Aku tidak pernah percaya akan sebuah kebetulan.

Mungkin aku memang pelacur, tapi aku masih percaya Tuhan. Bahwa daun yang terjatuh karena embusan angin sudah ada yang mengatur. Bahwa ulat yang menjadi kepompong kelak akan menjelma kupu-kup pada saat yang sudah ditentukan. Bahwa aku menjadi penjaja seks adalah sebuah ketetapan.

Semacam itulah.

Maka perkenalanku dengan sosok itu pun adalah ketidaksengajaan yang disengaja. Bing —demikian aku menyapanya—  adalah sosok lelaki dewasa yang terlampau rupawan untuk hanya diabaikan. Meskipun dia hampir selalu dalam keadaan mabuk, lelaki mabuk yang tampan jauh lebih menyenangkan daripada lelaki sadar yang buruk rupa. Setidaknya, begitulah prinsip yang kupegang teguh selama menjalani profesi yang sudah kugeluti sejak payudaraku mulai mencuat.

“Siapa namamu, Cantik?” Masih kuingat jelas perjumpaan pertama kami malam itu. Lelaki itu masih cukup sadar, dia bisa menyalakan rokoknya dengan sekali percobaan.

“Terserah maumu, Tampan,” ujarku nakal. Aku selalu punya banyak sekali nama. Toh esok pagi, aku —dan namaku— akan segera terlupakan begitu saja. Apa pun nama yang dia inginkan, aku akan menjadi si-nama-apa-pun-itu dengan suka cita.

“Aku suka bibirmu yang merah itu, Susi.”

Susi! Baiklah, namaku Susi dan dia menyukai bibir merahku.

Oh ya?” tanyaku basa basi, lantas menjilati bibirku sendiri sampai lelaki itu mendeguk ludah susah payah. “Lantas? Siapa namamu?”

“Bing. Panggil saja, Bing, Sayang.”

Bing! Nama yang tak biasa untuk seorang lelaki yang tak biasa.

Maka begitulah, secara tidak resmi aku menjadi ‘kekasih’ Bing. Entah bagaimana, meskipun saat Bing datang dalam keadaan yang sangat mabuk, dia selalu bisa menemukanku. Seolah di tubuhku tertanam sebatang magnet yang akan membuat Bing segera merapat padaku dalam radius tertentu.

Aku mencintai Bing tidak seperti pelacur menyukai pelanggannya. Absurd mungkin. Sejak kapan perempuan sepertiku bisa merasakan jatuh cinta? Seharusnya hal setolol itu tidak terjadi. Tapi aku membiarkan rasa cintaku pada Bing terus tumbuh. Aku izinkan diriku merindui sosoknya saat dia lama tak datang. Aku kabulkan hatiku mencemburui seorang Maria yang satu dua kali muncul dalam racauan Bing saat dia begitu mabuk.

Bing tidak pernah benar-benar mencintaiku tentu saja. Baginya aku hanyalah pelacur berbibir merah yang bisa dia tiduri sepanjang malam dengan harga yang cukup murah. Meskipun kami tak selalu bercinta, tapi Bing pasti akan melumat bibir merahku berkali-kali, lantas meracau lama setelahnya.

Selain Maria —aku bisa segera tahu nama seindah itu pasti adalah milik perempuan yang menjadi istri Bing— nama lain yang lebih sering muncul adalah: Andromeda. Buatku nama itu begitu indah. Nyaris agung. Mengucapkannya saja membuatku sedikit merinding.

Begini, jarang sekali ada pelacur yang cerdas (yah… setidaknya menurut pikiran sederhanaku, aku tidak akan menjadi pelacur jika tidak terlanjur bodoh), tapi aku cukup pintar untuk tahu bahwa Andromeda adalah nama untuk sebuah galaksi. Seperti Bimasakti. Mungkin itulah yang membuatku mengagumi nama itu diam-diam, memujanya dengan sangat, lantas berharap suatu saat Bing bisa mengajakku menemui seseorang bernama indah itu.

