Sering merasa lelah nggak sih, Maks, saat ngeblog?

Energinya tiba-tiba seperti tersedot habis? Semangat nulisnya tiba-tiba turun drastis? Lemah, lunglai, tak berdaya? Minum krat … Tetot! *malah iklan*

Pasti ya, Maks, kadang kita exhausted banget ngeblog. Ide mampet, badan capek luar biasa, males nulis de es be de es be. Wajar nggak sih? Wajar banget. Apalagi yang sekarang lagi ngejar penghasilan tambahan dari ngeblog. Heuuu … harus extra kerja keras naikin DA, PA, Alexa dan kawan-kawannya.

Saat semua sudah atau sedang dikerjakan, tiba-tiba … whuzzz … rasa capek melanda. Blogger burnout, begitu saya temukan istilahnya.

Terus, gimana? Apa yang harus kita lakukan supaya energi ngeblog kita kembali? Bagaimanapun kita harus segera kembali ngeblog kan?

Saya sering mengalaminya lho, Maks. Kadang rasanya ngeblog ini kayak jebakan buat saya. Hayati lelah, tapi harus tetap dikerjakan karena sudah komit dengan orang. Nggak bisa enggak. Nah, kalau sudah begitu, biasanya sih saya melakukan satu, beberapa atau semua 7 hal berikut ini nih.

1. Belajar sesuatu di luar area

Kadang kalau kita too much mengerjakan sesuatu yang sama setiap hari, itu akan membosankan pada titik tertentu. Setuju, Maks?

Se-passion-passion-nya kita pada ngeblog, kalau hanya ituuu saja yang kita lakukan tiap hari, kadang terasa menjenuhkan. Dan, itu wajar. So, lakukan sesuatu yang berbeda untuk sesekali saja. Kalau blog kita ber-niche, kita bisa mencoba sehari saja kita nggak nguplek-uplek niche blog kita itu. Kalau biasanya kita hanya menulis mengenai makanan, review resto dan cafe … cobalah untuk, misalnya, menulis tips bagaimana memotret makanan di cafe dengan baik, atau bagaimana menemukan cafe yang enak saat bertualang ke suatu tempat asing. Dan lain sebagainya.

Atau lakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Itulah mengapa saya rasa, seseorang itu harus punya seenggaknya dua hobi. Saat dia jenuh dengan salah satunya, dia bisa melakukan yang lainnya. Saat hobi yang satu sedang tak membuatnya bahagia, maka hobi yang lain pasti bisa membuatnya senang. Yeah, some kind like that.

Saya, selain ngeblog dan nulis, punya passion juga di sketsa tangan. Maka saya jadikan passion tersebut sebagai ‘katarsis’ ngeblog atau nulis. Saat saya too much dengan sketsa, maka saya nulis. Hingga kemudian sekarang, saya nggak pernah lagi merasakan blogger burnout ini.

2. Katakan “tidak”

Dulu saya mengiyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan blog dan menulis yang datang pada saya. Job review iya, content replacement iya, reportase acara iya, review ini pesanan itu, tawaran nulis di web ini, buzzing product itu … WUAH!

Iya sih, seneng. Banget. Waktu nerimanya. Dapat uang, bisa jadi portfolio ….

Tapi, kalau semua-muanya diiyain, lelah juga, Maks. Kayak nggak ada jeda buat napas. Tahu-tahu aja ada yang keteter. Semula hanya satu, lalu dua, lalu beberapa keteter. Akhirnya semua keteter. Meski kita merasa sudah melakukan manajemen waktu dengan benar, tetap saja. Rasanya selalu ada yang keteter.

