Hai, Maks! Apa kabar?
Kalau jalan-jalan ke blog emaks semua, saya selalu mendapati banyak emaks yang menulis blogpost secara storytelling. Ada yang cerita jalan-jalannya, ada yang cerita seputar anak, ada yang cerita tentang film yang ditonton … banyak deh! Ceritanya beragam, ada yang lucu, sedih dan sebagainya.
Saya amati kembali, mostly bercerita memang dengan gaya masing-masing, ada yang ngocol abis, ada yang insightful, ada yang bisa bikin campur aduk juga, antara miris, bikin senyum dan garuk-garuk kepala. Hahaha. Seneng deh, bacanya.
Meskipun kalau di dunia konten seringnya yang disebut-sebut sebagai viral potential article adalah yang berbentuk listicle, how to atau picture list, tapi artikel yang berbentuk storytelling seperti ini nggak akan pernah ada matinya lho, Mak. Mungkin memang nggak selalu berpotensial viral atau booming, tapi artikel tipe storytelling begini biasanya lebih long lasting dan evergreen. Apalagi kalau topiknya memang seru ya, yang bisa memberikan “pengalaman baru” bagi kita.
Nah, supaya storytelling article Emaks semua lebih menarik untuk dibaca, dan juga tentunya menjadi lebih runut (karena saya menemukan banyak sekali cerita yang kebolak balik urutan kronologisnya sehingga agak kurang nyaman dibaca. *meskipun mungkin hanya buat saya saja*), saya pun kemudian mencoba merumuskan beberapa tip menulis artikel atau blogpost storytelling.
Yuk, Maks, dibaca. Kalau ada yang kurang, atau mungkin nggak tepat, silakan ditambahkan di kolom komen ya.
*
Saat akan menulis sebuat artikel storytelling, ada baiknya Emaks kenali dulu beberapa bagian dalam tulisan itu nantinya, agar Emaks nggak kebolak-balik dalam mengenali dan mendefinisikannya. Kebetulan saya pernah menulis ulang kisah salah seorang sahabat saya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk lepas membebaskan diri. Tulisan awalnya sebenarnya sudah cukup bagus, tapi ada beberapa bagian yang melompat-lompat kronologisnya. Maka, saya akan sertakan cerita tersebut sebagai contoh kasus ya, supaya lebih jelas aja gitu 🙂
- Perkenalan
Ceritakan mengenai kenapa Emaks pengin menceritakan topik yang akan ditulis. Apakah ada pemicunya? Misalnya, Emaks melihat postingan blog lain, atau Emaks membaca artikel yang berkaitan di suatu tempat, atau Emaks mengalami suatu kejadian di satu hari? Pokoknya apa yang membuat Emaks merasa harus menuliskannya di blog.
Perkenalan ini akan membantu pembaca Emaks untuk ikut mengenali penyebab awal dari cerita yang akan ditulis kemudian, Maks. Supaya nggak ujug-ujug aja gitu.
Kalau dalam cerita yang saya tulis ulang tersebut, saya mendeskripsikan pengenalan dengan kalimat seperti ini.
“Setiap kali saya mendengar berita mengenai kekerasan pada perempuan, memori saya, tanpa bisa saya kendalikan, selalu kembali pada malam itu. Malam terburuk dalam hidup saya.”
2. Konflik
Tanpa konflik, cerita Emaks tak akan menjadi cerita yang seru.
Biasanya konflik berupa:
- Man against man (kita melawan kita, artinya masalah antara manusia)
- Man against society/institution (hal-hal umum yang berlaku di masyarakat membuat kita kesulitan)
- Man against nature (hal-hal alamiah yang membuat kita kesulitan)
- Man against machine (kesulitan yang ditimbulkan oleh alat)
- Man against self (melawan diri kita sendiri)
Konflik di sini lebih pada pengungkapan masalah yang sebenarnya. Konflik ini adalah “kesulitan” yang harus dihadap oleh Emaks dalam situasi tertentu yang ingin diceritakan. Jika misalnya, Emaks sedang menulis review produk, berarti yang menjadi konflik mungkin adalah permasalahan yang dialami Emaks sebelum “menemukan” produk yang akan direview.
Kalau dalam contoh kasus artikel saya, ada konflik “man against man” misalnya seperti ini.
“Hingga tibalah malam itu. Saya pikir, barangkali malaikat maut masih bermurah hati pada saya. Saya hanya mendapat beberapa benjolan di kepala saja, tidak sampai cacat atau mati.”
Tapi ada kalanya konflik juga bisa diletakkan pada awal cerita, demi bikin pembaca kita lebih penasaran. Semacam prolog gitu deh. Misalnya, kalau dalam artikel mengenai kekerasan dalam rumah tangga ini, saya letakkan konflik “man against self” di awal cerita.
“Ada saatnya, perempuan rela ditampar bolak-balik, dipukuli hingga babak belur, dan diancam akan dibunuh, demi sebuah status; sebagai seorang istri, pacar, anak, atau apa pun. Apa yang menyebabkan para perempuan ini rela bertahan menjadi bodoh begitu?”
