Penulis: Dini Erha

“I dont know how to end this beautifully.”
Mana yang akan anda pilih, membiarkan diri anda dalam siksa batin selama berpuluh-puluh tahun demi anak agar memiliki keluarga utuh atau membebaskan diri dan menjadi orang tua tunggal yang mandiri dan tegar?
Dalam buku “Eat, Pray, Love” [yang sudah difilmkan, dibintangi Julia Robert], Liz selalu menangis sendiri tengah malam di kamar mandi padahal kehidupannya sempurna, memiliki suami dan rumah mewah. Dan ia memilih bercerai dan tinggal sendiri.
Batin dan perempuan, selalu sepaket-apalagi ditambah seorang anak.
Menjadi single parent adalah pilihanku. Sejujurnya aku mendambakan kehidupan yang lengkap untuk anakku karena aku merasakan bagaimana sedih dan iri hatinya saat anak-anak lain diantar-jemput ayahnya di sekolah. Aku juga dibesarkan oleh seorang ibu single parent, tak kusangka anakku juga akan menjalani hal yang sama.
Ini pilihan yang berat, tapi yang terbaik untuk semua orang, terutama kami bertiga.
Untuk mendidik anak yang akan menjadi orang besar dibutuhkan seorang ibu yang memiliki kondisi psikologis prima. Anak-anak membutuhkan kestabilan orang tuanya. Melihat orang tua yang selalu bermusuhan akan berdampak buruk bagi psikologis anak. Semua orang harus belajar itu, I did.
Walaupun aku masih harus menahan tangis saat anakku memanggil ayahnya dan berlari menuju pintu jika malam menjelang, aku pasti bisa mendidiknya dengan baik, menjadi orang besar yang bermanfaat bagi seluruh umat. Aku harus memiliki keyakinan itu.
My husband is a money machine, itu panggilanku untuknya. Bagi kami, ada dan tidak ada ayah sama saja, aku merasa seorang diri melakukan semua keperluan rumah tangga dan menjaga anakku tetap hidup. Ayah terlalu sibuk bekerja sampai jam 1 pagi dengan gaji yang sama. Pergi pagi, pulang pagi.
Aku tak pernah mengeluh tentang uang, aku yakin rejeki datang dari mana saja dan selama kita berusaha maka tidak akan pernah kekurangan. Tapi mungkin sebagai seorang laki-laki, pikiran kami berbeda. Memberi lebih adalah keinginan suamiku, tapi sayangnya sampai saat ini tidak ada kelebihan. Aku mengerti mungkin usahanya belum membuahkan hasil, Semua harus dihitung dengan uang, termasuk kebahagiaan kami.
Sebagai istri, aku merasa pernikahan dan kebersamaan ini hanya formalitas. Aku sudah bertahan cukup lama, satu tahun lebih. Kini aku sudah mati rasa karena hatiku sudah tidak cukup menampung kesepian dan kesedihan ini sendiri. Rasanya batinku disimpan di dalam freezer sampai membatu. Bagaimana kalau lebih lama lagi?
Everybody needs a ‘lil touch. That’s why I always hug and kiss my son everytime. Sekaligus berharap kestabilan psikologisnya menjalani kehidupan tanpa ayah, walaupun aku tak pernah melarang ayahnya untuk datang mengunjunginya. He just never came like he never misses us. 
So I guess, this is it. Divortiare.
Note:
Selama ini aku memiliki mindset, “Anak yang tumbuh dari keluarga broken home, juga akan berakhir sama seperti orang tuanya.” Sakit hati kronis dan merasa bisa hidup tanpa orang lain memang membuat lebih tegar tapi seharusnya mindset itu diubah. Ini adalah sesuatu yang perlu dipelajari dan dipahami semua orang.