ditulis oleh Nur Islah – www.nurislah.com

***

Waktu itu saya pulang kampung bersama anak-anak. Suami sedang keluar kota jadinya tidak ada yang mengantar. Masih pagi benar, mobil angkutan belum beroperasi, jadi kami naik bus mini pengantar koran pagi. Selain mendistribusikan koran ke agen-agen di daerah, sopirnya juga nyambi mengambil penumpang yang sejurusan dengan tempat yang dia tuju.

Mungkin karena yang mau mudik kurang, di kursi penumpang hanya ada saya dan anak-anak. Sopirnya cerita dia pergi pukul enam pagi dan balik lagi sekitar pukul 12 siang. Bolak-balik setiap hari begitu. Saya jadi mikir, ini orang berada di jalan dari awal hari sampai sore, kapan sholatnya ya?

Belum juga lewat setengah perjalanan, pertanyaan suudzon di benak tadi langsung tertepis. Si sopir mulai melantunkan ayat-ayat Al Quran dengan fasih bertartil. dia memuroja’ah Al Baqarah. suaranya lumayan lama terdengar, saya menduga hapalannya sudah melewati setengah juz ketika terputus karena mobil harus singgah.

Saya jadi malu hati sudah mempertanyakan sholatnya tadi walaupun hanya dalam hati.

 

****

Suatu sore saat kami kumpul di pertemuan pekanan, teman saya cerita.  Dia pernah numpang menginap di rumah kenalannya. Dia mendeskripsikannya begini “rumahnya sederhana, perabot kurang, mulai dari depan sampai dapur sama, minim perabot, bahkan makan pun mereka harus melantai”. Dia kemudian menambahkan bahwa yang mencolok di rumah itu hanya buku-buku yang jumlahnya sangat banyak.

Akhir cerita teman saya berkata, “Kalau melihat rumahnya kamu tidak akan menyangka pemilik rumah orang berada, suami istri bekerja sebagai seorang dokter sekaligus dosen”.

Teman saya menjelaskan kalau suami istri ini tahu betul bahwa dunia hanya tempat persinggahan saja, dan memilih rumah sederhana sebagai tempat bernaung sementara.

****

Seorang pemuda berperawakan kurus. Dia masih sangat muda. Sehari-hari memakai jeans dengan atasan kaos oblong. Kalau kamu melihatnya sekilas dia tampak seperti remaja yang sering nongkrong main gitar di pagar jembatan, yang suka bersiul jika cewek-cewek lewat.

Tapi tidak demikian. Dia adalah seorang pengusaha muda ulet yang beromzet 30 juta perhari. Di usianya yang masih belia, dia sudah mempekerjakan beberapa calon sarjana, bahkan yang sudah bergelar sarjana sebagai karyawannya.

****

Teman kantor saya cerita, di kompleksnya ibu-ibu hobi sekali berpakaian wah. Gamis-gamis yang mereka kenakan mewah dan mahal. Sampai-sampai teman saya yang memang suka berpenampilan sederhana merasa kumuh sendiri. Tapi tidak jarang pintu rumah teman saya itu diketok malam-malam, ibu yang kemarin ke arisan dengan tampilan istimewa datang meminjam uang. Teman saya bertanya untuk apa uangnya, “buat bayar SPP anak yang menunggak” jawab si ibu.

***

Itu beberapa cerita yang saya temukan di sekitar saya. Kisah-kisah serupa yang diberitakan dunia maya mungkin lebih banyak lagi. Jadi teringat kisah viral Mbah Asrori (92 th) yang setiap jumat membagikan 150 nasi bungkus. Sang kakek hanya orang biasa yang berpenampilan sederhana, tapi kebiasan bersedekah yang dia lakukan selama puluhan tahun membuat kagum banyak orang. Dialah orang kaya yang sebenar-benarnya.

Sadar atau tidak, diucapkan atau tidak, kita lebih banyak menilai orang lain dari yang tampak luar saja. Padahal rumah mentereng belum tentu penghuninya bebas hutang, demikian juga sebaliknya, rumah reot tapi bisa jadi penghuninya sangat lapang, lapang kesehatan dan keberkahan.

Saya harus banyak belajar untuk menahan mulut, menahan komentar agar tidak menilai seseorang terlalu cepat. Karena yang berhak menilai hanyalah yang maha mengetahui, yang tahu segalanya bahkan sebelum diucapkan.

Emak punya cerita sejenis? Share ya ^_^

 

 

Parepare, 23 November 2011