Conflict, in stories, is the engine that keeps them going forward. Konflik bikin ceritanya jadi seru.
Jadi, meski jika “hanya” bercerita mengenai perjalanan jalan-jalan di car free day, pastikan ada “kesulitan” di jalan. Misalnya, sudah kehausan tapi nggak juga nemu penjual minuman. Atau sudah mau berangkat, eh si kecil malah sakit perut. Dan sebagainya.
3. Solusi
Datang konflik, tentunya kemudian diikuti dengan solusi.
Mengapa dalam artikel Emaks harus ada solusi? Agar pembaca cerita Emaks bisa mengambil manfaatnya, bisa mengambil hikmahnya. Apa jadinya jika artikel storytelling Emaks tanpa solusi? Jadinya ya, sekadar curhatan.
Burukkah jika hanya sekadar curhatan? Nggak juga, saya nggak bilang itu buruk. Barangkali Emaks memang sedang mencari jawaban dan solusi, dan mungkin di antara pembaca artikel Emaks justru bisa membantu. Nggak salah kok 🙂
Jika memang demikian, ya leave this session saja. Nggak ada salahnya.
Namun, jika memang Emaks sudah menemukan solusi untuk konflik-konflik yang ada, maka akan lebih baik jika dituliskan juga. Supaya pembaca blog Emaks mendapatkan insight, pengetahuan, dan pengalaman baru juga bersama Emaks.
Biar nggak geje 😀
Dalam kasus artikel yang saya tulis ulang tersebut, solusinya adalah seperti ini.
“Akhirnya saya nekat lari dari rumah. Saat itu, dorongan yang membuat saya memutuskan pergi bisa dibilang hanyalah karena ketakutan yang memuncak. Juga untuk memberikan efek jera padanya. Bahwa saya sebenarnya bisa pergi, kapan pun saya mau dan kembali ke keluarga saya.”
4. Kesimpulan
Ada hikmah di balik setiap peristiwa. Setuju kan, Maks?
Apa hikmah yang Emaks dapatkan dalam kejadian yang baru saja Emaks ceritakan? Pelajaran apa yang dapat ditarik sehingga mampu memperkaya hidup kita selanjutnya?
Dalam artikel saja, kesimpulannya adalah seperti ini.
“Jangan takut untuk menjadi mandiri! Hal ini berlaku untuk apa pun status Anda semua. Menjadi istri? Jadilah istri yang mandiri. Sebagai anak perempuan? Jadilah anak perempuan yang mandiri.
Menjadi perempuan mandiri tidak melulu tentang menjadi perempuan superior, perempuan yang mempunyai segalanya di atas lelakinya. Banyak hal yang bisa membuat perempuan menjadi mandiri, dan salah satunya adalah dengan menjadi produktif.”
Setelah mengenali bagian-bagian di atas, baru Emaks kembangkan sedemikian rupa hingga menghasilkan artikel yang utuh. Jadi bagian perkenalan, konflik, solusi, dan kesimpulan tersebut memang merupakan outline cerita Emaks supaya lebih urut secara kronologis, sehingga cerita lebih mengalir dan enak dibaca.
Beberapa hal lain yang harus diperhatikan saat menulis storytelling articles adalah sebagai berikut:
- Simplicity is the best
Berceritalah dengan simple, Maks. Emaks kan nggak akan bercerita mengenai dunia fantasi macam Hogwarts kan? Atau tentang The Middle Earth? Emaks kan akan bercerita pengalaman sehari-hari?
Maka berceritalah secara sederhana, dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Meski pengalaman sehari-hari, pasti akan seru dibaca kalau Emaks bercerita dengan simple dan benar.
- No clichés
Perbanyak membaca, Maks, supaya Emaks punya perbendaharaan kata yang lebih kaya, juga perhatikan idiom-idiom yang kekinian. Semua itu adalah bumbu, yang akan membuat cerita Emaks lebih hidup dan menarik. Hindari ungkapan-ungkapan klise yang sudah so yesterday.
Be creative!
- Pertahankan kronologis cerita
Jika Emaks bercerita tidak dalam kronologis yang urut, pembaca akan lebih mudah lelah, Maks. Mereka serasa diajak melompat-lompat, belum lagi juga ada risiko #gagalpaham yang bisa saja membuat pesan yang Emaks sampaikan tidak terbaca dengan baik.
Sayang aja sama tenaga Emaks untuk menulis, kalau sampai pesannya nggak tersampaikan. Iya nggak sih? 🙂
*
Nah, gimana, Maks? Mudah kan ya, menulis artikel storytelling ini? Tapi, mungkin saking mudahnya, kadang banyak yang meremehkan beberapa hal yang bisa membuatnya semakin menarik dan lebih enak dibaca. Sayang banget aja gitu, kalau saya, Maks. Padahal pengalaman hidup orang itu bisa memperkaya diri kita sendiri lho.
Well, saya tunggu lagi cerita-cerita Emaks lainnya ya!