Bing terlahir sebagai pemabuk. Itu —sekali lagi— bukanlah sebuah kebetulan. Lelaki itu tidak harus memiliki masalah untuk menenggak berbotol-botol alkohol. Sedih-marah-kecewa tidak pernah menjadi pemicu dirinya untuk memulai prosesi itu. Bing tidak perlu alasan apa pun untuk mabuk. Dia hanya menyukainya. Itu saja.

Maka aku pun tak pernah bertanya kenapa Bing terus-terusan mabuk. Atau apakah dia pernah berencana pensiun menjadi pemabuk dan mengubah dirinya menjadi lelaki normal yang baik-baik saja. Atau kapan dia akan mengajakku bertemu Sang Andromeda yang namanya serupa dewa dalam semesta pelacuranku yang terlanjur hina.

Dan aku sungguh beruntung pertanyaan terakhir itu bisa kutemukan jawabnya. Malam itu. Malam saat Bing mengajakku pulang.

“Pulang?”

“Iya, Susi. Kita pulang.”

“Ke rumahmu?”

“Tentu saja! Ke mana lagi?”

“Ta-tapi …”

“Aku bosan bercinta di kamar pengap dengan kasur keras seperti itu.”

“Oh? Maafkan aku. Tapi kita bisa ke hotel.”

“Kita sudah pernah melakukannya. Dan sama saja, sebagus apa pun, hotel tidak sama dengan rumah, Susi.”

“Ya, aku tahu.”

“Lantas?”

“Lantas apa?”

“Kamu mau pulang bersamaku kan?”

“Aku ….”

“Aku punya tempat tidur luas yang empuk di rumahku.”

“Tapi, Bing. Bagaimana dengan…”

“Maria?” Bing tertawa. Terus tertawa dan tertawa dan tertawa. Yahh … begitulah memang orang mabuk. Sebelas dua belas dengan orang gila. Dan singkat cerita, entah bagaimana, Bing berhasil membawaku pulang.

Tapi aku pun memang tidak berniat menolak. Aku khawatir dan panik dan takut tentu saja. Meskipun aku mencintai Bing, aku tetaplah seorang pelacur, yang tidak layak bersanding dengannya. Apalagi jika harus mengalahkan seorang Maria, seorang perempuan –yang dari namanya saja- pastilah cantik dan memesona. Tidak, aku tidak ingin mengambil singgasana milik Maria.

Andromedalah alasanku bersedia pulang bersama Bing. Entah iblis (atau malaikat?) mana yang membujukku, tapi aku terlampau penasaran bertemu sosok itu. Aku sungguh ingin tahu bagaimana rupa seorang Andromeda. Seperti terhipnotis, aku mengiyakan semua pinta Bing malam itu, seraya berharap dalam hati Andromeda segera muncul.

Rupanya pelacur sepertiku juga diperkenankan berharap, karena akhirnya dia benar-benar muncul! Aku tidak pernah bisa melupakan raut wajahnya yang masih mengantuk itu begitu terkejut menyaksikan drama yang tengah terjadi. Aku tidak terlalu peduli apa yang terjadi pada Bing dan Maria dan segala sesuatunya saat itu. Mataku diam-diam hanya tertuju pada anak muda bernama Andromeda yang sudah lama kupuja.

Mata tembaganya adalah mata milik Bing. Kelak, rahangnya yang tegas, alisnya yang lebat, bahkan postur tubuh yang pasti akan menjadi tegap itu pun serupa Bing. Aku bisa melihat Bing belia di diri Andromeda.

Yang membuat Andromeda sedikit berbeda adalah sebentuk hidung bangir dan bibir tipis dan warna kulit yang tidak selegam Bing. Hal-hal yang hanya bisa dia peroleh dari perempuan surga seperti Maria. Ah, dia bahkan melampaui imajinasiku tentang seorang Andromeda.

