Tip Menulis Artikel Storytelling yang Menarik

By Carolina Ratri on August 09, 2016

Hai, Maks! Apa kabar? Kalau jalan-jalan ke blog Emak semua, saya selalu mendapati banyak Emak yang menulis artikel storytelling. Ada yang cerita jalan-jalannya, ada yang cerita seputar anak, ada yang cerita tentang film yang ditonton … banyak deh! Ceritanya beragam, ada yang lucu, sedih dan sebagainya.

Saya amati kembali, mostly bercerita memang dengan gaya masing-masing, ada yang ngocol abis, ada yang insightful, ada yang bisa bikin campur aduk juga, antara miris, bikin senyum dan garuk-garuk kepala. Hahaha. Seneng deh, bacanya.

Meskipun kalau di dunia konten seringnya yang disebut-sebut sebagai viral potential article adalah yang berbentuk listicle, how to atau picture list, tapi artikel yang berbentuk storytelling seperti ini nggak akan pernah ada matinya lho, Mak. Mungkin memang nggak selalu berpotensial viral atau booming, tapi artikel tipe storytelling begini biasanya lebih long lasting dan evergreen. Apalagi kalau topiknya memang seru ya, yang bisa memberikan “pengalaman baru” bagi kita.

Nah, supaya storytelling article Emak semua lebih menarik untuk dibaca, dan juga tentunya menjadi lebih runut (karena saya menemukan banyak sekali cerita yang kebolak balik urutan kronologisnya sehingga agak kurang nyaman dibaca. *meskipun mungkin hanya buat saya saja*), saya pun kemudian mencoba merumuskan beberapa tip menulis artikel storytelling.

Yuk, Maks, dibaca. Kalau ada yang kurang, atau mungkin nggak tepat, silakan ditambahkan di kolom komen ya.

 

Kenali 4 Bagiannya Saat Menulis Artikel Storytelling

Saat akan menulis artikel storytelling, ada baiknya Emak kenali dulu beberapa bagian dalam tulisan itu nantinya, agar Emak nggak kebolak-balik dalam mengenali dan mendefinisikannya.

Kebetulan saya pernah menulis ulang kisah salah seorang sahabat saya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk lepas membebaskan diri. Tulisan awalnya sebenarnya sudah cukup bagus, tapi ada beberapa bagian yang melompat-lompat kronologisnya. Maka, saya akan sertakan cerita tersebut sebagai contoh kasus ya, supaya lebih jelas aja gitu 🙂

1. Perkenalan

Ceritakan mengenai kenapa Emak pengin menceritakan topik yang akan ditulis. Apakah ada pemicunya? Misalnya, Emak melihat postingan blog lain, atau Emak membaca artikel yang berkaitan di suatu tempat, atau mengalami suatu kejadian di satu hari? Pokoknya apa yang membuat Emak merasa harus menuliskannya di blog.

Perkenalan ini akan membantu pembaca untuk ikut mengenali penyebab awal dari cerita yang akan ditulis kemudian, Maks. Supaya nggak ujug-ujug aja gitu.

Kalau dalam cerita yang saya tulis ulang tersebut, saya mendeskripsikan pengenalan dengan kalimat seperti ini.

“Setiap kali saya mendengar berita mengenai kekerasan pada perempuan, memori saya, tanpa bisa saya kendalikan, selalu kembali pada malam itu. Malam terburuk dalam hidup saya.”

2. Konflik

Tanpa konflik, cerita Emak tak akan menjadi cerita yang seru.

Biasanya konflik berupa:

  1. Man against man (kita melawan kita, artinya masalah antara manusia)
  2. Man against society/institution (hal-hal umum yang berlaku di masyarakat membuat kita kesulitan)
  3. Man against nature (hal-hal alamiah yang membuat kita kesulitan)
  4. Man against machine (kesulitan yang ditimbulkan oleh alat)
  5. Man against self (melawan diri kita sendiri)

Konflik di sini lebih pada pengungkapan masalah yang sebenarnya. Konflik ini adalah “kesulitan” yang harus Emak hadapi dalam situasi tertentu yang ingin diceritakan. Jika misalnya, Emak sedang menulis review produk, berarti yang menjadi konflik mungkin adalah permasalahan yang Emak alami sebelum “menemukan” produk yang akan direview.

Kalau dalam contoh kasus artikel saya, ada konflik “man against man” misalnya seperti ini.