Ditulis oleh
Carolina Ratri
www.carolinaratri.com
untuk web Kumpulan Emak Blogger


I love storytelling , dan bingung kalau nulis listicle banget 🙂
Paling kagum sama penulis yg bisa mengkolaborasikan keduanya dengan manis, sepeti mbak Ratri ini.
Masih harus banyak belajar dan berlatih nih.
Semoga endingnya bisa tercapai. Bikin novel tebaaal yang enak dibaca berulang kali dan jadi teman sebelum going to bed. Amiin.
Sekarang berpetualang dulu di dunia blogging dan literasi.
Makasih ilmunya mbak Ratri.
Semoga segera bisa mewujudkan mimpi bikin novel ya, Maaak 😀 Amin!
Thanks for sharing Mba Ratri, pencerahan banget. Wah aku masih termasuk katagori yang mana yaa
Eh? Emang ada kategorisasi apa ya? Hahaha.
thanks tipsnya mbak carolin 🙂
makasih tipsnya mbak carra
saya juga termasuk yang storytelling mba kalau mau nulis diblog,.,karena lebih nyata aja tulisannya,heee tapi masih beginner sih jadi masih acak kadut susunan ceritanya,.,masih harus banyak belajar dan baca artikel kayak punya mba ratri,.,
Semangat ya! Banyak-banyak praktik nulis! :-*
Thank tipsnya mba Ratri
Trims mak, berguna banget buat saya yg suka story telling..masih brasa klo saya story telling di blog, ritmenya cepet, jadi bacanya ngos2an
Haha. Iya. Latihan terus, Mbak. Sama katakan pada diri sendiri, tenang, tenang. Nggak usah buru-buru nulisnya.
Soalnya biasanya kebawa sih, kalau kitanya buru-buru, ritme tulisan jadi ikutan cepet. 🙂
wah.. bikin penasaran kelanjutan gitu ya… , bercerita..menarik..
kalo aku belum pernah mikirin kronologi..he2
makasih udah sharing mba..
Kronologis cerita itu penting. Selain urutannya jadi nggak melompat-lompat, pembaca juga nggak gampang lelah baca. Bahkan bisa terlarut juga.
Keren mbak tipsnya.
Untuk blog, saya selalu sih sarankan untuk story telling – about me kalau bisa. Karena yang dicari dari blog itu sebenarnya kan pengalaman pribadinya. Kecuali ya kalau media online ya… beda dikitlah.
So far, yang laku untuk job review kan juga storytelling. Yang melibatkan pembaca dalam cerita, yang bercerita secara personal. Interaksi antara penulis dan pembacanya itu penting banget.
Point terakhir (Kesimpulan), jarang sekali saya selipkan dalam tulisan. Sepertinya lain aktu perlu saya tambahkan dengan yang satu ini juga.
Keren mbk..sangat membantu
haha, kesindir aku.
aku suka lompat-lompat klo nulis, hiks… tapi model storytelling gini biasanya mikirnya agak lama (klo aku sih), dan ntar hasilnya panjang banget. karena takut kepanjangan gitu akhirnya nulisnya dipersingkat. yeah, katanya pembaca web itu gak betah lama-lama baca liat layar…. #sigh
Aku banget mbaaa storytelling… tapi ya biasanya itu, tellingnya suka kebablasen, ngoyoworo kemana2 hehehee… Okesip, makasiy sharingnya mak, kudu banyak yg diperbaiki nih.
Makasih bnyk mbak ilmunya…
Meski cowok dan masih pemula dalam dunia blogging, saya sering berkunjung ke tulisan emak-emak yang jadi blogger. Cara emak-emak bercerita selalu membuat saya takjub dan kadang belajar dari emak-emak dalam menulis gaya storytelling.
Emang emak-emak yang jadi blogger selalu luar biasa dah, menginspirasi buat saya.
Mba Cara ini yg saya butuhkan.Sangat menginspirasi. Makaih ya mba
Saya emas-emas bukan emak-emak, tetapi ketika saya cari artikel seputar storytelling, saya terjebak di sini. Ngomong-ngomong terima kasih mbak/bu Ratri, infonya menarik sangat 😀
storytelling, salah cara penyampaian yang saya sukai. Walaupun kadang saya suka menggabungkan antara storytelling di awal dan listicle di akhir, biar lebih berwarna.
Mak gimana nih cara gabung jadi anggota KEB?
Udah punya blog (masih beginner) tapi belum gabung KEB.
Wahh makasih banget tipsnya mak, bermanfaat banget untuk akuhh
Emakss Carol keren dech…
Aku punya banyak draft tulisan storytelling…amburadul ga sempat ediiit..apalagi pembukanya, hiiks masih keki gitu. Hihihiii..
Lebih gampang buat journal ilmiah rasanya daripada storytelling
Thank youuu infonya Makin Carol…saved dulu.
Senengnyaaà dpet ilmu lg. Yihaaa.
Aku lg bljr jg nih Mak, bikin blogpost storytelling yg anti gagal paham. Yakni dg rajin mbaca. Tp utk saat ini baru bisa baca2 blog tmn2. Blm bs bac2 bukuk.
Makasih udh berbagi ya Mak