Naik kapal pesiar?? Ide itu tidak pernah terpikirkan oleh Simin sebelumnya. Dia hanya seorang supir, keajaiban hanya menjadi satu-satunya alasan yang memungkinkan lelaki seperti dirinya bisa berlayar dengan kapal pesiar semacam itu.

Tapi entah kenapa dia menginginkannya, boleh-boleh saja dia bermimpi, bukan?

Kembali Simin mengamati diam-diam sebuah artikel yang tengah dibaca wanita di sampingnya di halte itu, dan tetap saja yang terbaca dengan jelas olehnya hanya kalimat “Pihak Pacific Sun menawarkan diskon sebesar 25 persen bagi penumpang kapal yang hendak berlayar dengan mereka” karena kalimat itu tercetak lebih besar dibandingkan huruf-huruf yang lain. Benar dugaan Simin sebelumnya, dia tidak salah baca. Diskon!!! 25 persen!!! Meskipun kemudian Simin berpikir kembali, biayanya berapa sebelum diskon dua puluh lima persen itu? Jangan-jangan tetap saja mahal buat dia?

Maryam masih lama sepertinya, pagi ini Simin mengantarkan dia ke pasar, dan daripada ikut keliling-keliling di pasar mendengarkan istrinya menawar sayuran atau beras atau apalah itu, Simin memilih menunggu Maryam di halte sambil merokok. Dan tiba-tiba saja keputusan itu disesalinya. Seandainya dia tetap menemani Maryam belanja, dia tidak akan ikut membaca koran si wanita itu, dan juga tidak memiliki keinginan gila seperti ini. Mengajak Maryam berlayar dengan kapal pesiar? Tidak ada lagi yang lebih gila dari itu.

Rokok pertamanya sudah habis. Si wanita pemilik koran sepertinya juga sedang menunggu seseorang seperti Simin. Melihat jam tangannya kesal, mengecek ponselnya, dan kembali membolak-balik koran membaca kembali. Dari sudut matanya Simin bisa tahu wanita itu merengut cemberut saat membaca. Hanya ada mereka berdua di halte itu, tapi Simin tidak berniat menyapa apalagi berbincang-bincang dengannya, dia hanya ingin berdiskusi dengan dirinya sendiri, bagaimana caranya dia bisa mewujudkan impian gilanya itu.

Menyalakan rokok kedua, Simin menghitung dalam hati tabungan-tabungan yang dimilikinya. Dia sudah menjadi supir pribadi Yamada san selama 10 tahun, gajinya lumayan untuk seorang supir. Apalagi Maryam pandai mengatur keuangan.

Mereka sudah memiliki rumah sendiri walaupun kecil, masih harus dicicil hingga beberapa tahun lagi memang, tapi tetap saja itu akan menjadi rumah mereka suatu hari nanti, kan? Simin juga punya sebuah motor berkualitas lumayan yang dipakainya setiap hari. Intinya kehidupan mereka cukup lumayan sehingga mereka pun memiliki tabungan yang lumayan. Mungkin itu karena mereka belum memiliki anak.

Anak? Ahhh… betapa Simin merindukan tangisan anak kecil di rumah mungil mereka. Tentu saja, selalu ada anak-anak di rumah mereka. Maryam mengajari anak-anak itu mengaji. Anak-anak yang sekolah siang akan datang pagi-pagi, dan mereka yang sekolah pagi baru berkumpul sore-sore menjelang maghrib. Tapi mereka bukanlah anak-anaknya sendiri. Hei, mungkin saja setelah berbulan madu di kapal pesiar Maryam akhirnya akan hamil, iya kan? Gagasan itu membuatnya bersemangat.

Si wanita di sampingnya semakin gelisah, melihat jam tangannya setiap lima menit, mengecek ponselnya sesaat setelahnya. Maryam belum selesai belanja. Dan rokok kedua Simin habis sudah. Menyulut rokok ketiga perlahan, Simin mulai berhitung.

Tabungan mereka cukup besar, Maryam ingin mereka bisa beribadah haji suatu hari nanti, dan dia rajin sekali menyisihkan uang belanja yang diberikan Simin untuk itu. Simin tahu Maryam mungkin tidak setuju jika mereka harus menggunakan tabungan tersebut untuk berlibur. Tapi Simin bisa membujuknya nanti, toh walaupun mereka bukan orang kaya, mereka tetap perlu berlibur, bukan?

Dan hei, bukankah hari ini katanya Hari Kasih Sayang itu? Entah kapan Maryam pernah sedikit merajuk, bahwa selama mereka menikah, belum sekali pun Simin menghadiahinya sekotak coklat seperti di film-film yang sering mereka tonton. Saat itu Simin berkelit, toh jika Maryam menginginkan coklat, dia bisa membelinya sendiri, yang tentu saja hanya dibalas Maryam dengan pandangan dasar-lelaki-tidak-mengerti-perasaan-perempuan miliknya itu. Simin yakin, kali ini Maryam akan jauh lebih senang menerima hadiah berpesiar daripada sekotak coklat yang akan segera habis dimakan, bukan?

Kalau tabungan itu masih belum cukup untuk biaya naik kapal pesiar itu, Simin bisa menjual perhiasan emas warisan ibunya dulu. Mengingat warisan itu, Simin jadi teringat mendiang ibunya. Dulu, Ibu Simin hanyalah tukang pijat panggilan yang sangat pendiam, tapi Simin tahu ibunya pekerja keras yang sangat menyayanginya.

