Mak, sila baca materinya terlebih dulu di artikel part 1 yaa. Dan karena pertanyaannya banyaaaak sekali, dan penjelasannya pun cukup panjang, maka #ArtikelBerbagi kali ini akan menjadi 3 bagian ya, Mak. Berikut Sebagian pertanyaan dari emak-emak untuk Mak Putri Kartika Mentari.

**

BAGAIMANA CARA MENGATUR WAKTU JIKA MEMILIKI LEBIH DARI SATU AKUN SOSIAL MEDIA

Bagaimana mengatur waktunya untuk setiap sosial media, mungkin dikaitkan dengan prime time masing-masing sosmed biar efektif. Misal main FB pagi, twitter malem. Apa gimana? Makasiih… –Rotun Df

Jawab: Hi Mbak, bisa diatur sesuai dengan jumlah followersnya. Kalau misalnya lebih banyak teman di fb ya frekuensinya lebih banyak di fb begitupun di media sosial lainnya. Tapi tetep ya mbak, minimal sehari sekali diupdate

JUMLAH FOLLOWERS, MASIHKAH SIGNIFIKAN UNTUK JOB REVIEW?

Saya lagi rada bingung mak, ada yang bilang twitter makin sepi, tapi kok kemarin heboh  follow to follow twitter karena ada syarat punya minimal 1000 followers. – Diah Dwi Arti

Jawab: Siapa yg bilang twitter sepi? Sepi dalam artian memang sedang ada penurunan angka dari pusatnya. Tapi teteup aja rame kok. Bahkan saya lebih update berita via twitter dibanding media mainstream

Mau nanya buat blogger di daerah yang jarang kopdar apa aja nih biar bisa dikenal brand? Sebaiknya apakah khusus ngetweet materi di blog kita atau apa? –Naqiyyah Syam

Jawab: Ngetweet daily activities kan bisa Mak. Dibikin seru aja. Misalnya ketemu orang aneh di pasar. Banyak loh yang suka kultwit hal-hal ga penting tapi seru. Coba kepoin @amrazing

TENTANG PERSONAL BRANDING

“Asal, kita tetap tau batasan dalam bermain media sosial agar nggak merugikan beberapa pihak.” Maksudnya agar tidak merugikan beberapa pihak itu gimana ya? Kan kita membrandingkan diri sendiri, gituu..
Trus satu lagi, kalo mau ngeshare di medsos kan butuh kepedean dan keberanian, nah selaku newbie di dunia blogger, gimana caranya agar kita berani dan pede, Mak? (kita cuma berani nulis di blog tapi ga berani ngeshare) Mengingat mungkin tulisan kita masih amburadul hingga kepercayaan diri untuk ngeshare itu dibawah ambang batas. Ini pengalaman pribadi mak, hehe. – Sri Luhur Svastari

Jawab: Hai Mbak, merugikan banyak pihak adalah saat kita membranding sebagai blogger pro tapi ternyata banyak faktor yang nggak mendukung. Jadi ya membranding sekaligus melatih diri untuk menjadi seperti apa kita ingin dikenal.

Masalah sharing, kalau nungguin PD mau sampai kapan? Toh dari kritik dan saran juga lama-lama kita berkembangnya, Mbak. Semangat yaaaa

Menentukan branding gak gampang. Dijalani dulu daja. Lama kelamaan bakal ketauan kita lebih suka nulis tentang apa. Dan dari situlah nanti brandingnya muncul.

FB saya pakai sebelum ngeblog, sehingga personal brand  sudah lama menempel. Apakah itu akan tetap jadi personal brand kita ? – Yanti Mariyana

Jawab: Yup. Maksudnya branding adalah kita pengen dikenal sebagai apa. Misalnya mbak IRT yang kesehariannya suka posting tentang anak. Lama kelamaan branding ‘mom blogger’ akan melekat dengan kita. Ini salah satu cara penentuan niche juga sih

MAKSUD KATA INFLUENCER DAN HUBUNGANNYA DENGAN REVIEW

Belum ngeh soal influencer.. bisa diberi contoh twit yang dimaksud itu yang seperti apa? – Rita Asmaraningsih

Jawab: Hi Mbak Rita, contoh influencer sesimpel ini:

saat saya mereview produk, saya bilang produknya jelek, lalu orang lain katakanlah teman saya, dia membaca tulisan saya dan setelahnya ikutan bilang produk itu jelek berarti saya mampu mempengaruhi dia. Jadi saya mempengaruhi orang lain dengan tulisan saya.

Setiap orang bisa jadi influencer, termasuk Mbak Rita. Contoh lagi, beauty blogger yang lagi hits, Alodita. Dia beli produk A lalu direview, besoknya orang yang baca reviewnya beli produknya. Itu tanda orang tersebut sudah terinfluence oleh si blogger.

Jadi pada dasarnya blogger itu = social influencer kan? lalu, tadi dibilang brand menolak kerjasama dengan blogger bila blogger ‘membuat perbandingan tanpa memberikan solusi yang dapat diterima’ Bukankah memang blogger itu pada dasarnya suka mencoba-coba dan pastinya akan compare brand satu dengan yang lainnya? Apakah itu salah? – Caroline Adenan

Jawab: Maksudnya tanpa solusi, misalnya tidak suka sama B terus direview hanya menuliskan negatifnya aja. Kalau brand melihat, bisa-bisa kita dianggap gak fair karena sejelek-jeleknya brand pasti ada sisi positifnya misalnya harganya atau kemudahan didapat.

Atau contoh kedua, misalnya datang ke acara A dan kita kecewa sama penyelenggara. Bisa dikasih masukkan harusnya begini bla bla bla.
Sebagai blogger harus bisa menjadi penengah, bukan justru menimbulkan perdebatan jalan buntu.

Dan pembaca akan lebih merasa puas saat ada sebab akibat, kenapa dan harusnya, jadi ada alur cerita ndak cuma memberatkan sepihak.

Apakah harus bohong jika produk itu cuma punya kelebihan sedangkan ada kekurangannya dan belum tentu kita punya solusi kadang ada blogger komunitas yang cuma ngeluh soal sarana ato hal lain. –Tyaseta Rabita Nugraeni

Iya makanya aku bingung. Kalau aku pribadi as a blogger memang akan menulis sesuai dengan pengalaman aku. What I feel, What I write, jadi ya tulisanku pastinya jujur semua. – Caroline Adenan

Jawab: (Mira Sahid) Kalau menyangkut tulisan berbayar, ceritanya berbeda. Makanya ada content guideline dan surat perjanjian, untuk menemukan kesepakatannya.

(Putri Kartika Mentari) Bukan berarti nggak menuliskan kekurangan. Harus kasih solusi. Jadi misalnya tempat makan A itu panas, kita tulis review sambil kasih masukkan, “harusnya disediakan pendingin udara agar pelanggan tidak merasa gerah atau panas” contohnya gitu.

**

Nah, segini dulu ya, Mak. Nanti kita sambung lagi, OK ;).