“Hingga tibalah malam itu. Saya pikir, barangkali malaikat maut masih bermurah hati pada saya. Saya hanya mendapat beberapa benjolan di kepala saja, tidak sampai cacat atau mati.”

Tapi ada kalanya konflik juga bisa diletakkan pada awal cerita, demi bikin pembaca kita lebih penasaran. Semacam prolog gitu deh. Misalnya, kalau dalam artikel mengenai kekerasan dalam rumah tangga ini, saya letakkan konflik “man against self” di awal cerita.

“Ada saatnya, perempuan rela ditampar bolak-balik, dipukuli hingga babak belur, dan diancam akan dibunuh, demi sebuah status; sebagai seorang istri, pacar, anak, atau apa pun. Apa yang menyebabkan para perempuan ini rela bertahan menjadi bodoh begitu?”

Conflict, in stories, is the engine that keeps them going forward. Konflik bikin ceritanya jadi seru.

Jadi, meski jika “hanya” bercerita mengenai perjalanan jalan-jalan di car free day, pastikan ada “kesulitan” di jalan. Misalnya, sudah kehausan tapi nggak juga nemu penjual minuman. Atau sudah mau berangkat, eh si kecil malah sakit perut. Dan sebagainya.

3. Solusi

Datang konflik, tentunya kemudian diikuti dengan solusi.

Mengapa dalam artikel harus ada solusi? Agar pembaca cerita bisa mengambil manfaatnya, bisa mengambil hikmahnya. Apa jadinya jika artikel storytelling tanpa solusi? Jadinya ya, sekadar curhatan.

Burukkah jika hanya sekadar curhatan? Nggak juga, saya nggak bilang itu buruk. Barangkali Emak memang sedang mencari jawaban dan solusi, dan mungkin di antara pembaca artikel justru bisa membantu. Nggak salah kok 🙂

Jika memang demikian, ya leave this session saja. Nggak ada salahnya.

Namun, jika memang Emak sudah menemukan solusi untuk konflik-konflik yang ada, maka akan lebih baik jika dituliskan juga. Supaya pembaca blog mendapatkan insight, pengetahuan, dan pengalaman baru juga bersama Emak.

Biar nggak geje 😀

Dalam kasus artikel yang saya tulis ulang tersebut, solusinya adalah seperti ini.

“Akhirnya saya nekat lari dari rumah. Saat itu, dorongan yang membuat saya memutuskan pergi bisa dibilang hanyalah karena ketakutan yang memuncak. Juga untuk memberikan efek jera padanya. Bahwa saya sebenarnya bisa pergi, kapan pun saya mau dan kembali ke keluarga saya.”

4. Kesimpulan

Ada hikmah di balik setiap peristiwa. Setuju kan, Mak?

Apa hikmah yang Emak dapatkan dalam kejadian yang baru saja diceritakan? Pelajaran apa yang dapat ditarik sehingga mampu memperkaya hidup kita selanjutnya?

Dalam artikel saya, kesimpulannya adalah seperti ini.

“Jangan takut untuk menjadi mandiri! Hal ini berlaku untuk apa pun status Anda semua. Menjadi istri? Jadilah istri yang mandiri. Sebagai anak perempuan? Jadilah anak perempuan yang mandiri.

Menjadi perempuan mandiri tidak melulu tentang menjadi perempuan superior, perempuan yang mempunyai segalanya di atas lelakinya. Banyak hal yang bisa membuat perempuan menjadi mandiri, dan salah satunya adalah dengan menjadi produktif.”

 

Tip Menulis Artikel Storytelling

7 Tip Menulis Artikel Blog yang Readable Alias Enak Dibaca

Setelah mengenali bagian-bagian di atas, baru Emak kembangkan sedemikian rupa hingga menghasilkan artikel yang utuh. Jadi bagian perkenalan, konflik, solusi, dan kesimpulan tersebut memang merupakan outline cerita Emak supaya lebih urut secara kronologis, sehingga cerita lebih mengalir dan enak dibaca.

Beberapa hal lain yang harus diperhatikan saat menulis artikel storytelling adalah sebagai berikut:

1. Simplicity is the best

Berceritalah dengan simpel, Mak. Emak kan nggak akan bercerita mengenai dunia fantasi macam Hogwarts kan? Atau tentang The Middle Earth? Emak kan akan bercerita pengalaman sehari-hari?

Maka berceritalah secara sederhana, dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Meski pengalaman sehari-hari, pasti akan seru dibaca kalau Emak bercerita dengan simpel dan benar.

