Foto dengan mading - Zulkhaeryah
Pelatihan Menulis: Agar Perempuan Peka Menangkap Isu ini diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar dan merupakan pelatihan ketiga yang saya ikuti, mewakili KEB. Pelatihan pertama berlangsung pada bulan November 2013 (reportasenya bisa dibaca di sini), pelatihan kedua berlangsung pada bulan Januari 2014 (reportasenya bisa dibaca di sini), dan pelatihan yang ketiga ini berlangsung pada tanggal 30 – 31 Mei 2015.

AJI mengundang pemateri dan fasilitator yang berpengalaman dalam hal jurnalistik. Mereka memahami pentingnya mengangkat isu perempuan. Salma Tadjang, Hajrahmurni, dan Ina Rahlina adalah orang-orang yang tak segan membagikan pengetahuan mereka kepada para peserta pelatihan.

Ada 15 utusan komunitas yang diundang. Sayangnya tak semuanya mengikuti pelatihan ini. Ada pula yang karena kesibukan, tidak bisa mengikuti pelatihan secara lengkap selama dua hari. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Selama dua hari itu, saya memanfaatkan detik demi detik waktu untuk menyerap semua pengetahuan yang dicurahkan oleh para pemateri dan fasilitator.

Sebenarnya tak ada materi baru. Materi yang saya dapatkan merupakan pengulangan dari pelatihan-pelatihan sebelumnya. Bedanya, pada pelatihan ketiga ini, para peserta lebih dituntut untuk lebih banyak praktik dan memahami kondisi riil mengenai perempuan di masyarakat melalui game.

Saya lupa menanyakan nama game-nya. Di dalam game itu, setiap orang yang terlibat bermain peran. Ada peran sebagai perempuan berpendidikan yang pengusaha, peran sebagai istri bupati, peran sebagai istri siri, peran sebagai istri yang bercerai, peran sebagai perempuan penyandang disabilitas, dan lain-lain. Juga ada peran sebagai  buruh lelaki yang harus berdemonstrasi untuk mendapatkan haknya dan peran sebagai lelaki pengidap suatu penyakit dan memiliki keterbatasan terhadap fasilitas kesehatan.

Para perempuan yang hidupnya beruntung karena mudah memperoleh akses kesehatan dan pendidikan berada di “garis” depan. Perempuan-perempuan yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan dan tidak beruntung secara ekonomi berada di garis belakang. Sementara para lelaki, setidak beruntung bagaimana pun kondisinya, mereka masih berada pada “comfort zone” – di bagian tengah. Ini tandanya, secara riil, perempuan sangat rentan mengalami penderitaan.

Ide besar dari pelatihan ini adalah menekankan kembali mengenai pentingnya perempuan menulis tentang isu keperempuanan yang ada di sekitarnya, utamanya yang ada di komunitasnya. Dengan lebih jeli menangkap dan menulis hal-hal yang dekat dengan perempuan, diharapkan masyarakat luas lebih mengetahui dan bisa mengambil manfaat melalui hal-hal yang dilakukan komunitas-komunitas ini.

Ketua AJI Makassar – Gunawan Mashar dalam pembukaannya menggarisbawahi harapannya agar para peserta mampu menulis dengan lebih dalam, “Bukan sekadar menulis tetapi mencoba melihat seksama sebuah persoalan.”

Para peserta mendapat tugas meliput dan menuliskan isu penting di komunitasnya secara berkelompok. Dan secara berkelompok pula, para peserta harus membuat majalah dinding (mading) yang kreatif dan bernas.

Kerja kelompok diwarnai canda tawa para peserta. Semua peserta bersungguh-sungguh menyelesaikan mading mereka. Saya bersama kawan-kawan sekelompok (yang ternyata semuanya sudah emak-emak) dari IIDN Makassar (Zulkhaeryah), Komunitas Epidemiologi Pasca UMI (Irmawati), Komunitas Lentera Anak Negeri (Arnis Puspitha), dan Komunitas Ibu Muda Pacerakkang (Ella) antusias mengerjakan mading yang kami beri nama Amirah. Nama “Amirah” berasal dari Bahasa Arab yang berarti “perempuan pemimpin”. Dalam diskusi sebelumnya, salah seorang peserta – Mbak Gee Gee namanya, mengatakan bahwa istilah “perempuan pemimpin” adalah istilah yang dipakai saat ini untuk menggambarkan tipikal perempuan mumpuni. Mbak Gee ini banyak memberi masukan mengenai kajian gender pada kami.

Mading Amirah berhasil meraih juara kedua. Juara pertama diraih oleh kelompok yang kebetulan semua anggotanya para gadis. Mereka menamai mading mereka “The Butterfly”. Juara ketiganya adalah kelompok “Key” yang menempuh berbagai ujian (mulai dari laptop yang tiba-tiba rusak sampai anggota yang tiba-tiba pulang di tengah diskusi kelompok) dalam kerja kelompoknya.

Bagi para peserta, juara 1, 2, ataupun 3 tak menjadi masalah. Yang penting kami telah berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugas yang diberikan. Mudah-mudahan pelatihan ini menjadi titik tolak semua peserta (terlebih diri saya sendiri) untuk lebih konsisten menulis mengenai perempuan dan bersama-sama mengupayakan pemberdayaan perempuan dalam bidang masing-masing.

Makassar, 2 Juni 2015

Mugniar