ditulis oleh Siti Hairul Dayah – http://www.catatansiemak.com

“Kok dibuang?” tanya sibapak.

Wajahnya ga enak banget. Sebagai orang yang sudah berbagi bantal selama 14 tahun bisa dibilang saya hafal raut wajah Si Bapak. Lebih banyak senyum meski pun jarang ngomong, tapi bersuara kalau ketemu yang ga pas. Salah satunya, saat saya membuang makanan sisa.

Sebenarnya, saya sedih banget kalau harus membuang makanan sisa. Bisa dibilang saya selalu mikir keras gimana caranya jangan sampai ada makanan sisa di rumah. Anak kami setengah lusin, tetapi terkadang ada makanan sisa yang kalau diangetin lagi sudah ga berselera, dibuang sayang.

“Eman Segone” itu kata sibapak. Sayang nasinya, begitulah artinya.

Sebelum kata Eman Segone ini diangkat sebagai gerakan sosial, kami sudah mulai menerapkannya dalam keluarga. Eman segone sendiri adalah sebuah gerakan sosial yang digagas oleh sebuah komunitas di Jogja. Tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk tidak terbiasa membuang-buang makanan. Nah, bisa dibilang yang kami lakukan di rumah adalah implementasi dari gerakan ini.

Setiap pulang bertugas setelah mengantarkan bantuan kemanusiaan baik di dalam mau pun luar negeri, selalu saja ayahnya anak-anak mengumpulkan anak-anak dan berbagi kisah sedih bagaimana di belahan bumi yang lain begitu berharganya sekerat roti, sebutir nasi, satu suapan bubur dan makanan lain.

Pernah saya tersedu-sedu ketika suami menunjukkan sebuah video wawancara dengan anak-anak pengungsi ketika mereka ditanya apa yang mereka inginkan.

Di antara banyak jawaban luar biasa terselip sebuah jawaban sederhana “Aku ingin roti panas dan sekerat semangka dingin, karena sudah bertahun-tahun aku tak pernah merasakan roti panas dan semangka dingin lagi. Di pengungsian yang ada adalah roti yang keras dan dingin”. Sesederhana itu impian mereka. Hanya roti yang masih panas dan semangka yang dingin.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh National Geography terungkap data dari United Nation Food and Agriculture Organization, setidaknya 1,3 juta ton makanan terbuang percuma. Padahal, jumlah itu setara dengan sepertiga jumlah makanan yang mampu diproduksi di dunia. Fenomena ini terbilang tidak baik, karena sejumlah penelitian mengungkap bahwa sekitar 800 juta orang tertidur dalam kondisi kelaparan. Mereka kelaparan karena masalah ekonomi juga lingkungan yang tidak mendukung.

Ya, ada 800 juta orang yang kelaparan di luar sana. Jadi sangat tidak layak kita membuang makanan.

Saat mengikuti suatu event blogger, sering saya lihat makanan sisa yang bertumpuk. Mereka mengambilnya terlalu banyak! Eman segone!

Saya sendiri merasa sangat bersalah jika menyisakan makanan di piring. Hanya dua alasan saya tidak memakan makanan yang terhidang, pertama, saya ragu makanan itu halal dan kedua makanan itu tidak bisa dimakan (terlalu pedas atau saya mual tiba-tiba). Selebihnya saya berani jamin selalu menghabiskan makanan. Bahkan se-air putihnya saya tandaskan sampai tak bersisa.

Di rumah perilaku itu saya terapkan untuk semua anggota keluarga. Anak-anak boleh menambah makanan tetapi syarat pertama adalah habiskan makanan yang kalian ambil. Bahkan air minum sekali pun. Saya dan ayahnya tidak pernah risih menghabiskan air minum yang tersisa di gelas. Yang penting baca ‘bismillah’ kata Si Bapak.

Prinsip Eman Segone ini bukan berarti pelit ya. Beda antara pelit dan sikap untuk tidak membuang-buang makanan. Ada beberapa hal yang saya lakukan agar tidak membuang makanan.

  1. Inilah yang dicontohkan ibu saya. Pernah dengar istilah jika makanan itu habis berarti berkah? Tanda tidak berkahnya makanan adalah ketika ada yang terbuang sia-sia. Makanya setuju banget dengan pepatah bijak yang bilang “ Lebih baik berpagar mangkok dari pada berpagar tembok”. Mangkok di sini artinya terbiasa berbagi makanan ke para tetangga. Kalau di desa, tradisi ini sudah biasa. Saling bertukar hasil kebun. Berbagi sayur yang menjadi pagar halaman. Sampai tradisi selalu berbagi makanan di saat bahagia maupun duka. Jika ada yang ‘ewuh’ atau ada yang mengadakan pesta, tak henti-hentinya makanan dibuat dan dibagikan ke para tetangga. Jika ada yang meninggal dunia, para tetangga berbondong-bondong datang memasakkan makanan untuk yang kena musibah. Inilah sebenarnya tradisi bangsa kita. Hampir di semua daerah di seluruh Indonesia saling berbagi makanan ini menjadi tradisi.
  2. Sesuaikan masakan dengan jumlah anggota keluarga atau lebihkan jika kita mau mengantarkan semangkuk dua mangkuk ke tetangga. Tidak perlu berlebihan dalam memasak. Tidak perlu juga memasak beraneka jenis masakan. Sesuaikan dengan prinsip makan seimbang saja sudah cukup.
  3. Biasakan anggota keluarga mengambil makanan sesuai porsinya. Dikira-kira makanan tersebut habis atau tidak jika sudah di atas piring. Setiap orang kalau mau jujur pasti bisa kok mengira-ngira berapa makanan yang bisa masuk ke perutnya. Porsi makan saya pasti berbeda dengan porsi suami atau anak-anak.
  4. Kreatif mengolah makanan sisa. Ada banyak tips yang dibagi oleh para chef di dunia maya untuk mengelola makanan sisa.
  5. Ajak anak-anak mengolah makanan agar mereka tahu susahnya menyediakan makanan agar sampai terhidang di meja makan. Agar mereka tahu berapa uang yang harus kita keluarkan saat membeli bahan makanan tersebut. Rasa empati seperti ini harus terus dibangun dalam diri anak-anak. Agar ketika mereka dewasa menjadi manusia sensitif jiwanya terhadap kesusahan orang lain. Dan selalu mudah tersentuh untuk selalu bersedia mengulurkan tangan terhadap orang lain yang kesusahan.

Semua tips di atas tidak akan bisa kita sebarkan kemana pun jika kita tidak memulai dari diri sendiri.

Saya membiarkan anak-anak melihat bagaimana saya ‘menelan’ makan sisa mereka. Agar mereka tahu betapa sedihnya saya jika ada makanan yang tersisa. Jika berkunjung, saya habiskan air milik mereka yang tidak habis terminum. Agar mereka tahu bahwa ibunya tidak pernah rela ada makan yang terbuang sia-sia. Dan perlu dikabarkan pada anak-anak bahwa membuang makanan itu perbuatan dzalim yang dibenci Allah.

***

Eman Segone adalah catatan kecil yang ditulis oleh Siti Hairul Dayah, emak-emak ndeso dari pinggiran Bantul, Yogyakarta, sebagai post trigger #KEBloggingCollab kelompok Khofifah Indar.