Simin tidak tahu bapaknya, yang hanya jadi penjaga kuburan itu, punya banyak uang hingga bisa membelikan ibunya perhiasan emas. Seuntai kalung tanpa liontin, dan sekeping gelang. Tapi mungkin saja perhiasan-perhiasan itu adalah warisan ibu Simin dari ibunya. Simin tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu, karena ibunya sudah meninggal bertahun lalu. Dan rasanya tidak perlu bertanya pada Bapaknya riwayat si perhiasan emas itu, toh yang penting perhiasan itu kini miliknya, dan bisa dia jual untuk impian gila yang sedang dipikirkannya ini. Beres perkara.

Tapi, bagaimana jika hasil penjualan perhiasan emas yang tidak seberapa banyak itu masih belum cukup juga? Simin menghisap rokoknya dalam-dalam sambal berpikir. Apakah mungkin jika dia meminjam sejumlah uang pada bos Jepangnya itu? Simin sudah menjadi supir yang baik bagi Yamada san, setia, tepat waktu, cakap dalam menyetir, dan rasanya belum sekali pun bermasalah dengannya. Simin memang diberikan bonus setiap akhir tahun, tapi itu dari kantor tempatnya tercatat sebagai karyawan meskipun dia dianggap supir pribadi Yamada san. Simin tidak pernah menerima bonus dari uang pribadi Yamada san sendiri.

Simin terpaksa mengingat-mengingat dengan serius. Selama ini Yamada san memang tidak pernah memberinya uang tambahan, uang tips atau apalah. Biasanya hadiah yang diterima Simin hanyalah berupa barang. Pakaian, sepatu, berkotak-kotak rokok, makanan, parcel yang kadang diterimanya dari klien, bahkan kerudung untuk Maryam. Setiap Yamada san dinas ke luar kota, Simin selalu dibawakan oleh-oleh, tidak pernah tidak. Hanya itu! Ya, 10 tahun berlalu dan Simin kini benar-benar ingat tak pernah sekalipun Yamada san memberinya bonus berupa uang. Mungkin memang benar, orang Jepang itu pelitnya bukan alang kepalang.

Fakta ini membuat Simin ragu. Peluang meminjam uang pada Yamada san sepertinya sangat kecil melihat kebiasaan si bos yang demikian. Simin menghela napasnya dalam-dalam, kecewa.

Si wanita di sampingnya kini berdiri, terlihat sangat marah dalam diamnya. Simin menyulut rokok keempat dengan tenang. Melirik koran yang dilemparkan si wanita tanpa sadar. Berdoa dalam hati si wanita berlalu, dan meninggalkan koran itu di sana.

“Jadi? Jadi kamu nggak jadi jemput aku?” suara wanita itu melengking tinggi saat mengangkat ponselnya dalam deringan pertama. Simin menatapnya terkejut, tak menyangka suaranya bisa segalak itu. Beberapa detik kemudian wanita itu menutup telepon dengan murka, menghentikan taksi pertama yang lewat, masuk tergesa dan membanting pintu hingga tertutup.

Simin memandang taksi itu melaju hingga hilang dari pandangan. Dan berjanji dalam hati untuk tidak membuat Maryam menunggu seperti itu. Seorang wanita yang marah sangat menyeramkan! Dia harus mencatat itu baik-baik.

Aha, koran itu tertinggal di sana seperti harapannya tadi. Simin memungutnya dengan antusias, mencari-cari halaman berita tentang kapal pesiar itu dengan tergesa.

“Oh … kapal ini berasal dari Australia,” gumam Simin pada dirinya sendiri. Mencoba mengingat-ingat bentuk Australia di peta saat sekolah di kampung dulu. Tak lama dia melanjutkan membaca, Maryam sudah ada di depannya dengan sekeranjang sayuran dan belanjaan lainnya.

“Ayo mas, ambil motormu, kita pulang sekarang, udah panas nih,” ajak Maryam, duduk di sampingnya melepas lelah, meminta koran yang tengah dibaca Simin untuk mengipasi wajahnya yang memerah panas.

“Dek, di koran ada berita liburan naik kapal pesiar, Dek.” Simin mencoba merebut kembali koran yang sudah berganti menjadi kipas di tangan Maryam, “ke Australia… kita ke sana yuk, Dek,” Simin tetap semangat bercerita meski Maryam tidak benar-benar mendengarkan ucapan suaminya itu.

“Apa sih, Mas?” tanya Maryam akhirnya, dan mengembalikan koran pada Simin, yang segera mencari-cari berita yang dibacanya tadi.

“Diskon 25 persen lho, Dek, tabungan kita cukup sepertinya kalau ada diskon 25 persen,” seru Simin lagi gembira.

Maryam mengernyit, menatap Simin bingung, dan kemudian membaca sekilas berita di koran itu.

“Mas, ini koran lama mas. Lihat tuh, Februari 2013 begitu kan? Mungkin sekarang kapal pesiarnya sudah dimakan hiu,” katanya lantas tertawa, sedikit mengejek.

Simin geming, dia tahu tidak mungkin sebuah kapal pesiar dimakan hiu, tapi saat dia melihat koran itu memang betul diterbitkan Februari 2013, hatinya betul-betul kecewa.

“Udah ah kita pulang yuk, udah panas banget ini.” Maryam berdiri dan menarik tangan Simin yang masih tak percaya pada apa yang dibacanya. Impian gilanya beberapa saat yang lalu itu pun menguap begitu saja secepat saat dia datang. Lantas, apakah Simin harus membelikan Maryam sekotak coklat? Ugh!