ditulis oleh Inne Ria – www.inne.web.id

**

Apa yang terlintas di benak Emaks ketika mendengar kata “pendidikan”?

Apakah buku, pulpen, atau teringat guru di masa kecil?

 

Tentunya,  pendidikan selalu dipandang positif dan diharapkan membawa perubahan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Teorinya sih seperti itu… Kemudian bagaimanakah dengan kenyataan dunia pendidikan kita?

Bukannya pesimis,  tapi berita yang berseliweran di beragam media akhir-akhir ini memang miris. Mulai dari berita kecurangan ujian, tawuran sampai yang terakhir adalah kekerasan kepada guru yang notabene dianggap sebagai sumber ilmu.

Berkaca pada beberapa negara maju seperti Jepang dan Finlandia, mereka terlebih dahulu menerapkan penanaman karakter kemudian materi akademis.

Adab dahulu, ilmu kemudian.

Konsep ini juga sejalan dengan pemikiran Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yang memprakarsai Taman Siswa. Beliau mencetuskan ide bahwa sekolah haruslah menyenangkan, layaknya sedang bermain di taman.

Negara-negara maju tersebut sukses memanfaatkan pendidikan sebagai fondasi utama kekuatan bangsa.

Lalu kita kapan?

Sebagai orang tua, kita bermimpi jika anak-anak dapat menjalani hidupnya dalam versi terbaiknya. Bukan versi terbaik menurut orang lain. Untuk mencapai visi tersebut, kami mempunyai sebuah daftar impian tentang pendidikan Indonesia:

  • Pemerataan pendidikan

Mulai dari sarana, prasarana hingga staf pengajar. Dengan standar dan kualitas yang sama, maka semua sekolah adalah sekolah favorit. Kita bisa melambaikan tangan kepada “rebutan kuota” dan “waiting list”.

  • Di sekolah, anak bisa memilih mata pelajaran yang disukainya.

Dengan mempunyai hak untuk memilih subyek yang menarik baginya, anak akan merasa bahwa pendidikan adalah hak, bukanlah sebuah kewajiban. Dengan bebas memilih mata pelajaran, akan meningkatkan dan memperuncing bidang kemampuan anak. Sehingga, tidak ada lagi siswa yang “melongo” ketika ditanya mau jadi apa nanti kalau sudah lulus dari SMA/SMK? karena mereka sudah tahu batu loncatan berikutnya.

  • Anak mempunyai cuti tahunan

Kegiatan anak terkadang dibatasi oleh ketentuan dari sekolah itu sendiri. Banyak event tahunan yang dapat menjadi sarana belajar anak namun tidak diselenggarakan pada saat musim liburan. Atau mungkin sang orang tua hanya bisa mendapatkan cuti bekerja di luar musim liburan. Nah, dengan adanya “cuti tahunan” ini, anak dan orang tua bisa menyesuaikan jadual plesiran dengan bebas!

Oke, yang terakhir ini cukup ekstrim. Tapi, sah-sah saja, kan? Namanya juga mimpi. 🙂

Jadi, apa mimpi Emaks berikutnya?