Kalau sudah begitu, berlatihlah untuk bilang “tidak”. Skala prioritas, Maks. It’s about choices. Tentang pilihan. Either you can choose yang paling menyedot energi saja untuk dikerjakan, atau memilih mendingan yang ringan-ringan tapi banyak macamnya yang dikerjakan. Maksudnya gini. Misalnya nih, ada acara blogger, dan untuk menghadirinya Emaks harus susah payah naik komuter, lalu sambung TransJakarta, lalu disambung naik ojek dan masih harus jalan kaki. Tentu saja ini akan menyedot banyak energi. Atau, mendingan menerima job-job kecil tapi Emaks bisa santai mengerjakannya di rumah. Semua ada plus minusnya, ada konsekuensinya, yang Emaks sendiri yang tahu. Orang lain nggak akan paham. Jadi, pilih dan putuskan.

Setelah itu, segera katakan “tidak” untuk yang lain, lalu jangan lupa. Ikhlaskan!

Say yes sometimes, and say no most of the time. One person can’t do everything.

3. Log out now!

Saat exhausted, yang paling pertama saya lakukan, adalah diet media sosial.

Yes, Maks, media sosial meski mengasyikkan, tapi sekaligus exhausting and irritating. Melelahkan, dan kadang bikin emosi jiwa sendiri. Hahaha. Hayoh, siapa suka emosian di medsos? 😛

Media sosial, baik itu Facebook, Twitter, Instagram, Path, apa pun, kadang sangat bikin kita burnout abis. Saya benar-benar salut dengan orang yang bisa war di media sosial, ya comment war, twitwar … apalah apalah. Astagaaa, kok bisa yaaa. Debat sama orang itu melelahkan banget buat saya. Nggak usah jadi debater deh, nontonin aja bikin lelah. 😆 Aduh, ada nggak yang sama ama saya kayak gini? Atau jangan-jangan saya aja nih? 😛

Kalau sudah begitu, saya mendingan logout semua. Nanti “nyembul” lagi kalau sudah aman. Mau dibilang saya penakut, nggak punya pendirian, nggak berani stand by myself, terserahlah. Hahaha. Demi kesehatan.

4. Don’t look on measurements!

Ukuran itu sangat menghantui, Maks! Percaya deh.

Follower berapa? Dapat berapa likes? Dapat berapa RT? DA berapa? Alexa berapa? Friend berapa? … Aduh! Semuanya tentang ukuran. Ukuran-ukuran itu memang semacam target sehari-hari kita, para blogger. Tapi, kadang terasa melelahkan nggak sih?

Saya pernah merasa capek ngejar semua ukuran itu. Sering banget malah.

Oke, ini agak-agak curcol dan sedikit memalukan. Saya pernah tiap hari ngecek Alexa, ngecek PageRank (waktu itu), dan juga tiap hari ngecek Klout. Dan, apa yang saya dapat? Saat Alexa nggak ramping-ramping juga, saya memang tertantang buat ngerampingin. Begitupun dengan PageRank, dan juga Klout. Tapi di waktu yang sama, ada kekecewaan juga menyelip di situ. Sekali dua kali, saya masih tertantang. Beberapa kali, masih belum kapok. Tertantang. Banyak kali, saat saya menemukan PageRank nggak nambah-nambah, Alexa turun naik menyebalkan, Klout juga nggak stabil, di situ saya merasa lelah.

Akhirnya, sekarang saya berhenti mengecek sama sekali. Saat saya posting di Instagram, saya belajar untuk nggak ngeliat notif kecuali kalau ada yang komen dan perlu dibalas. Begitupun di Facebook, dan lain-lain.

Hingga kemudian, karena saya jarang ngecek, maka saya pun jadi fokus untuk menulis lebih baik, sharing yang lebih baik, dan networking dengan lebih baik juga. Suatu saat, saya harus meng-update Ratecard karena diharuskan begitu oleh klien, jadi saya harus cek Alexa, DA, PA, dkk. Dan … voila! Ternyata semua sedang berada di angka yang bagus. Alhamdulillah 😀

Habis itu? Tutup lagi! Cek lagi kalau ditanya. Hahaha.

