Hai, Maks. Apa sih maksudnya, sikap asertif?

Misalnya, apakah Emak pernah mengalami kejadian seperti ini?

“Nduk, nanti sore ada acara yasinan di sini. Nanti kamu yang bikin jajannya ya, Ibuk nanti nyiapin nasi dan lauk pauknya,” kata ibu mertua.

Si mantu pun menjawab, “Nggih, Buk.”

Padahal, sebenarnya, di dalam hati si mantu berkata “TIDAK”. Sebab ia belum pernah membuat jajan dan kue. Namun karena si mantu merasa tak enak, sungkan, atau mungkin takut kehilangan gelar sebagai mantu idaman ibu mertua, atau mungkin takut ibu mertua marah, jadi ia pun lebih memilih untuk berkata “Iya”.

Gimana? Emak pernah mengalami kejadian seperti itu kan? Pernah ya? Kapan? Jangan-jangan waktu PDKT sama keluarga suami atau awal nikah? Iyakah? Sip. Tos dulu kita. Sama. Hahayy.

 

Terjebak perasaan sendiri

Sungguh. Terjebak dalam perasaan seperti itu rasanya nggak enak banget. Nggak hanya bikin hati cenat-cenut tapi badan juga terasa pegel hay alias pegel di mana-mana. Iya nggak?

Jadi nih, bagi Emak yang masih terjebak dalam rasa seperti itu, baik di keluarga sendiri, keluarga suami, di lingkungan kerja, dan lain sebagainya, segeralah move on yak. Karena sekarang sudah bukan zamannya lagi untuk takut atau sungkan atau tak enak hati mengutarakan isi hati. Terutama untuk menolak permintaan orang lain kepada kita.

Sekarang tuh, kita berada dalam masa BEBAS mengutarakan isi hati kepada siapa pun, baik kepada yang lebih tua, misal orang tua atau mertua atau kakak atau atasan sekalipun.

Jangan takut atau jangan khawatir soal penilaian mereka (orang tua, mertua, atasan) terhadap sikap kita yang sudah menolak permintaan mereka. Jangan takut dibilang bakal nggak sopan sama orang tua atau bahkan takut dipecat dari gelar mantu idaman *ahay* gara-gara kita mengungkapkan isi hati.

Itu nggak bakal terjadi. Karena kita mengungkapkan  isi hati kita dengan cara baik-baik alias tetap menjaga dan menghargai perasaan orang lain atau lebih dikenal dengan nama sikap ASERTIF.

 

Apa sih sikap asertif itu ?

Kata KBBI, sikap asertif itu suatu kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan dan dipikirkan kepada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai perasaan pihak lain.

Kalau kita memiliki dan memakai kemampuan untuk punya asertif ini, dalam kehidupan sehari-hari, kita nggak akan lagi merasakan hati nut-nutan atau badan lina linu di sana dan di situ lagi. Apalagi kalau keluarga kita, atasan kita, adalah tipe orang yang demokratis bin pengertian bin bisa memaklumi bin enak banget bin cihuy abis.

Pasti mereka bakal menghargai apa yang kita utarakan deh. Beneran. Coba aja deh dan rasakan sensasinya. 🙂

**

ditulis oleh Inda Chakim – www.indachakim.com