Hai, Emaks.

Ada yang suka mereview produk?

Mereview produk nggak selalu berarti job review berbayar lho, Maks. Banyak blogger yang juga suka mereview produk tanpa dibayar, simply hanya karena alasan dia suka banget dengan produk tersebut atau justru malah kecewa banget dengan produk yang dipakainya. Saya kira sih, review makanan dan review resto itu juga termasuk dalam kategori review produk.

Ya, intinya adalah review produk itu kita menuliskan dan menceritakan segala hal mengenai produk tertentu, baik itu produk barang ataupun produk jasa. Tujuannya tentu saja adalah menyebarkan informasi, kalau nggak mau dibilang buat bujuk orang supaya beli produk yang kita review. Hehe. Bahasa halusnya, menyebarkan awareness. Ciyehhh.

Anyway, sering saya jalan-jalan ke blog atau web yang memang menulis product review, baik di dalam dan di luar. Pada akhirnya, memang, ada product review yang bisa bikin saya mupeng pengin ikutan beli, ada juga product review yang … yah … gitu doang. Cuma menyalin product info dari kemasan, terus kopi sana kopi sini. Hanya sekadar ulasan info. Padahal kalau saya sih, sebagai seorang blogger, dan sudah dipercaya untuk ikutan dalam campaign suatu product, ya setidaknya kita bisa sedikit memengaruhi pembaca blog kita untuk setuju dan kemudian ikut membeli product yang kita review bukan? Kita semacam merekomendasikan gitu deh ya. Meski memang, akhirnya sih keputusan untuk ikutan beli apa enggak, itu terserah masing-masing ya.

Nah, terus gimana sih cara menulis product review yang bisa menjual? Yang bisa memengaruhi orang untuk ikut menggunakan produk yang sedang dalam campaign, selain tentunya sebagai penyampai informasi?

Ah, sebenarnya saya yakin bahwa Emaks KEB ini pasti sudah ahli bangetlah ya, untuk menulis review produk J Kan udah banyak banget yang pernah dapat job review kan?

Tapi, saya sih pengin berbagi saja beberapa tips menulis review produk yang kemarin pernah saya lakukan, siapa tahu ada Emaks yang masih bingung apa saja yang harus ditulis dalam sebuah review produk.

Coba kita lhiat yuk, Maks :).

  1. Product images and videos

Tentu yang pertama kali harus kita tampilkan adalah foto produk ya. Foto ini terdiri atas kenampakan keseluruhan, kemudian kalau ada detail-detail yang spesifik juga harus ditampilkan. Intinya, pembaca blog kita harus bisa membayangkan bagaimana fisik produk meski mereka nggak bsia secara langsung meraba atau melihat produk secara langsung.

Kalau perlu videonya juga diadain. Sekarang udah interaktif banget ya. Video selain bisa menampakkan si produk secara detail, sekaligus kita bisa uraikan fitur-fiturnya secara verbal langsung.

  1. Deskripsi produk

Kalau ada dimensi, silakan ditulis ya. Tinggi, panjang, lebar, volume dan sebagainya. Kemudian fitur-fitur apa saja yang ada dalam produk tersebut. Misalnya kalau kosmetik ya kandungannya apa saja, kalau smartphone dan barang elektronik fiturnya apa saja. Selanjutnya kita juga bisa membahas kemasannya. Apakah oke, apakah kurang oke, apakah rentan rusak, atau kuat. Hal lain yang perlu ada dalam deskripsi produk adalah belinya di mana, keunggulan produk, dan juga harapan kita akan produk tersebut sebelum kita memakainya.

Kok sebelum kita memakainya?

Ya, bayangkanlah kita adalah pembeli yang sedang menimang produk tersebut di etalase toko atau supermarket. Dengan membaca semua yang tertera di kemasan, atau mungkin kita pernah melihat iklannya di televisi, tentu kita punya satu harapan yang terbentuk (baik sadar atau enggak) untuk kemudian kita uji setelah kita coba produknya kan?

  1. Deskripsi pembeli

Deskripsi pembeli merupakan bagian di mana kita seharusnya menjelaskan siapa saja yang bisa menggunakan produk yang kita review tersebut. Apakah dipakai oleh anak-anak, remaja, dewasa, atau lebih khusus lagi khusus ibu-ibu, usia demografi, bahkan bisa juga lebih detail misalnya ke strata sosial.

