nampak. Cahayanya terasa hangat. Burung – burung menyambutnya riang. Bernyanyi sambil menari dan melompat dari dahan ke dahan. Aku sendiri telah mandi. Dan sudah siap pergi. Seragam putih merah telah melekat rapi  di badanku. Sebentar lagi aku berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah aku melihat semua ruangan masih  tertutup. Rupanya teman – teman yang…

Cerpen By On July 17, 2012

Terbang Bersama Angin

Eyang Harti, demikian ia menyebut neneknya. Wanita itu adalah ibu dari mamanya. Ciri khasnya dia kentara sekali. Senantiasa mengenakan kebaya dan kain dalam kesehariannya. Usianya sekitar tujuh puluh empat tahun. Ia berpandangan kolot. Segala sesuatu diukur  dari jamannya seolah jaman sekarang sama dengan jamannya dulu. Tak heran, jika cara mendidiknya menyiratkan pola pikirnya. Sejak bayi Syahla diasuh olehnya.  Dan kakek…

Cerpen By On March 8, 2012

Siapa Yang Kau Sebut Cinta

Ngubek-ngubek blog lamaku, akhirnya nemu cerita sangat pendek ini ^_^ ########## Tet..tet..tet…Handphone Nabil berdering, pertanda ada sms yang masuk. Zulfa yang sedang dalam kamar, meraih hp itu, berniat akan menyerahkannya pada Nabil suaminya. Langkahnya terhenti sejenak, tertulis di layar Hp –sms dari Adinda–. “Siapa ya?” tanyanya dalam hati. Nabil segera menerima Hp itu setelah Zulfa memberitahukan ada sms yang masuk….

Cerpen By On February 21, 2012

Luka

“Kakak! Kamu ngapain sih masih peduli sama dia!” seru Dinda sambil membanting tasnya di meja.

“Apa sih? Dateng-dateng langsung marah-marah. Mending kalo bawa makanan.” balasku. 

“Ish, si Kakak ini suka gitu deh. Ngapain sih Kak. Udah tau dia tuh kalo lagi susah aja dateng ke kita. Coba dulu pas bahagia, mana inget.” kejarnya.

“Ya udahlah, bagus dong kalo diingat orang waktu dia lagi susah. Berarti dia menganggap kita lebih baik, lebih mampu. Apa salahnya menolong orang susah.”

“Tapi kan Kak… Dia dulu… Ah, Kakak ini emang terlalu baik sama orang.” balas Dinda yang langsung menuju dapur.

Rupanya adik semata wayangku itu masih menyisakan pedih atas kejadian bertahun yang lalu. Tak mudah baginya melupakan lara kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya, untuk kami.

Selalu begini, setiap kali ia tahu lelaki itu berkunjung ke rumah. Padahal jika bertemu pun mereka tampak akrab, meski ada jarak yang membentang. Tak peduli sekuat apapun pria itu berusaha menjembataninya.

***

Cerpen By On January 31, 2012

Ketika

Ketika Mimpi itu kembali mengusik lelap tidurku Ketika pula rasa itu makin menyeruak ke dalam kalbuku Ketika asa kembali menyergap jiwaku Ketika mulut tak lagi berucap apa-apa dan Tanya tak lepas dari benakku mengapa? Ketika Rasa yang suci, lembut bagaikan sutra mampu tergores oleh sayatan2 yg mematikan Ketika kakipun tak mampu melangkah lagi… bagai tak ada celah yg mampu membuatnya…