ditulis oleh Ade Delina Putri – www.sohibunnisa.com

**

Emaks, siapa yang punya WhatsApp? Siapa juga yang sudah gabung dengan grup di WhatsApp? Hampir semua Emak pasti sudah ya. Yap. Barangkali WA masih jadi media sosial favorit untuk keperluan grup. Media sosial satu ini memang lebih mirip SMS dan bisa didukung dengan ponsel yang bukan smartphone sekalipun. Jadi penggunaannya memang sangat mudah.

Semenjak 2014 saya mulai memakai tab sampai sekarang ganti jadi smartphone juga mengenal WhatsApp, saya jadi menemukan pola yang sepertinya selalu sama di setiap grup WhatsApp. Hingga kini saja, saya sudah tergabung di lebih dari 5 grup WhatsApp. Dari mulai grup keluarga, teman-teman sekolah, sampai komunitas.

Lantas apa saja pola sama, yang saya temukan?

Yang muncul, dia lagi dia lagi. Yang silent tetap silent.

Saya tidak tahu ya ini disebabkan oleh apa. Tapi kayaknya yang sering muncul mungkin karena dia memang suka dengan grup tersebut, jadi selalu muncul. Beda dengan si silent dari awal. Awalnya sih minta dimasukkan ke grup, ealah tapi nggak pernah muncul. Kalau dilihat, padahal dia selalu baca. Malah baca paling pertama daripada yang lain -_- Mungkin dia malu, atau mungkin dia memang menganut silent reader – yang penting dapat ilmunya ckck. Tapi yang lebih horor itu si silent reader yang tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, atau setiap kali namanya disebut, habis itu menghilang lagi. Tapi sejujurnya, saya pernah ada di posisi semuanya sih hehe. Uwuuuuw >_<

Saat dibutuhkan pada menghilang, giliran pembahasan kurang atau bahkan tidak penting malah ramai.

Ini sering sekali terjadi. Saya sendiri sudah berapa kali mengalami. Misalnya, saat saya belum ikut gabung ngobrol, tiba-tiba saya muncul dengan pertanyaan. Eh semua mendadak senyap. Tidak ada yang balas. Sampai berapa jam kemudian, orang lain muncul dengan pembahasan baru, kemudian ramai lagi. Lantas tadi pertanyaan saya kemana jawabannya? -_- Baiklah jika tidak tahu jawabannya. Tapi jika ada yang meminta tolong pun kejadiannya sama. Semua mendadak senyap dan menghilang. Fffftthhh –”

Memaksa teman untuk membeli barang dagangannya

Hei, ini produkku bagus lho. Nggak ada yang ngalahin lho. Kalian bener nih nggak ada yang mau beli? Ya Allah tega banget. Beli dong satuuuu aja. Oh maaaay. Segitu pentingnyakah barangmu dibutuhkan. Guys, tidak semua orang punya kebutuhan yang sama. Lagi pula kau kan bisa jualan di mana saja. Tidak harus teman-teman di grup WA saja kan yang beli -_- Atuh plislah, kalau dipaksa kan juga tidak enak. Situ emang mau dipaksa-paksa *eeeh 😛

Saking asyik ngobrol atau bercanda, jadi kelewat batas.

Grup WA itu paling sering ngobrol ngalor ngidul. Grup yang benar-benar ada aturan dan benar-benar menetapkannya itu amat juaaarang sekali. Makanya, sering dari obrolan-obrolan tidak penting itu justru jadi bahan bercandaan yang sama sekali tidak lucu. Dan tidak jarang malah menyinggung perasaan atau menyakiti orang lain. Saya sering kok dengar cerita grup yang candaannya kelewat batas dan membuat orang yang ada di dalamnya muak dan memilih untuk keluar. Fffuh. Ya untung saja grup yang saya gabungi sampai saat ini jarang ada yang kelewat batas. Kalau sudah mulai kelewat batas, saya skip saja selama grup itu memang masih dalam batas aman atau dengan kata lain masih cukup penting.

Over sharing

Saking betahnya dengan grup WA tersebut, orang kadang jadi lupa bahwa dia sedang ada di dalam grup. Yang tentu saja isinya lebih dari dua orang. Alhasil, grup bisa menjadi tempat keluhan. Sering, karena ada satu orang mengeluh, yang lain jadi ikutan mengeluh. Bahkan tidak jarang ada yang menceritakan masalah pribadinya. Sampai sini sih masih aman. Tapi tidak sedikit yang curhat masalah-masalah yang lumayan berat dan menyangkut keluarganya. Lebih bahaya lagi bagi yang sudah menikah, bisa-bisa mengeluh tentang pasangan dan keluarga pasangan. Naudzubillah. Jatuhnya jadi membuka aib sendiri dan keluarganya. Kenapa bahaya? Karena grup WA itu kadang ya grup komunitas yang tidak semua kita kenal secara langsung. Yang tentu saja orang-orangnya belum tentu bisa dipercaya. Siapa bisa menjamin orang-orang di dalamnya jadi tidak ikut berpikir negatif tentang pasangan kita dan keluarga? Makanya, saya selalu menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara. Seperti kata Umi Pipik, banyak bicara itu banyak salah >_<

Mendadak left

Guys, sesedih apapun kita. Se-tersinggung apapun kita karena orang lain, tetaplah beretika jika sudah bergabung dalam grup. Kita datang dengan perkenalan. Datang karena memang mau bergabung di grup tersebut. Jika tidak berkenan dengan satu orang, maka japri (jaringan pribadi, hubungi secara pribadi.red) orangnya. Jika kita mendadak left atau keluar begitu saja, orang-orang yang ada di dalam grup, akan memandang kita sebagai pribadi yang tidak sopan :). Dan akhirnya hal ini akan memperburuk nama kita sendiri. Jadi jika memang ada masalah, baiknya dibicarakan lebih dulu.

Oke, kayaknya sih enam itu ya yang paling sering saya rasakan. Emak-emak saya yakin juga punya jawaban yang sama *eeaaaa. Eh atau Emaks punya pendapat lain? Tentang serba-serbi grup WhatsApp yang biar bagaimana pun telah membuat hidup kita lebih berwarna. *halaaaah ngomong opooo toh De –“