Sekedar cinta yang lirih.

Dalam senandung yang bertahtakan serpihan rapuh.

Setiakah embun pada pagi?

Sungguh tak pernah tekontaminasi,

Oleh erupsi paku bumi dan lidah api.


Sekedar cinta yang berbuih.

Dalam tarian ombak dan gravitasi bulan pada bumi.

Setiakah pantai dengan kesejukan?

Sungguh terkadang semua hanya basa-basi…

Sekedar dramatisir dan puitisasi.

Jikapun setia itu harus terumpama jelaga pada api,

Yang akan kujaga adalah jelaga yang berwarna cahaya.

Pun setelah terbakar hangus dan habis…

Sebanyak materi menjadi asap dan butiran kecil yang melayang.

Aku akan terus mengatur strategi  langkahku,

Merajut rumus-rumus pembunuh waktu.

Meniti kesetiaan pada ranah ini,

Perjalanan pena,

Dengan menata remah-remah warna yang ada.

Asalkan rona yang ditaburkan itu

Tetap beraroma cahaya.

Bahkan jelaga pun akah kusulap menjadi merah muda,

Seandainya saja aku bisa.

***