Aku jatuh cinta padanya. Bukan, bukan cinta yang seperti itu. Bukan seperti cintaku pada Bing. Pada sosok Andromeda, pada bening matanya yang tak berdosa, aku melihat mantan calon anak-anakku yang keburu mati saat mereka belum pernah benar-benar hidup.

Mantan calon anak. Alangkah absurdnya istilah itu!

Tapi begitulah. Tidak bisa kugambarkan bagaimana perihnya hatiku saat melihat sepasang mata tembaga pemuda kecil itu begitu terluka saat melihat Bing yang dengan sengaja mendekapku di depan ibunya. Bajuku yang memang tidak seberapa mampu menutupi tubuh membuatku semakin telanjang di hadapannya. Keberadaanku di rumah itu, di hadapannya, adalah sebuah kesalahan. Aku serupa sepercik api neraka yang tersesat di aliran sungai surgawi yang sejuk.

Andromeda tidak menangis seperti anak kecil lainnya, anak –yang kukira—baru kelas 1 SD itu hanya berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Mata bulat bening tembaganya hanya menatapku beberapa detik tanpa berkedip. Beralih menatap ibunya yang tengah menangis, mata itu mulai mengabut. Dan bisa kulihat jelas mata itu penuh amarah saat tertuju pada kekasihku Bing.

Aku mengabaikan teriakan Bing yang menyuruhku berhenti. Aku tidak bisa lebih lama lagi menyaksikan Andromeda menatap aku-Bing-Maria dalam mata malaikatnya itu. Maka aku terus berlari. Aku terus berlari dan berlari dan berlari. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu malu.

*

Aku tidak pernah percaya akan sebuah kebetulan.

Bing membawaku pada Andromeda. Andromeda mengantarku pada Tuhan. Ha ha! Mungkin detik ini kau tertawa, menertawakan si mantan pelacur yang –katakanlah- kini sudah bertobat hanya karena seorang bocah. Tapi aku tidak peduli, karena sejak malam itu, Andromeda seolah menyodorkan sekarung dosa yang selama ini rupanya telah begitu rajin aku kumpulkan, sekaligus menyuruhku untuk membuangnya. Membakar habis si karung dosa hingga mengabu mengasap, lantas menjadi seorang perempuan lain yang bukan aku.

Aku tidak pernah bertemu Bing lagi sejak malam itu. Aku nyaris melupakannya, meskipun itu tidak mungkin, karena aku selalu mengingat Andromeda. Tapi lihatlah aku sekarang. Aku bukan lagi Susi si bibir merah berbaju ketat dengan stoking jaring yang sobek itu lagi. Lihatlah perempuan ini sekarang, lihatlah perempuan berpakaian sopan yang bukan seorang pelacur lagi ini. Lihatlah!

Sudah beberapa hari ini aku menatap rumah Bing dari kejauhan. Beberapa kali aku melihat Maria, juga seorang lelaki tua yang mungkin adalah ayahnya. Tapi Bing dan Andromeda seolah hilang tertelan anaconda. Di mana mereka?

Tapi aku tidak akan menyerah. Pengejaran ini harus berhasil. Aku akan memohon mengiba, bersujud kalau perlu, untuk diizinkan memeluk Andromeda. Sekali saja. Sedetik saja.

Maka pagi ini, kembali aku mengintai. Bersembunyi di balik pohon trembesi di seberang rumah yang sama, persis di depan rumah Andromeda. Dan rupanya hari ini adalah hari keberuntunganku, karena pagar dibuka oleh bocah kecil berseragam putih merah yang terlihat begitu ceria. Anak itu sepertinya lebih tinggi beberapa senti. Tapi sosoknya masih sama. Sorot matanya tetap serupa. Pesonanya tiada berbeda.

Gegas, aku mencoba mendekatinya, sebelum dia merayap naik ke mobil, dan melesat entah ke sekolah yang entah di mana. Mataku tak lepas darinya, seluruh kosentrasiku hanya tertuju padanya, hingga aku tak menyadari, sebuah mobil melintas cepat dan dalam sekejap membuatku tak lagi bisa bergerak.