images

credit

Sebagai orang yang sudah banyak wira wiri di blogosphere, kita pasti sering menjumpai kopas mengopas karya. Mau fiksi, mau non fiksi, mau artikel serius atau puisi, bahkan image. Banyak hal yang bisa menjadi semacam komoditi untuk para kopasser. Dan kita, sebagai orang kreatif yang “menciptakan” si komoditi tentu saja ga rela, hasil pemikiran dan kerjanya asal diambil saja oleh orang lain. Betul ga sih?

Ada beberapa modus *halagh bahasanya* yang bisa saya temukan terkait dengan kegiatan ilegal kopas mengopas ini.

  1. Artikel kita dikopi mentah-mentah, baik dengan editing ataupun tidak. Editing ini mungkin hanya dimaksudkan supaya hasil kopas itu menjadi “agak” berbeda. Tapi kita tentu juga tetap ga rela kan ya, biar sudah diedit pun.
  2. Yang kedua, cerita ini saya dapatkan dari teman. Beliau ikut lomba blog, terus ketika artikelnya sudah diposting, ada yang nanya-nanya. Selang beberapa hari, si penanya tadi memposting artikel hasil kopas dari blog narablog yang ditanya-tanya, PLUS informasi tambahan yang ditanyakan. Hoooo #nyesek.
  3. Ketiga, image. Image yang diambil dari kita, yang belum dikasih watermark, dan dipasang di artikel/postingan/blog dia dengan semena-mena, tanpa menyebutkan sumber image.
  4. Keempat, masih tentang image. Image yang sudah kita kasih watermark, tiba-tiba saja nongol di blog/web orang dengan sudah di-cropping untuk menghilangkan watermark. Hohoho.. ini sih niat. πŸ˜€

 

Sebenernya, selama ada proses kreatif, yang begini ini akan terus ada. Kita tidak akan bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Maksud saya, kita sedang ngomongin masalah mental. Jadi kita ga akan bisa menuntut orang terlalu banyak. Sebagai ilustrasi aja, sebut saja Mak X. Beliau ikutan lomba blog tertentu, lalu menemukan bahwa foto yang dia pake dan pasang di artikelnya diambil dengan semena-mena oleh peserta lomba lain. Si Mak X ini langsung bilang dong sama si kopasser, eh ntu image saya, situ kok ga minta ijin sama saya asal ngambil doang. Ga nyebutin sumber pula. Daaaan, apa jawab si kopasser? Wah, itu foto saya ambil dari Google kok? Makssssud? Emang Google ambil dari mana? πŸ˜† oh dear… *elap kringet* Yak, yang merasa lagi diomongin, ga usah cengar cengir yak πŸ˜† *dilempar ulegan batu*

Pernah juga nih, tulisan fiksi yang dikopas. Lucu kan, ya kalo artikel yang nonfiksi dikopas mungkin siiiihhh bahwa sudut pandang seseorang akan suatu masalah MUNGKIN sama. Itupun saya rasa, ga mungkin juga sama persis kan? Pastilah ada beda-bedanya dikit. Lah, ini fiksi dikopas. Masak imajinasi bisa sama persis. Kan ga mungkin banget! Trus ketika orang-orang ramai-ramai teriak “maling” pada, sebut saja A, dan lalu memberikan link blog milik B yang diyakini sebagai tulisan asli, eh… si “maling” ini malah bikin blog lain, semacam alter ego blog, posting di situ dan tanggal postingan dibikin mundur. Dibilangnya bahwa itu sebenernya adalah karya dia yang juga dikopas orang. Jadi semacam mem-backdate postingan, supaya terkesan fiksi dia yang dikopas oleh B. Itu kan fitnah namanya. Iya ga sih? Ckckckckckck…

Anyway, saya sudah sering cuap-cuap di twitter tentang kopas mengopas ini. Sebenernya ada beberapa langkah yang bisa kita ambil. Yahhhh, bukan untuk menyetop sama sekali *karena ini jelas GA MUNGKIN* tapi setidaknya meminimalisir kemungkinan dikopas.

