Penulis: Winda Krisnadefa

Halooo! Duh, jadi malu, baru bisa nyumbang artikel di grup kece ini sekarang. Hiks! Maaf, ya! Tau dong, emak-emak itu rempongnya kayak gimana kan, ya? *alesan* Biasa, kalau emak-emak ngobrol ujung-ujungnya biasanya curhat. Eh, iya nggak, sih? Hihihihi… Saya jadi pengen curhat juga soal sesuatu yang udah mengganggu saya beberapa bulan terakhir ini.

Untuk yang belum kenal sama saya, saya kasih tau dulu ya, saya ini banci socmed banget! Wakakakakkk, beruntunglah yang nggak temenan sama saya di Facebook atau Twitter. Jadi nggak kebanjiran notifikasi gara-gara apdet-an saya yang membanjiri timeline. Saya malah pernah disentil sama beberapa teman dengan gambar screenshot status saya di Facebook yang berderet kayak gerbong kereta di homepage mereka. Huwwoww, saya aja sampai takjub sendiri. Segitunya ya gue? Ngihihihihi…

Teman saya di Facebook lumayan banyak (sekitar 2000-an) dan emang nggak semua saya kenal secara personal. Tapi boleh dibilang keakraban saya dengan mereka (terutama yang rajin update) lumayanlah, masuk kategori average. Saya kenal mereka, mereka kenal saya (paling tidak sebatas nama dan kegiatan sehari-hari).

Saya sendiri, sebanci-bancinya (buset deh, jangan pake istilah banci kali, ya? •) saya di socmed, sebisa mungkin nggak membagi hal-hal yang sifatnya pribadi seperti masalah dalam rumah tangga, pertikaian dengan teman, ngomongin aib orang lain (kalau ini kadang suka kepancing abis nonton infotainment…hiks, maafkan aku ya Allah…) atau berantem sindir-sindiran di status/twit. Penyebab pastinya saya nggak mau melakukan itu karena saya sendiri merasa nggak nyaman kalau menemukan status seperti itu di homepage saya.

Pasti pernah menemukan status teman yang sedang bertengkar dengan orang lain, kan? Isinya kadang suka bikin meringis. Dan yang bikin lebih meringis lagi, biasanya status sindiran itu terdengar lebih sadis dan pedas kalau datang dari seorang perempuan. Huaaa, ngeri deh pokoknya. Isinya sih bawa-bawa Tuhan, tapi bunyinya (misalnya) gini: “Biar Tuhan aja deh yang bales! Gak level gue sama lo! Nggak penting! Cuih!” Waduh, mak! Kenapa bisa sampai gitu sih, mak? *nanya sama rumput di halaman* Atau kadang (bisa juga) gini: “Aku tahu kamu model perempuan kayak gimana. Masih bagus nggak aku beberin semua aib kamu di sini. Kalau nggak, jangan harap masih punya muka kamu!” Jeng jeeeet! Berasa nonton sinetron gini di Facebook. •

Kalau udah gitu biasanya emak pada gimana? Maksudnya, abis baca status teman yang semacam itu, emak-emak biasanya gimana? Langsung biarin aja, atau langsung kepo? (motaaaw aja, ah! Hahahaha…) Saya sebisa mungkin memang biarin aja. Tapi tunggu dulu! Tiba-tiba nongol status baru dari seorang teman yang lain, isinya: “Dih, emangnya gue level sama lo? Nggak, deh!” Nahloo, nyambung tuh sama status yang tadi? Jangan-jangan berantemnya sama dia, nih? Teruuus aja menyusuri wall atau timeline mereka berdua. Judulnya sih belagak detektif, pengen tau ada masalah apa sih di antara mereka? Tapi intinya mah teuteubh: KEPO! Wakakakakkk…ngaku mak, ngaku! Pletak! *ditimpuk bakiak*

Huhuhu, jadi suka ingat nasihat mama saya, “Bergaul sama orang baik, maka kita akan jadi baik. Berteman sama orang shaleh, maka kita akan terbawa shaleh.” Ya tapi kan kalau di socmed gini, kita temenan nggak tau “kualitas” mereka secara pasti, kan? Ketemu muka aja nggak pernah. Rasanya nggak adil juga kita menilai-nilai ini teman yang baik, ini teman yang nggak baik sedangkan yang kita lihat cuma sebatas foto hasil upload dari BB mereka.

Tapi terus-terusan jadi orang KEPO juga nggak baik, kan? Ada yang ngamuk-ngamuk di status langsung napsu komen, “Siapa tuh, jeeeng? *wink*” Tapi giliran ada undangan pengajian di event Facebook, dicuekin aja.

Setelah nyaris 4 tahun gaul di Facebook dan Twitter, saya punya kesimpulan sendiri: “Being KEPO is killing you softly!” Mwahahaha, kesimpulan yang nggak akademik banget, yak! Iya, hahaha, saya jadi ngerasa sendiri udah buang-buang waktu ngurusin urusan yang bukan urusan sendiri. Ikut-ikut campur ke dalam keributan orang lain, mau tau kejelekan orang lain padahal nggak punya masalah apa-apa. Ah, terlalu banyak mudharatnya. Terlalu banyak efek jeleknya dibanding manfaatnya. Mending kalau bisa bikin langsing, lah ini malah makin napsu ngemil keripik singkong sambil melototin layar laptop, ngarepin keributan makin menjadi. Hya ampyuuun! Ini harus berhenti!

Sekarang (alhamdulillaah) saya udah tahu trik-triknya menghindari yang kayak begituan. Banyak-banyakin gabung sama group yang keren kayak grup Emak-emak Blogger ini salah satunya (eaaa!!). Gabung sama sebanyak mungkin orang-orang dengan positive attitude. Yang hobi berantem di status mah pasti ada aja. Nggak bisa dihindari. Tapi mau unfriend tiap ada yang berantem juga bukan solusi, kan? Kecuali kalau omongan mereka udah kasar banget dan mulai terasa nggak nyaman buat kita, ya silahkan aja. Itu hak kita, kok! Yang paling bagus sih, hide ajalah apdetan orang yang suka berantem di status gitu, biar kita juga nggak terpancing mau tau urusan orang lain. Banyak-banyakin komentar di status-status bahagia kayak kelahiran anak, pernikahan, ulang tahun, prestasi teman. Atau banyak-banyak menghibur teman yang sedang kena musibah. Trust me, it works! Intinya, mau jadi orang yang positif atau negatif itu pilihannya ada di tangan kita sendiri, kok! Nggak ada istilah kebawa-bawa atau terpengaruh. Kita kan manusia dewasa yang nantinya akan bertanggungjawab atas setiap perbuatan kita sendiri kepada Tuhan. Nggak bisa nunjuk hidung orang lain kan kalau nanti kita dituding, “Kamu, kepo! Suka mau ikut campur urusan orang dan kadang malah memperkeruh suasana kayak provokator!” sama Tuhan. Ya kali kita mau jawab, “Salahin dia tuh, salahin dia!” sambil nunjuk-nunjuk ke yang suka berantem. Wkwkwkwk…ini visualisasinya ngaco banget, deh!

Udah ya. Mari mulai sekarang kita ngurangin jadi emak-emak kepo ya, mak! Apalagi ini mau bulan Ramadhan. Sekalian buat latihan jiwa, merenungi apa saja kebaikan yang udah kita lakukan di dunia ini? Sekalian saya minta maaf lahir batin, ya! Maafkan kalau ada banyak salah-salah kata (baik typo atau pun makna). Mari sama-sama jadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain dan bermakna di mata Tuhan.

Salam Gahol dari Emak (gk) Gaoel