Mungkin ini beda-beda ya. Ada yang barangkali makin terpacu dengan semua target tersebut. Percayalah, saya dulu juga begitu. Hingga saya ada di titik paling jenuh. Jika mungkin suatu saat nanti Emaks juga berada di titik tersebut, cara saya di atas barangkali bisa Emaks coba :).

5. Pergi piknik, tanpa gadget ataupun laptop

Ini nih, yang paling seru ya. Hehehe. Saya percaya Emaks semua suka piknik. Siapa sih yang enggak? Tapi cobalah sesekali piknik tanpa ada beban. Tanpa harus foto dan diunggah ke Instagram. Tanpa harus ditulis review tempat atau hotelnya. Tanpa check in di Path atau Foursquare. Get lost, totally lost.

Percaya deh, kita bagaikan merasa berpetualang ke negeri dongeng. Hahaha. Bisa ketemu Nirmala sama Oki #eh. Efeknya beda, Maks, kalau piknik karena kerjaan atau piknik untuk menjauh sejenak dari kerjaan. Refresh-nya beda. Cobain deh :).

6. Turunkan tingkat perfeksionisme

Siapa yang perfeksionis? Coba ngacung. *Ikutan ngacung*

Bagus dong ya. Yang dikerjakan pasti menghasilkan sesuatu yang maksimal. Kalau ngeblog, ya artikelnya jadi keren. Bahkan bisa bikin infografis yang juga maksimal. Waaahhh ….

Tapi menjadi perfeksionis kadang membuat semua hal menjadi terasa kurang. Aduh, fotonya kegelapan. Aduh, belum sempat cek typo. Aduh, belum ini. Aduh, itunya kurang. Kapan selesainya yak, kalau gini?

Ada hal-hal yang kadang harus kita biarkan “nampak” buruk atau biasa. Ada hal-hal yang memang harus kita optimalkan, meski perlahan-lahan. It’s good to be perfectionist, but sometimes, it’s such a pain in the a*s. 😆 Nggak sempurna itu biasa. Biarkan saja. Kapan-kapan kalau ada waktu, bisa kok diperbaiki. Kurang foto, bisa deh ditambahin. Kurang infografisnya, tambahin juga nanti.

7. Redefining tujuan ngeblog

Saat semua memang mentok, saya kemudian sering melihat kembali tujuan awal saya ngeblog.

Apakah sedari awal saya pengin ngeblog untuk cari duit dengan gampang dan cepat? Enggak.

Apakah sedari awal saya pengin ngeblog supaya saya terkenal? Enggak.

Apakah sedari awal saya ngeblog untuk jumlah follower berlimpah? Enggak.

Sedari awal saya ngeblog karena saya suka nulis. Saya suka nulis apa saja. Saya seorang ambivert tapi dengan sisi introvert yang lebih dominan, dan saya pengin mengemukakan apa yang ada dalam pikiran saya. Kemudian saya berkembang ingin cerita tentang hal-hal yang saya ketahui. Saya pengin sharing pengalaman saya kerja di sebuah perusahaan berbasis industri kreatif (saat itu). Saya juga pengin sharing pengalaman saya melahirkan anak, dan membesarkan mereka.

Sharing. Itulah niat saya di awal ngeblog.

Maka, saat saya merasa burnout, saya pun berusaha kembali ke track awal. Meski saya nggak lagi sharing kehidupan sehari-hari saya, tapi saya berusaha sharing apa yang saya dapat sehari-hari.

Itu sekadar contoh, Maks.

Emaks tentu punya tujuan awal ngeblog sendiri-sendiri. Dan, di situlah ke mana Emaks bisa back on track :).

 **

Nah, itu dia 7 hal yang biasa saya lakukan kalau saya sedang lelah ngeblog, untuk bisa berenergi kembali dengan cepat. Emaks punya cara lain?

Yuk, share di kolom komen ya!

 

 

Ditulis oleh

Carolina Ratri
Blogger yang suka nulis di www.CarolinaRatri.com
untuk www.emak2blogger.com