Hai, Maks.

Barangkali Emaks sudah tahu ya, kekuatan sebuah outline saat kita mau menulis?

Yes, outline akan dapat membantu kita agar tulisan kita tetap terstruktur, rapi, fokus, nggak ke mana-mana, dan juga bisa menjaganya agar tetap mengalir.

Saya pernah menulis dan berusaha menjelaskan, mengapa outline ini jangan sampai terlewatkan setiap kali kita menulis. Di artikel tersebut juga ada cara bagaimana membuat outline yang baik.

Tapi, ya ampun. Kadang rasanya juga malas amat ya, bikin outline. Kebanyakan mikir outline, akhirnya malah nggak kesampaian nulis ya, Maks? Soalnya udah belibet di outline!

Yahhh … jangan gitu, Maks. Jangan pundung gara-gara outline. Nggak apa-apa juga kok kalau mau nulis tanpa outline mah. Nggak akan dihukum di depan kelas kok #eh

Tapi, kalau tanpa outline, gimana caranya supaya kita nulisnya bisa tetap rapi, fokus, runtut dan mengalir ya?

Well, bisa kok, Maks. Bahkan saya menulis artikel ini juga tanpa outline. Tapi langsung saya tulis aja. Berikut cara menulis blog post tanpa outline, tapi tetap runtut, mengalir dan fokus.

 

Langkah-langkah menulis artikel tanpa outline tapi tetap rapi, fokus dan mengalir

1.Tentukan judul sementara

Ini erat kaitannya dengan topik yang ingin kita tulis ya. Emaks pastinya harus sudah tahu dulu topik apa yang ingin ditulis. Maka jadikanlah ini sebagai judul sementara.

Kayak artikel ini, saya pakai judul sementara Menulis Blog Post Tanpa Outline.

Nah, nanti setelah jadi akan jadi apa judulnya, coba kita lihat nanti ya. Hehehe. Iya kan, soalnya saya nulis ini tanpa outline, ingat? 😀

 

2. Tentukan poin-poin besar yang ingin disampaikan

Selanjutnya, setelah menuliskan judul sementara, saya pun nge-break down topik tersebut ke dalam poin-poin besar.

Untungnya, artikel ini berbentuk how-to. Jadi per poinnya cukup jelas yes?

Jadi, saya pun merumuskan poin-poinnya lebih dulu, yaitu:

  • judul sementara
  • tentukan per poin
  • kembangkan masing-masing
  • closing
  • beri opening
  • cari/bikin gambar pendukung
  • self editing
  • basic SEO
  • tulis ulang judul

Nah, jika Emaks akan menulis sebuah artikel yang berbentuk storytelling, akan bagus juga jika Emaks pecah menjadi beberapa sub bahasan. Mengapa? Untuk menjaga kronologis cerita, agar tetap runtut, dan menjaga supaya pembaca nggak capek bacanya. Soalnya storytelling memang lebih rentan membosankan ketimbang artikel-artikel tutorial dan how-to, Maks. Kalau “kurang ahli” dalam meramu cerita, bisa jadi akan ditinggalkan di tengah-tengah. Apalagi kalau bahasannya melebar ke mana-mana. Bhay.

Saya pernah bahas soal menulis blogpost storytelling juga kok di web KEB ini. Sila diintip kalau Emaks belum baca yah.

 

3. Kembangkan masing-masing

Kalau per poinnya sudah ada, langsung kembangkan masing-masing. Tambahkan keterangan yang menjelaskan poin-poin tersebut lebih lanjut.

Saya biasanya sih memang nggak terlalu panjang per poinnya, atau per sub bahasannya. 6 – 8 kalimat itu sudah cukup, kalau poinnya ada 7. Kadang juga kurang, kalau poinnya sendiri sudah banyak. Dengan patokan segitu, ntar kalau sudah jadi juga biasanya sudah 700 kata minimal.

Kalau poinnya kurang dari 7, bisa ditambah kalimat lagi per poinnya sekitar 2 – 3 kalimat dengan 6 – 8 kata.

Coba aja deh, Maks, pasti nanti sudah bisa lebih dari 700 kata 😉 Nih, saya nulis sampai di sini ya poin ke-3 sudah ada 400 kata.

 

4. Akhiri dengan closing: kesimpulan dan call to action

Kalau per poin sudah terisi semua keterangannya, maka lanjutkan ke closing atau penutup. Sertakan kesimpulan pada akhir tulisan, ini penting banget. Agar pembaca lebih yakin lagi akan insight yang mereka dapatkan setelah membaca tulisan di atasnya.

Misalnya, Emaks lagi nulis review smartphone. Saat pembaca membaca review Emaks, mereka juga menarik kesimpulan pada setiap poin yang mereka baca. Oh, ini smartphonenya punya fitur ini yang nggak ada di smartphone lain, berarti ini plusnya nih.

Maka, setelah menuliskan review per fitur hapenya, di akhir tuliskan kesimpulan, yang menegaskan kembali kesimpulan sementara yang sudah ditulis di per poinnya.

Akan lebih lengkap jika Emaks juga menambahkan call to action, mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu. Misalnya ya, ajak untuk nyobain smartphone baru tersebut dan rasakan keunggulannya dibanding smartphone lain. Ya, pastinya dengan bahasa yang jauh dari kesan hard selling..

 

5. Tambahkan opening yang mengikat

Setelah closing, scroll kembali ke atas. Sekarang Emaks sudah tahu nih, cakupan bahasan apa saja yang sudah Emaks tulis. Sudah tahu apa yang ingin Emaks sampaikan kan? Sudah jelas pula apa misi Emaks saat menuliskan artikel tersebut. Apalagi kalau ada hal yang belum pernah dibahas di artikel sejenis lainnya.

Semua itu adalah keunggulan artikel Emaks. Keunggulan itu harus Emaks tulis di awal artikel. Mengapa? Karena semua keunggulan tersebut bisa membuat pembaca artikel Emaks betah sampai akhir.

Misalnya saya ambil saja dari artikel ini ya, Maks. Poin terbesarnya adalah bagaimana menulis artikel dengan baik tanpa outline.

Nah, menulis artikel dengan baik tanpa outline harus saya tulis di atas, di opening. Lengkapi dengan kenapa sih orang kadang malas menulis dengan outline? Itu bisa jadi mengungkapkan masalah utama yang hendak kita coba pecahkan.

Hook your readers pada 100 kata pertama, dengan menyebutkan keunggulan artikel Emaks dan mengapa mereka harus membaca sampai akhir.

 

6. Beri visual content pada masing-masing poin atau sub/minor heading

Selanjutnya, garnishing.

Beri title image, gambar/foto pada masing-masing poin atau sub bahasan, atau mau dibikin infografis? Ada video yang mendukung?

Karena saya nggak bisa insert media di sini, maka biar Makmin saja yang kasih ya 😆 *piss*

 

7. Self edit/proof reading

Next, jangan sampai lupa untuk self editing. Scroll dari atas lagi, baca sekali lagi.

Apakah ada informasi yang kurang? Atau malah kelebihan? Ada bahasan yang melebar ke kanan dan ke kiri? Atau ada kata-kata yang kurang pantas? Ada typo?

 

8. Check for on page SEO

Kalau sudah jadi artikel, cek On-Page SEO adalah hal selanjutnya yang harus dicermati. Apa saja yang perlu diperhatikan?

  • Meta description: menurut Hubspot, idealnya meta description ini terdiri atas 150 – 160 karakter. Update Google terbaru memang menyebutkan bahwa meta description nggak lagi menjadi faktor penentu keyword ranking, tapi meta description akan membantu pembaca untuk tahu, artikel kita berisi tentang apa saja yang kadang belum tercakup seluruhnya dalam judul artikel.
  • Kalau memungkinkan, tata hierarki artikelnya. Gunakan H2, H3, H4 dan seterusnya untuk per poin atau per sub bahasan.
  • Internal link, tambahkan jika perlu. Perhatikan keywords yang ingin ditautkan dengan artikel lain dalam blog Emaks ya.
  • Alt text, nama file gambar, pastikan terisi semua.

 

9. Ulik ulang judul

Nah, kalau semua sudah beres, Emaks baru deh balik ke judul lagi.

Untuk menentukan judul ini memang agak tricky ya. Perlu banyak latihan dan corat-coret. Kadang nulis artikelnya satu jam selesai, mikirin judul bisa seharian sendiri. Hahaha.

Emaks bisa membaca cara membuat judul artikel yang pernah saya bahas di blog, yang saya bikin setelah saya melakukan telaah judul beberapa artikel viral.

 

Nah, gimana? Cukup mudah kan ya, menulis artikel tanpa outline itu, Maks? :mrgreen:

Memang ada banyak metode untuk bisa menulis dengan baik, sehingga menghasilkan artikel yang bagus, informatif dan insightful. Saya juga pernah menyebutkan, bahwa outline merupakan salah satu tool yang bisa membantu kita untuk bisa merumuskan pikiran agar tulisan kita pun terstruktur, rapi, runtut dan fokus.

Tapi kalau outline hanya bikin kita mandeg menulis, ya jangan dipakai. Harus mencari cara lain, agar kita bisa tetap menulis.

Kan yang penting adalah kegiatan menulisnya kan? Kalau tools-nya malah bikin kita nggak produktif, berarti kurang cocok. Kita harus mencari cara yang lain.

Ingat, practices make progress. So, dengan banyak-banyak menulis, kita pun makin terlatih, Maks.