  1. Daftarkan blog kamu di berbagai layanan penyedia copyright. Banyak yang gratis banyak pula yang berbayar. Saya biasanya merekomendasikan My Free Copyright. Tapi entah kenapa barusan saya click kok error. Mungkin bisa dicoba lain kali. My Free Copyright ini akan mengirimkan email pada kita kalau dia menemukan konten yang sama dengan yang ada di blog kita. Helpful.
  2. Selain MyFreeCopyright, bisa juga ke CopyScape. Kalo ini kita harus men-scan secara manual sendiri jika ingin tahu apakah ada konten yang sama dengan yang kita tulis. Kalau mau yang berbayar, dia akan mengirimkan email jika ada artikel/blogpost yang sama dengan yang ada di blog kita. Silakan langsung ke Copysentry.
  3. Untuk image, selalu bubuhkan *kayak masak aja ya, bubuhkan gula #ngiik* watermark pada fotonya. Watermark jangan cuma kecil di pinggir. Mending dibikin besar, dan di tengah, tabrakkan pada objek foto. Khawatir mengganggu? Opacity nya saja yang diatur. Jadi transparan. Hah? Belom bisa bikin watermark? Yang online bisa pake pixlr, picmarkr, atau photobucket. All is free! Mau pake photoshop, tutorialnya bisa diliat di sini. Semuanya gampang! Saya saranin sih, bersusah-susahlah sedikit mau ngedit foto. Daripada nyesek fotonya diambil orang. Ini saran aja sik. πŸ˜€
  4. Untuk blog berplatform wordpress berbayar, pastikan pake plugin WP Copyright Pro dan set supaya ga bisa disorot dan diklik kanan. Sepertinya blogspot juga bisa dibikin begini, tapi pake javascript. Coba deh digugel aja. Saya kurang ngerti, karena yahhh.. bisa dibilang javascript itu benci sama saya. #eh Lha kalo di WP gratisan? Errr… mari kita berdoa supaya WP bisa memasukkan fasilitas ini secepatnya ke blog gratisannya. #halagh
  5. Kalo menemukan karya kopas, langsung ambil screenshot. Jangan tunggu apa-apa lagi. Pokoknya langsung saja screenshot. Itu bukti. Trus setelah itu? Ya, kalau lomba, silakan menghubungi panitia sambil memberikan bukti screenshot tadi. Kalau artikel kopas itu ada di web portal, segera hubungi adminnya. Juga dengan melampirkan bukti screenshot. Kalo bukan lomba dan bukan web portal? Ya silakan saja mau diapakan itu kopasser πŸ˜€ hehe.. Yang penting screenshot dulu.

 

Selain semua saran di atas, saran terakhir yang ga kalah penting: ikhlas. Ehhh, entar dulu, jangan buru-buru menoyor saya. Jadi begini, toh nothing’s new under the sun, dan apapun yang sudah kita publish ya akan jadi milik publik. Jadi ketika mo mencet tombol publish, tekankan pada diri sendiri bahwa kita ikhlas mem-publish karya kita itu. Karena, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, yang seperti ga akan bisa hilang musnah selama masih ada proses kreatifitas. Daripada ngomel sana ngomel sini ga berenti-berenti karena karyanya dikopas, maksudnya, yaaa ngomel sih boleh-boleh aja. Namanya juga menumpahkan kekesalan. Gimana ga kesel, kita yang mikir, orang lain yang dapet kerennya. Iya kan? Tapiiii, bentar aja. Ga usah lama-lama. Mendingan, dipake aja itu rage power nya menjadi karya lain yang lebih dahsyat. Berkarya lagi, menulis lagi, foto-foto lagi, dengan lebih bagus! Dikopi lagi, bikin lagi yang lain yang lebih bagus! Dikopi lagi? Yaa, bikin lagi! Gitu terus.

Because… copycat would never be as good as the original one. πŸ™‚