Di sebuah hutan, tumbuh berbagai pohon dengan buah-buah yang manis dan ranum, sehingga banyak binatang yang senang tinggal di hutan tersebut. Namun, pada suatu hari, hutan tersebut kedatangan seekor penghuni baru. Dia adalah si Ulil, ulat kecil yang rakus.

Terbayangkah bagaimana gambar hutan tersebut? Dan, bagaimana karakter si Ulil?

Jika Anda pernah membaca buku anak, pasti kagum ya dengan si pengarang buku tersebut?  Tapi tidak hanya itu, ilustrator juga memegang peran penting, loh. Mereka mengubah gambar menjadi jembatan kata-kata untuk anak yang membaca buku tersebut.

Ilustrator memang banyak, namun tidak banyak ilustrator yang piawai menterjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa yang mudah dimengerti anak-anak. Tapi syukurlah, di Indonesia ada beberapa ilustrator, yang sebagian udah go international!

Sebut saja, Aaron Randy, seorang anak muda yang karyanya bisa kita nikmati di produk plastik terkenal bikinan Mr. Tuppy, ada Evellyne Andrya (website Illustrator Indonesia). Ada lagi Dewi Tri Kusumah, yang karyanya sebagian besar hitam putih.

Lalu ada Euginia Gina, yang piawai memvisualisikan ‘perbedaan’, dan ada Evan Raditya Pratomo. Tak lupa, di negeri jiran ada Evi Shelvia yang akrab disapa Teh Epit dan masih banyak lagi. Sebagai seorang illustrator wanna be, tentu saja aku rajin memperhatikan karya mereka.

Evi Shelvia

Evi Shelvia

Seperti dulu pernah kutuliskan, semua orang bisa menggambar. Bisa membuat doodle, dan bahkan hand lettering. Hanya saja tak semua mau mengasah ketrampilan tersebut. Mungkin juga karena disibukkan dengan rutinitas sehari-hari.

Tapi kalau ingin tahu proses kreatif hingga tercipta sebuah karya, seorang ilustrator buku anak terkenal, Doreen Marts dari New Jersey berbagi tips untuk memvisualisasikan sebuah fiksi.

Rajin Membaca

Ada banyak media yang tersebar. Mulai dari karya berbentuk buku, hingga online. Ada beberapa akun instagram, facebook dan fan page milik para ilustrator, dan kamu bisa mengamati karya mereka dari situ. Belum lagi, pinterest!

Contoh FB atau fan page yang kuikuti : Amandine Piu, Evellyne Andrya Illustration, Dominique Mertens, dan lain-lain. Tentu saja aku juga followers setia para ilustrator yang tersebut di atas.

Amati Benda-benda di sekitarmu

Belajar menuangkan apa yang kamu sukai. Gambar ice cream, lolipop, binatang peliharaan di rumah. Tuangkan saja semua di atas kertas.

Don’t think, draw!

Yup. Seperti halnya menulis, tanganmu juga harus dilatih untuk membuat sketsa. Jelek? Nanti dulu… tak ada karya yang ‘salah’, bukan? Kita bisa melihat sketsa Salvador Dali atau Affandi. Menurut kalian, gambar itu bisa “ditangkap” gak?

The first draft won’t be perfect

Dimana-mana, yang pertama belum tentu yang terbaik, kecuali cinta pandangan pertama mungkin #eaaa.. Perlu sedikit latihan, tentu saja.  jangan khawatir.

Buat sebuah sketsa, revisi, gambar ulang, hingga kamu merasa puas.

Temukan media yang menurutmu nyaman digunakan

Ada banyak media dan pena di toko alat-alat tulis. Kalau ragu, gunakan saja pensil dan buku gambar biasa. Pensil yang digunakan sebaiknya di atas 2B, ya..

Jika sudah mahir menggunakan photoshop, langsung saja diaplikasikan.

Jangan takut dikritik!

Ahaa! Kritik adalah bumbu penyedap. Kritik adalah pedas tapi enak. Beberapa kali karyaku dikembalikan oleh penerbit, tapi itu membuat aku punya ide-ide baru!

Terus Mencoba!

*Doreen Marts is a freelance illustrator and designer living in New Jersey who’s illustrated a number of books for clients including Penguin, Scholastic and Running Press. You can see more of her work on her website.

Evan Raditya Pratomo

Evan Raditya Pratomo