2. No clichés

Kalau mau menulis artikel storytelling yang bagus, maka perbanyak membaca, Mak, supaya Emak punya perbendaharaan kata yang lebih kaya, juga perhatikan idiom-idiom yang kekinian.

Semua itu adalah bumbu, yang akan membuat cerita Emaks lebih hidup dan menarik. Hindari ungkapan-ungkapan klise yang sudah so yesterday.

Be creative!

3. Pertahankan kronologis cerita

Jika Emak bercerita tidak dalam kronologis yang urut, pembaca akan lebih mudah lelah, Mak. Mereka serasa diajak melompat-lompat, belum lagi juga ada risiko #gagalpaham yang bisa saja membuat pesan yang Emaks sampaikan tidak terbaca dengan baik.

Sayang aja sama tenaga Emak untuk menulis artikel storytelling ini, kalau sampai pesannya nggak tersampaikan. Iya nggak sih? 🙂

*

Nah, gimana, Mak? Mudah kan ya, menulis artikel storytelling ini? Tapi, mungkin saking mudahnya, kadang banyak yang meremehkan beberapa hal yang bisa membuatnya semakin menarik dan lebih enak dibaca. Sayang banget aja gitu, kalau saya, Mak. Padahal pengalaman hidup orang itu bisa memperkaya diri kita sendiri lho.

Well, saya tunggu lagi cerita-cerita Emak lainnya ya!

 

 

Ditulis oleh
Carolina Ratri
www.carolinaratri.com
untuk web Kumpulan Emak Blogger

Comments (39)

August 9, 2016

I love storytelling , dan bingung kalau nulis listicle banget 🙂
Paling kagum sama penulis yg bisa mengkolaborasikan keduanya dengan manis, sepeti mbak Ratri ini.
Masih harus banyak belajar dan berlatih nih.
Semoga endingnya bisa tercapai. Bikin novel tebaaal yang enak dibaca berulang kali dan jadi teman sebelum going to bed. Amiin.
Sekarang berpetualang dulu di dunia blogging dan literasi.
Makasih ilmunya mbak Ratri.


August 14, 2016
Carolina Ratri

Semoga segera bisa mewujudkan mimpi bikin novel ya, Maaak 😀 Amin!


August 9, 2016

Thanks for sharing Mba Ratri, pencerahan banget. Wah aku masih termasuk katagori yang mana yaa


August 14, 2016
Carolina Ratri

Eh? Emang ada kategorisasi apa ya? Hahaha.


August 9, 2016

thanks tipsnya mbak carolin 🙂


August 11, 2016

makasih tipsnya mbak carra


August 11, 2016
Yuni

saya juga termasuk yang storytelling mba kalau mau nulis diblog,.,karena lebih nyata aja tulisannya,heee tapi masih beginner sih jadi masih acak kadut susunan ceritanya,.,masih harus banyak belajar dan baca artikel kayak punya mba ratri,.,


August 14, 2016
Carolina Ratri

Semangat ya! Banyak-banyak praktik nulis! :-*


August 11, 2016

Thank tipsnya mba Ratri


August 12, 2016

Trims mak, berguna banget buat saya yg suka story telling..masih brasa klo saya story telling di blog, ritmenya cepet, jadi bacanya ngos2an


August 14, 2016
Carolina Ratri

Haha. Iya. Latihan terus, Mbak. Sama katakan pada diri sendiri, tenang, tenang. Nggak usah buru-buru nulisnya.
Soalnya biasanya kebawa sih, kalau kitanya buru-buru, ritme tulisan jadi ikutan cepet. 🙂


August 12, 2016

wah.. bikin penasaran kelanjutan gitu ya… , bercerita..menarik..

kalo aku belum pernah mikirin kronologi..he2

makasih udah sharing mba..


August 14, 2016
Carolina Ratri

Kronologis cerita itu penting. Selain urutannya jadi nggak melompat-lompat, pembaca juga nggak gampang lelah baca. Bahkan bisa terlarut juga.


Keren mbak tipsnya.
Untuk blog, saya selalu sih sarankan untuk story telling – about me kalau bisa. Karena yang dicari dari blog itu sebenarnya kan pengalaman pribadinya. Kecuali ya kalau media online ya… beda dikitlah.


August 14, 2016
Carolina Ratri

So far, yang laku untuk job review kan juga storytelling. Yang melibatkan pembaca dalam cerita, yang bercerita secara personal. Interaksi antara penulis dan pembacanya itu penting banget.


