Manusia kadang suka malas dan punya kebiasaan menunda mengerjakan apa yang seharusnya bisa dikerjakan hari ini. Betul nggak?

kebiasaan menunda

Picture source: http://muda.kompasiana.com/2014/05/29/cara-untuk-mengatasi-sifat-menunda-nunda–658388.html

Contoh saja, siang itu, anakku yang cowok sibuk mengerjakan tugas membuat kliping. Sebelum membuat kliping, dia tanya padaku.

“Ma, ada tugas membuat kliping, menjilidkannya nanti malam atau besok pagi saja?”

“Nanti malam saja, kalau tempat fotocopy besok pagi tutup, malah tugasnya nanti nggak jadi dikumpulin.”

Pikirnya, kalau menjilidkan klipingnya besok pagi, agak sorean aja mengerjakan tugasnya. Kalau menjilidkan kliping malam, berarti tugasnya harus dikerjakan siang itu secepatnya.

Akhirnya siang itu dia membuat klipingnya dan selesai jam 6 malam. Jam setengah tujuh malam, aku pergi ke tempat fotocopy langganan kami. Di situ memang selain fotocopy, juga menerima penjilidan dan print dari flashdisk. Karena printer di rumah rusak, mau nggak mau kalau ada tugas print harus ke tempat fotocopy itu. Ternyata printer di tempat fotocopy juga sedang rusak. Jadilah kami pergi tempat fotocopy lainnya yang bisa melakukan print dari flashdisk. Untunglah akhirnya tugas bisa di print dan dijilid sekalian malam itu.

Tempat fotocopy langganan kami memang sudah buka mulai jam setengah enam pagi. Tapi kok ya nggak tenang kalau perginya pagi sebelum berangkat ke sekolah. Bersyukur sekali karena kami menjilidkan kliping malam itu, kalau ditunda besok, apa jadinya? Sudah mepet dengan jam masuk sekolah, ternyata printer rusak. Pasti tidak keburu untuk pergi ke tempat fotocopy satunya, karena yang satu itu bukanya baru jam 9 pagi. Itu berarti tugas nggak bisa dikumpulkan dong.

Pernah juga, anakku paling kecil, mengerjakan tugas dari sore sampai malam hampir jam sebelas, mengerjakan tugas TIK. Tugasnya adalah merangkum 1 buku paket TIK dan menuliskannya di power point. Tugas itu ternyata sudah diberikan oleh gurunya seminggu yang lalu, tapi baru dikerjakan oleh anakku hari itu, padahal besoknya dikumpulin dan masih harus belajar untuk ulangan esok hari. Oalah, kenapa nggak dicicil ngerjainnya? Susah sendiri jadinya.

Ya sudah, akhirnya anakku lembur sambil terkantuk-kantuk. Mau kubantu kok itu tugas anakku, nggak dibantuin kok kasihan juga ya. Akhirnya saat sudah jam 9 malam dan separoh buku aja belum selesai, aku membantu mengetikkannya sementara anakku yang merangkum dan mendiktekannya untukku. Biar lebih cepat selesai, karena anakku ini kalau mengetik agak lambat memang. Syukurlah, meski harus lembur sampai malam, akhirnya tugas bisa selesai juga. Untung tugas ini setelah dirangkum di microsoft word, cuma diminta dimasukkan ke flashdisk dan dibawa ke sekolah, tidak diminta untuk mengeprint dan menjilidkan. Coba kalau harus dijilid, kami tidak tau tempat fotocopy yang buka 24 jam.

Nggak cuma anak-anak, kadang-kadang aku juga sering menunda pekerjaan hanya karena malas saja. Misalnya saja, menyetrika baju yang harusnya bisa kulakukan hari ini, kutunda besoknya. Esok hari, karena masih malas, kutunda lagi besok lusa. Akibatnya saat lusa, aku keteteran karena harus menyetrika 3 tumpukan baju yang banyak banget. Badan jadi pegel-pegel semua, ah coba kalau tiap hari menyetrikanya, pasti nggak akan terlalu berat mengerjakannya. Kapok ah, nggak mau seperti itu lagi.

Semua kejadian ini bisa menjadi pengalaman yang berharga buat kami. Sebaiknya kita memang tidak boleh menunda apa yang bisa kita kerjakan hari ini. Menunda pekerjaan hari ini berarti menambah pekerjaan hari esok. Kita tak tau apa yang akan terjadi esok, dan menunda pekerjaan bisa juga berakibat buruk dan merugikan diri sendiri.

Pilih mana bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian atau bersenang-senang dahulu, bersusah-susah kemudian. Pilih yang pertama aja deh, susah dulu baru senang *maunya sih nggak usah susah, seneng terus ya hihihi 😀

Yup, memang sulit untuk melakukannya. Tapi tetap harus berusaha, bukan? Semangat!