Misalnya nih, Maks, kita mau review produk obat-obatan. Pastinya ada klasifikasi usia yang boleh mengonsumsi, seperti misalnya obat tersebut bukan untuk anak-anak karena dosis anunya banyak, kalau dikonsumsi anak nanti akan berakibat begini begitu. Atau misalnya, kita mereview apps Android, ini buat konsumsi anak-anak karena merupakan permainan. Anak usia berapa? Apakah perlu pendampingan orangtua? Dan seterusnya.

  1. Bukti

Nah, Emaks, seharusnya ada dua jenis bukti yang harus kita tampilkan dalam suatu review produk.

Yang pertama adalah bukti bahwa kita menggunakannya. Kita bisa mengambil gambar saat produk tersebut kita gunakan. Kita tunjukkan cara makainya, atau cara menggunakannya.

Bukti yang kedua adalah bukti hasil setelah kita menggunakan produk tersebut. Misalnya, kalau kita ngereview smartphone, kita tunjukkan ternyata gampang banget operasionalnya, atau betapa banyak fiturnya yang bisa membantu kita sehari-hari. Kalau produk kecantikan, ya mungkin bisa diperlihatkan before and after-nya setelah kita menggunakan produk tersebut.

Sebuah job review produk akan TERLIHAT bias dan palsu, adalah saat tidak ada kedua bukti di atas. Review produk yang tidak mendalam, tidak memperlihatkan bagaimana kita menggunakannya, atau tidak nampak adanya foto yang memperlihatkan bahwa barang tersebut bermanfaat, akan membuat pembaca akhirnya berpikir bahwa review produk tersebut hanya berdasarkan pesanan saja, hanya sekadar iklan, based on payment, dan akhirnya kurang bisa dipercaya.

Makanya, Maks, setiap kali kita review produk ya kita harus coba produknya. Kalau nggak dikasih, ya beli. Kan, pada dasarnya review produk (baik dibayar atau tidak oleh si produsen) adalah berbagi pengalaman selama menggunakan produk tersebut kan? Makanya, yang di-share adalah pengalaman Emaks, bukan yang lain.

  1. Kekurangan produk

Nah, Emaks, kalau seumpama selama menggunakan produk tersebut, ada hal-hal yang dirasa kurang, Emaks juga boleh menuliskannya. Tapi, ini penting, Maks, menuliskan kekurangan yang ada dalam produk itu bisa sangat sensitif bagi produsennya. Jadi, hati-hati dalam memilih kata ya.

Tidak semua orang (baca: produsen) bisa menerima kritik dengan baik. Ada kemungkinan Emaks dianggap melakukan black marketing pada mereka, menjatuhkan branding mereka. Dan berdasarkan UU ITE yang berlaku, Emaks bisa saja dituntut. Namun, produsen yang terbuka pada kritik juga nggak kalah banyaknya. Saya pernah dengar cerita, Maks, ada seseorang melakukan review buruk terhadap satu produk smartphone, dan kemudian malah digandeng menjadi buzzer oleh brand smartphone yang bersangkutan. Si brand smartphone itu pengin si blogger untuk menjadi beta tester bagi produknya, karena dianggap mampu memberi masukan yang objektif.

Nah, makanya, Maks, menulis kekurangan sebuah produk sih boleh (harus malah ya, kalau memang ada yang dirasa kurang), tapi kita juga harus bisa menyajikannya dengan baik.

  1. Call to Action

Nah, terakhir nih, Maks, call your reader to action!

Misalnya, mengimbau untuk nyobain, atau ikutan review kalau ada yang udah nyobain juga. Atau minimal minta pembaca blog emak untuk komen dengan mengajukan pertanyaan terbuka, seperti yang pernah saya bahas mengenai tipe-tipe artikel yang mengundang banyak komen. Kemudian setelah ada yang komen, atau istilahnya memenuhi ajakan Emaks untuk action, jangan lupa untuk mengapresiasinya ya, Maks, misalnya ya balas komennya, atau sekadar mengunjungi artikel review produk yang sama yang di blog mereka.

Intinya, engage them!

 

Nah, itu tadi 6 langkah menulis review produk yang baik, yang persuasif dan informatif agar pembaca artikel Emaks nggak sekadar dikasih bacaan iklan doang. Intinya, memang kita harus bercerita, Maks, karena memang di situlah inti dari sebuah review produk. Jangan pernah melakukan review produk bodong, yang kita nggak pernah nyobain produknya. Rasanya kok nggak fair ya, buat pembaca.

Iya nggak sih, Maks?

Selamat nulis, Maks!

 

Ditulis oleh
Carolina Ratri
www.CarolinaRatri.com
untuk web www.emak2blogger.com