August 13, 2016

Point terakhir (Kesimpulan), jarang sekali saya selipkan dalam tulisan. Sepertinya lain aktu perlu saya tambahkan dengan yang satu ini juga.


August 13, 2016

Keren mbk..sangat membantu


August 14, 2016

haha, kesindir aku.
aku suka lompat-lompat klo nulis, hiks… tapi model storytelling gini biasanya mikirnya agak lama (klo aku sih), dan ntar hasilnya panjang banget. karena takut kepanjangan gitu akhirnya nulisnya dipersingkat. yeah, katanya pembaca web itu gak betah lama-lama baca liat layar…. #sigh


August 15, 2016

Aku banget mbaaa storytelling… tapi ya biasanya itu, tellingnya suka kebablasen, ngoyoworo kemana2 hehehee… Okesip, makasiy sharingnya mak, kudu banyak yg diperbaiki nih.


September 9, 2016

Makasih bnyk mbak ilmunya…


September 9, 2016

Meski cowok dan masih pemula dalam dunia blogging, saya sering berkunjung ke tulisan emak-emak yang jadi blogger. Cara emak-emak bercerita selalu membuat saya takjub dan kadang belajar dari emak-emak dalam menulis gaya storytelling.

Emang emak-emak yang jadi blogger selalu luar biasa dah, menginspirasi buat saya.


September 10, 2016

Mba Cara ini yg saya butuhkan.Sangat menginspirasi. Makaih ya mba


September 30, 2016

Saya emas-emas bukan emak-emak, tetapi ketika saya cari artikel seputar storytelling, saya terjebak di sini. Ngomong-ngomong terima kasih mbak/bu Ratri, infonya menarik sangat 😀


January 15, 2017

storytelling, salah cara penyampaian yang saya sukai. Walaupun kadang saya suka menggabungkan antara storytelling di awal dan listicle di akhir, biar lebih berwarna.


February 23, 2017

Mak gimana nih cara gabung jadi anggota KEB?
Udah punya blog (masih beginner) tapi belum gabung KEB.


May 22, 2017

Wahh makasih banget tipsnya mak, bermanfaat banget untuk akuhh


May 22, 2017

Emakss Carol keren dech…
Aku punya banyak draft tulisan storytelling…amburadul ga sempat ediiit..apalagi pembukanya, hiiks masih keki gitu. Hihihiii..
Lebih gampang buat journal ilmiah rasanya daripada storytelling
Thank youuu infonya Makin Carol…saved dulu.


November 28, 2017

Senengnyaaà dpet ilmu lg. Yihaaa.
Aku lg bljr jg nih Mak, bikin blogpost storytelling yg anti gagal paham. Yakni dg rajin mbaca. Tp utk saat ini baru bisa baca2 blog tmn2. Blm bs bac2 bukuk.
Makasih udh berbagi ya Mak


July 31, 2018

Aku banget tuh story telling .. makasih Carra buat tulisan nya yang selalu cetar


November 11, 2018

terima kasih atas ilmunya, kebetulan lagi cari ilmu ttg story’ telling, pas bgt artikel ini .


January 15, 2019

Makasih banyak tipsnya mak Carra, bermanfaat banget nih buat saya yang masih terus belajar menulis dengan baik dan tetap punya ciri khas tersendiri.

So far sih saya nulis story telling mengenai pengalaman pribadi, saking seringnya nulis kayak gitu, sponsored post pun sama, ada kisahnya di depannya sehingga orang-orang gak nyangka kalau akhirnya mengandung iklan dan pada protes hahaha.


January 18, 2019

Bagus banget tipsnya. Makasih yaaa jadi belajar lagi nih semoga next aku bisa coba bikin storytelling..


January 20, 2019

Hehehe sy jd sadar, jangan2 tulisan saya masih suka lompat2 juga, xixixi… Eniwe baswe, makasih mak udah sharing, tulisan ini sudah menyadarkan, mengingatkan dan memberi jawaban.


December 29, 2019

Wah terima kasih sharingnya kak, seneng banget bisa nemuin artikel ini


February 15, 2020

Waaah.. the best nih mba Carolina Ratri soal storytelling.

Barusan saya baca tips di blog mba, eh.. pas selese baca di blog emak2 blogger baru sadar kalo ini juga tips dari mba Carolina.. bwahaha gokil 😀

Sama2 di page one! mantap


August 29, 2021

bermanfaat sekali mbaa, makasih tips nya aku jadi lebih aktif lagi untuk nulis


    Leave your comment :

  • Name:
  • Email:
  • URL:
  • Comment: